Edisi Si Petualang: Merambah Keelokan Hutan Kapuas Hulu


Halo

Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja sekaligus jalan-jalan gratis ke Kapuas Hulu, Kalimantan Barat selama hampir 2 minggu. Selama itu, saya menghabiskan waktu dengan tinggal dirumah kepala adat Suku Dayak dan juga dirumah tradisionalnya, namanya Rumah Betang.

Perjalanan diawali dari Jakarta menuju Bandara Supadio di Pontianak. Setelah menginap semalam di Hotel Santika, kami melanjutkan perjalanan dengan Kalstar ke Putussibau yang jarak tempuhnya adalah 1 jam. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil menuju Badau, kota kecil sekitar dua jam perjalanan dari Kuching, Malaysia.

Setibanya di Badau, kami langsung menuju rumah Pateh Ingkai, kepala adat Dayak Iban yang berdiam di dukuh Bunut Lalai, Kecamatan Bajau. Pateh Ingkai, tidak selazimnya pateh yang lain, sudah lama meninggalkan rumah betang (rumah tradisional dayak) dan tinggal dirumah sendiri. Langkah beraninya ini rupanya juga diikuti oleh rekan-rekan yang lainnya. Menurutnya, dia merindukan kedamaian dan ketenangan tinggal dirumah sendiri.

Dusun Bunut Lalau sendiri dikelilingi oleh Umai (ladang basah), tempat penduduk setempat menanam padi dan sayuran. Ya, Suku Dayak Iban hidup subsisten; dimana mereka cukup makan dengan padi dan sayuran yang dihasilkan diladang sendiri. Meski besar ladang mereka sekarang lebih kecil, namun berkat siraman ajaib pupuk dan pembasmi hama, hasil panennya justru lebih melimpah.

Image

Umai – area persawahan padi ladang

Dusun Bunut Lalau juga dikelilingi oleh hutan kemasyarakatan, atau bahasa lokalnya disebut Pengerang (bekas umai yang sudah berusia 10-20 tahun) dan Pulau (hutan simpanan). Selain itu, penduduk Dayak Iban juga memiliki tembawai-tembawai (bekas rumah panjang yang dibiarkan menjadi hutan, seringkali ditumbuhi pohon-pohon buah).

Image

Tembawai: bekas rumah panjang yang ditinggalkan menjadi hutan, seringkali ditumbuhi pohon buah-buahan.

Selain bercocok tanam padi, penduduk Dayak Iban juga bertanam Karet (pohon getah) dan Lada (pahang) di damun (bekas umai yang usianya lebih dari 3 tahun). Kedua jenis tanaman ini adalah sumber pendapatan tambahan yang digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari. Selain itu, dihutan juga tumbuh pohon buah-buahan seperti rambutan (sibau), durian (rian), manggis, langsat, cempedak, dll. Tentu saja, ketika musim panen- saat saya datang sedang HUJAN DURIAN HUTAN YAY- mereka akan menjualnya dipasar.

Image

Pohon langsat hutan

Image

Makan durian hutan ditepi sungai

Di desa sebelah, Sungai Telian; bahkan ada tradisi unik mengumpulkan buah durian. Setiap hari, 30 KK yang tinggal dirumah betang ini mendapatkan gilirannya. Bagi yang bertugas pada hari itu, mereka akan pergi bersama jam 4 pagi ke hutan untuk mengumpulkan durian. Lantas mengumpulkan hasilnya disebuah lokasi yang telah diberikan pancang-pancang kayu bernomor 1-30, menandakan masing-masing KK. Durian dibagi adil perpancang. Jika sisa, maka durian sisa akan dilotre bersama berdasarkan nomer urut tersebut.

Image

anak-anak menggambar di dalam ruai (ruang tamu rumah panjang)

Image

makan durian dari atas pondok, sambil melihat umai.

Tips

Jika ingin berpetualang, seperti saya, bawalah peralatan yang memadai. Pastikan sarung (untuk mandi), kelambu, kasur tiup, sleeping bag, mosquito repellent, sun block/tanning spray, topi ada ditas anda. Kalau anda pantang memakan babi (mayoritas Katolik), bawa makanan kering seperti abon sapi. Oh satu lagi, minum air putih banyak-banyak supaya tidak dehidrasi.

Demikian, salam si petualang.

Advertisements

3 thoughts on “Edisi Si Petualang: Merambah Keelokan Hutan Kapuas Hulu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s