A Family of Wanderlust: Tour de Ngapak-Ngapak


RM Ma' Pinah dan kolam teratainya
RM Ma’ Pinah dan kolam teratainya

Nah ini ceritanya tentang road trip terbaru kami bulan lalu dari Jakarta ke Jogja. Alkisah, karena alasan ke-samsat-an, kami harus membawa mobil kami yang berplat AB ke Jogja. Jadi dengan senang hati akhirnya kami memutuskan untuk mudik naik mobil.

Sesuai dengan hasrat mendalam dari saya, inginnya detour dulu ke Dieng. Awal perjalanan cukup lancar. Hari pertama tersebut kami berangkat dari Jakarta pukul 7.20. Tol Cikampek cukup oye walaupun sudah memasuki akhir pekan panjang.

Perjalanan mengalami sedikit kendala selepas tol Cikampek. Jalanan sangat padat merayap, ditambah lagi dengan adanya karnaval anak-anak TK menggunakan mobil pick-up, becak, dll. Untung Oliq cukup tenang dengan Lays-nya (jangan ditiru bunda panda!). Pamanukan juga ramai, namun masih cukup lancar. Pit stop pertama kami lakukan di Ma’ Pinah – mungkin masuknya daerah Subang.

RM Ma’ Pinah ini tempatnya cukup enak dengan saung-saung di atas kolam. Lebih nyaman daripada Pringsewu di Indramayu. Makanannya pun relatif cepat disajikan, rasanya juga cukup oke. Oliq dengan sukses membuang centhong nasi ke kolam ikan. Bapak dan simboknya – seperti biasa – pura-pura tidak tau (mohon jangan ditiru juga!).

Tol Palikanci cukup lancar. Lumayanlah, dengan dibangunnya tol ini kita jadi bisa menghindari tengah kota Cirebon yang selalu penuh sesak. Pit stop berikutnya adalah shalat dhuhur di Rest Area Palikanci. Coffee break untuk papa mama, pop mie break untuk Oliq.

Keluar tol Pejagan, mulailah Papa Krewel dengan hikmat mempercayakan masa depan kami pada GPS. Seperti sudah diduga, kesasar adalah hasilnya. Kami diarahkan untuk melewati Slawi menuju ke Wonosobo. Ini adalah rute jalur tengah, dan rute yang sangat tidak umum.

Kendala kemudian terjadi di kota kecil Slawi, ketika bapak polisi yang terhormat menilang kami. “Nyuwun ngapunten, mas. SIM kaliyan STNK-nipun.” Kami lurus di bundaran, padahal katanya tidak boleh. Yah baiklah, ini standar jebakan batman di kota kecil. Rambunya ndelik, ga keliatan. Akhirnya Puput harus bayar 100.000, dia cukup hepi karena ini tilang resmi. Sebagai informasi saja, suami saya memang punya bakat ditilang. Pernah dalam 1 km, dia ditilang 2 kali.

Entah kenapa kota Slawi tampaknya sangat luas. Mendung menggelayut. GPS mengarahkan kami pada sebuah jalan yang kurang meyakinkan. Karena pengalaman di masa silam, akhirnya kami bertanya pada seorang pemilik warung. Memang itu jalan ke arah Purbalingga.

Jalannya ternyata sangat panjang, dan petang pun menjelang. Jalan sepi berkelok-kelok. We were in the middle of nowhere. Tidak disangka tidak dinyana, saya melihat sebuah penginapan di pinggir jalan, di antara pohon-pohon besar dan pemandangan Gunung Slamet yang luar biasa menakjubkan. jambekembar

Ternyata penginapan berjudul Jambe Kembar di daerah bernama Belik ini jauh lebihh bagus daripada bayangan. Kamarnya baru, bersih, dengan 2 kasur double bed. Tidak ada TV, namun ada air panasnya. Tarifnya Rp 150.000 saja semalam. Itu sudah dapat makan pagi, welcome drink berupa teh panas, dan satu teko air panas beserta teh kopinya. Pelayanan yang memuaskan di tengah hutan.

Restorannya pun enak dan murah. Bahkan 1 piring tempe mendoan khas Banyumas yang terdiri dari 5 tempe lebar hanya Rp 5000. Saya ndomblong, karena di Jakarta biasanya Rp 2000 per lembar. Belik ini ternyata merupakan bagian dari Pemalang.

Setelah istirahat yang cukup nyaman tanpa gangguan nyamuk, kami melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Ternyata jarak antara Belik ke Purbalingga masih jauh. Coba kalo kami ga nemu si Jambe Kembar, hotel mungkin harus di Owabong dan bisa jadi tiba sudah larut malam.

Dari Purbalingga kami mengikuti arah ke Banjarnegara Gilar-Gilar. Seharusnya, setelah Banjarnegara ini kami akan ketemu Wonosobo. Ternyata sebelum sampai Wonosobo sudah ada plang arah Dieng. Jadilah kami belok mengikuti jalan gunung menuju Dieng. Pemandangannya luar biasa.

Karena Puput harus Jumatan, kami melakukan pit stop di sebuah masjid. Sementara Papa Krewel ke masjid, simbok dan Oliq berkelana mencari makan siang. Kami menemukan sebuah warung soto sapi. Ternyata soto di sana memakai lontong dan tauco, lho.

candioliqDieng ternyata tidak jauh lagi. Perhentian pertama kami adalah Candi Arjuna dan Museum Kailasa. Di kompleks candi ini Oliq senang sekali karena bisa berlarian setelah berjam-jam berada di mobil. Lokasi lainnya adalah Telaga Warna dan Kawah Sikidang. Ulasan tentang objek wisata di Dieng akan diceritakan dalam tulisan lain.

Ada beberapa kuliner khas yang patut dicoba. Salah satunya adalah mie ongklok khas Wonosobo. Selain itu ada juga buah carica, bentuknya seperti miniatur pepaya. Ada juga minuman purwaceng yang sepertinya bisa membuat laki-laki…ehmm….ga jadi deh!

Selesai berkunjung ke kawasan wisata Dieng, hujan deras turun. Jalan turun ke Wonosobo cukup mengerikan. Jarak pandang sangat pendek. Benar-benar bagai negeri di awan. Puput dengan yakin mengatakan bahwa kami akan langsung menuju Jogja, karena saat itu baru pukul 4 sore.

kledung pass, titik awal pendakian Sindoro Sumbing

Tiba di Wonosobo, kami melakukan pit stop untuk makan sore. Saat ini Puput sudah kurang meyakinkan lagi, bilang bahwa sepertinya harus nginep di Magelang. OK-lah kata saya, mungkin bisa mengajak Oliq ke Borobudur sekalian. Tidak berapa lama setelah makan, suami saya tersayang bilang, sepertinya harus mencari hotel di Temanggung. Ternyata, bahkan sebelum sampai Parakan pun kami sudah mencari hotel. Dieng Kledung Pass, hotelnya biasa saja, namun diapit oleh Gunung Sindoro dan Sumbing. Hasil paginya adalah, Oliq bentol-bentol digigit nyamuk.

Keesokan paginya kami berangkat menuju Jogja tanpa halangan yang berarti. 3 hari 2 malam dari Jakarta ke Jogja. Karena sebagian besar perjalanan ini menembus bekas Karesidenan Banyumas, maka saya sebut Tour de Ngapak-Ngapak. We are a family of wanderlust, we don’t mind getting lost…sometimes.

Advertisements

4 thoughts on “A Family of Wanderlust: Tour de Ngapak-Ngapak”

      1. dengan ulekan cabe rawit disambelnya 😀
        we gotta plan a roadtrip convoy, fella familly traveller.
        Tempat makannya harus berenti di pinggir jalan di tepi sawah in the middle of nowhere. Just like my parents did to me and my sisters when we had little happy feet.

        Like

      2. ah dari dulu ga pernah terealisasikan ya… mau ke mana? jangan cinangneng, puput udah mutung kasarung

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s