Traveling dengan Anak-Anak Part 12: Membuat Paspor Anak


Paspor adalah dokumen paling penting ketika akan pergi ke luar negeri. Bagaimana membuat paspor untuk anak-anak? Kami, para emak-emak keren berbagi pengalaman dan tips tentang pembuatan paspor untuk bayi dan balita. Namun, karena ada beberapa perbedaan peraturan di masing-masing kantor imigrasi, Anda tetap harus mengecek dokumen apa saja yang harus dibawa untuk proses pembuatan paspor ini. Mari bawa si Kecil keliling dunia!

———————-

Lala bersama Raissa dan Fiamma

Kalau mengerjakan hal dengan santai karena waktu yang leluasa itu memang se-su-a-tu ya. Bisa bikin awet muda karena tidak stress dikejar-kejar tenggat waktu. Begitu pula saat saya berniat membuatkan Fiamma, anak kedua saya, paspor. Saya sedang kerja dengan waktu yang sangat fleksibel, belum ada rencana berpergian ke luar negeri, dan kebetulan kantor imigrasi ada yang dekat tempat tinggal kami, sehingga bisa menyambi bikin paspornya. Setelah mengantar Raissa, si kakak, ke sekolah, ke imigrasi untuk memasukan dokumen, terus bisa tepat waktu jemput Raissa dari sekolah. Sangat berbeda ceritanya saat membuatkan paspor untuk Raissa. Saat itu saya hanya punya waktu kurang dari 2 minggu, buta dengan segala persyaratan membuat paspor anak, sehingga pontang-panting di setiap langkah untuk memenuhi persyaratan. Bahkan setelah mendapatkan bantuan kemudahan proses oleh imigrasi, paspor Raissa selesai tepat sehari sebelum berangkat ke Singapura. Sungguh olahraga ekstrim buat jantung orang tuanya. Jadi saran saya, segerakanlah membuat paspor, jauh-jauh hari sebelum ada rencana berlibur keluar negeri karena sebenarnya anak sudah bisa dibuatkan paspor dari usia baru lahir, namun saran saya kalau memang tidak terburu-buru lebih baik menunggu sampai anak berusia 6 bulan atau saat sudah bisa duduk.

Sebenarnya permohonan pengajuan paspor bisa dilakukan secara online terlebih dahulu, baru kemudian disusul dengan kedatangan ke kantor imigrasi untuk verifikasi data mencocokan fotokopi dengan dokumen asli, bila semua dinyatakan OK maka pemohon bisa langsung interview dan foto setelah membayar harga paspor di hari yang sama. Tetapi saya sengaja mengambil proses terpanjang dan terlama agar informasi ini bisa bermanfaat untuk mereka yang minim internet akses. Nah inilah jalur terpanjang yang saya lakoni, dimulai dengan menyiapkan dokumen persyaratan membuat paspor untuk anak. Berkas yang dibutuhkan adalah:

1. Kartu keluarga (KK) dimana anak terdaftar.

Ini yang benar-benar membuat kami kalang kabut saat membuatkan paspor anak pertama kami. Kami kira cukup dengan akte kelahiran ternyata anak harus memiliki NIK yang tercantum dalam KK. Mendaftarkan anak untuk dimasukan ke dalam KK cukup membutuhkan waktu karena jalur administrasi secara runutnya adalah:

1.1. Meminta surat rekomendasi dari RT

1.2. Membawa surat rekomendasi dari RT ke RW untuk meminta surat pengantar ke kelurahan (dalam kasus tempat tinggal saya setelah surat pengantar ditandatangan oleh ketua RW masih harus di cap lagi oleh sekretaris RW)

1.3. Mengajukan permohonan perubahan KK di kelurahan. Waktu untuk memproses pembuatan KK adalah sekitar 1-2 minggu, karena permohonan yang sudah disetujui oleh kelurahan harus diajukan lagi ke kecamatan dimana KK akan dicetak. Untuk kasus saya, kelurahan yang membawa berkas saya ke kecamatan namun beberapa wilayah ada yang meminta warga sendiri yang membawanya ke kecamatan.

Baru menulis sampai disini saja saya sudah ngos-ngosan. Kebayang sudah keliling menghampiri 3 rumah warga dan 1 kantor pemerintah (tambah 1 kalau seandainya harus ke kecamatan juga).

Setelah Fiamma terdaftar di KK keluarga kakeknya alias ayah saya, karena kebetulan saya dan suami belum memiliki kartu keluarga sendiri, barulah proses pembuatan paspor di imigrasi bisa dimulai.

2. Formulir permohonan pembuatan paspor.

3. Surat pernyataan persetujuan KEDUA orang tua diatas materai.

Untuk no. 2 dan 3 ini berkas dapat dibeli di koperasi imigrasi. Bahkan khusus untuk no. 3, saran saya beli saja template jadinya disana karena saat saya mencoba menulis sendiri surat pernyataan saat membuat paspor untuk anak pertama, surat saya dianggap kurang layak. Sedangkan kalau beli surat template di koperasi, template tersebut sudah ber-materai dan kita hanya perlu mengisi data yang diperlukan seperti nama, alamat dan no KTP orang tua lalu tanda tangan.

Karena kedua orang tua harus menandatangani surat pernyataan, sekali lagi saya tekankan, kedua orang tua ya jadi harus ada tanda tangan ayah DAN tanda tangan ibu, maka kecuali keduanya bisa hadir di kantor imigrasi dan langsung menandatangani surat tersebut, proses pengajuan berkas bisa dimasukan ke petugas imigrasi pada hari yang sama. Untuk saya yang punya segudang waktu dan suami yang susah mendapat ijin cuti, maka setelah membeli formulir dan template surat pernyataan siap isi kami pun pulang. Saya mengisi semuanya di rumah dan kembali ke kantor imigrasi dua hari kemudian, dengan membawa:

4. Akte kelahiran anak (fotokopi dan dokumen asli)

5. Buku nikah orangtua (fotokopi dan dokumen asli)

6. Paspor kedua orangtua (fotokopi dan dokumen asli)

7. KTP kedua orangtua (fotokopi dan dokumen asli)

8. Ijazah kedua orangtua (fotokopi)

9. KK ayah/ibu bila berbeda dengan KK anak (fotokopi)

Banyak sekali ya berkas persyaratan yang harus dilengkapi, jadi sebelum berangkat ke kantor imigrasi, periksa ulang dan pastikan semua sudah lengkap. Setelah semua berkas diajukan dan diterima oleh petugas imigrasi, pemohon akan mendapatkan lembar pembayaran yang hanya bisa dibayarkan setelah dua hari kerja. Kami pun meninggalkan kantor imigrasi. Hari itu waktu yang dihabiskan di kantor imigrasi hanya 1 jam saja.

Dua hari kerja berikutnya, saya dan Fiamma kembali untuk membayar Rp. 255.000 per paspor kemudian dapat menunggu jadwal interview dan foto di hari yang sama. Sebenarnya anak hanya perlu hadir pada jadwal interview dan foto saja, sedangkan saat pengajuan berkas dia tidak perlu hadir. Untunglah kantor imigrasi yang saya datangi sangat nyaman sehingga waktu menunggu untuk interview dan foto selama 2 jam tidak menyiksa. Setelah selesai foto dan interview, petugas memberi tahu bahwa paspor akan selesai dalam 4 hari kerja, dan kami pun pulang.

Seminggu kemudian kami kembali ke kantor imigrasi untuk menjemput paspor perdana Fiamma. Yaaayy. Negara mana ya yang pertama kali akan membubuhkan cap nya di buku hijau ini.

————–

Olen dan Oliq

Perjalanan untuk membuat paspor Oliq sudah direncanakan sebelum dia lahir. Bagaimana tidak, bahkan sebelum lahir kami sudah membuat agenda untuk terbang liburan tahun baru di Australia. Tiket untuk saya dan Puput sudah dibeli, untuk Oliq tentu saja masih harus menunggu setelah ia lahir karena kami bahkan belum menamainya.

Akhirnya setelah Oliq lahir pada bulan Juni 2011, kami masih harus menunggu proses pembuatan akte kelahiran yang ternyata butuh waktu sekitar 2 bulan! Sebagai informasi, walaupun kami hidup di Jakarta, khusus untuk kelahiran Oliq dilakukan di Jogja dan ia baru hijrah ke Jakarta setelah usia hampir 4 bulan. Jadi pengurusan paspor pun dilakukan di Jogja (bapak dan simboknya pun berKTP dan berpaspor Jogja).

Berbekal akte kelahiran yang masih gres, ditambah dengan Kartu Keluarga yang sudah diperbaharui (Oliq sudah dengan sukes dimasukkan dalam KK) kami berangkat ke Kantor Imigrasi DIY yang hanya berjarak 10 menit dari rumah kami. Seperti kata Lala, saat memasukkan aplikasi anak tidak perlu dibawa.

Berbeda dengan di Jakarta, kantor imigrasi Jogja melayani permintaan dari seluruh provinsi.

Di bawah ini hal-hal yang perlu dibawa:

1. akte kelahiran anak asli dan fotokopi

2. kartu keluarga baru asli dan fotokopi

3. KTP orangtua asli dan fotokopi

4. Paspor orangtua asli dan fotokopi (ketika itu paspor Puput masih ngekos di Kedutaan Inggris, jadi hanya pakai fotokopi paspor saja cukup)

5. formulir permohonan ditandatangani salah satu orangtua

6. buku nikah orangtua asli dan fotokopi

7. seingat kami tidak pakai surat kuasa

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya nama Oliq dipanggil. Semua dokumen diperiksa, dan yang asli dikembalikan. Kami diberi jadwal foto dan wawancara yItu 3 hari kemudian.

Menunggu jadwal foto ternyata jauh lebih memakan waktu. Saat itu banyak pemohon yang antri untuk mendapatkan paspor untuk pergi umroh. Selain itu kanor imigrasi Jogja juga sangat banyak melayani pemohon yang merupakan mahasiswa penerima beasiswa S2 di luar negeri. Alhasil, penantian panjang dengan bayi mungil terpaksa dilakukan. Oliq masih kecil jadi tidak terlalu merepotkan.

Ketika akhirnya dipanggil kami berbondong-bondong ke ruang foto. Oliq baru 2,5 bulan jadi belum bisa duduk. Kata petugas kalau bayi pose apapun sah. akhirnya Oliq digendong Papa Krewel dalam keadaan berdiri. Foto miring dengan rambut hanya dua jumput itu masih mengundang senyum serta komentar dari petugas check in dan imigrasi hingga saat ini.

Setelah foto ternyata harus menunggu sesi wawancara. Ini berbeda dengan saat terakhir saya perpanjangan paspor yang hanya melakukan antri satu kali. Tentu saja wawancara formalitas tersebut dijawab bapak ibunya.

Beberapa hari kemudian, pas umur Oliq 3 bulan kurang 1 hari paspor udah jadi. Di halaman terakhir tertera nama ayah ibunya. Di kolom tanda tangan distempel UNABLE TO SIGN.

Oliq siap untuk menjelajah dunia!

Advertisements

30 thoughts on “Traveling dengan Anak-Anak Part 12: Membuat Paspor Anak”

  1. Mba Lala, maaf mau tanya. Untuk pengisian Surat pernyataan persetujuan Kedua orang tua, data orang tua yang diisi salah satu (ayah/ibu) saja, atau harus dua-duanya? Mengingat kolom pengisiannya kan tidak terlalu panjang, dan tidak disebutkan harus diisi data kedua orang tuanya.

    Terima kasih banyak 🙂

    Like

  2. Salam kenal, Mas Ridwan.
    Utk surat pernyataan, yang jelas diwajibkan memang tanda tangan kedua orang tua diatas meterai dan saat penyerahan disertai dengan dokumen (fotokopi dan asli) identitas kedua ortu seperti yang saya list diatas.

    Sebenarnya saya lupa persisnya tapi rasanya saya mengisi data kedua ortu (saya dan suami) di surat pernyataan kami. Akan saya coba cek kembali dengan kenalan yang bekerja di imigrasi, dan bila sudah ada kepastian akan saya tuliskan klarifikasi nya disini.

    Like

      1. Mba Lala, terima kasih banyak atas informasinya (maaf saya terlambat replynya).
        Atas informasi dari Mba Lala, hari ini saya sudah menyelesaikan proses pembuatan paspor untuk anak saya. Tinggal ngambil minggu depan. Yipppie …..

        Like

  3. Mbak Lala,

    salam kenal ya.. saya mau buat paspor buat anak saya ke kanim jaktim, tapi katanya anak sudah harus terdaftar di KK yang sama dengan kedua orang tuanya. Kalau ortu masih dlm KK yang berbeda, nggak bisa katanya. apa betul begitu?

    Like

    1. Salam kenal, Ira. Menjawab pertanyaannya mengenai anak harus 1 KK dengan KEDUA ortu dalam kasus saya terbukti tidak berlaku. Keluarga skippintroupe belum memilki KK sendiri. KK saya dan suami masih pisah. Saya ikut KK ayah saya di Jakarta Barat dan suami masih tercatat di KK ayahnya (mertua saya) di Bandung.

      Tetapi anak memang harus tercatat di 1 KK dengan salah satu ortunya agar bisa memiliki NIK. Kedua anak saya tercatat di KK ayah saya.

      Menurut saya argumen petugas imigrasi kalau ortu dan anak harus dalam 1 KK baru anak bisa punya passport agak aneh ya. Kalau kedua ortunya tidak bersatu karena satu dan lain hal, lalu bagaimana nasib anaknya?

      Like

  4. salam kenal bu Lala… saya mau buat tanya ya…saya mau buat passport anak saya juga…tapi posisi suami saya harus kerja di papua..haruskah pembuatan passport di dampingin kedua orang tuanya atau hanya saya ibunya saja ? dan passport suami adanya foto copy saja krn yg asli di bawa ke papua. terima kasih….

    Like

    1. Lala-nya lagi entah di mNa ibu. Kalau pengalaman saya waktu itu paspor suami juga lagi di kedubes inggris, jadi cuma fotokopinya aja. Dan nggak ada masalah dengan imigrasi jogja.

      Like

    1. Dulu pas mau perpanjangan coba online tapi ruwet. Akhirnya manual. Kebetulan ktp jogja jd aku mending balik kampung drpd ngurus di jkt yg antrinya sereemmmm

      Like

    1. Sebenernya sih sama kaya paspor dewasa mak, asal dokumen kita (kk, akte) udah siap. Gapapalah 5 tahun sekali ini kan?

      Like

  5. wiuuuh….tengkyu marengkyu infonya ya sista.. lg binun mau bikinin paspor balita dan batitaku.. eh nemu disini.
    salam kenal ya mak olen n mak lala yg baek hatii… 🙂

    Like

  6. Mba sebelumnya saya mau berterimakasih atas infonya . Tapi saya mau bertanya apabila saya mendaftarkan sendiri , apakah saya harus meminta persyaratan orang tua / tanda tangan ? padahal orang tua saya yang menyuruh saya untuk membuat paspor sendiri karna kedua orang tua saya sibuk untuk bekerja .. Dan saya adalah seorang pelajar SMA KELAS 3 sekarang . dimohon jawabannya. Terimakasih 🙂

    Like

    1. Kalo udah di atas 17 th bisa bikin sendiri kok walau kemungkinan hrs ada pernyataan ortu krn blm ada pernyataan pekerjaan. Ortu cuma ttd aja. Coba cek di kt imigrasi ya. Selamat bikin paspor

      Like

  7. Mba olen, Kalau bikin paspor anak harus ada paspor kedua orang tuanya ya? Kalau cuma ada paspor ibunya aja gimana?
    Blm punya akta cerai, tp udah ga sama2 juga. Bingung deh isi tandatangannya gimana

    Like

  8. Mbaa saya mau tanya…
    Saya sekrng di malaysia
    Nah anak saya di padang
    Bagaimana caranya saya buat paspor anak saya yg mudah..
    Kalau pun saya harus pulng, pas lebaran itu di kasih jatah dua mminggu sama kantor suami…
    And anak saya ini dr suami saya yg pertama, sudah bercerai…
    Terimaksih sebelum nya mbak..
    Salam kenal…

    Like

    1. kalau bikin passpor prosedurnya standar, gak ada yg mudah.. ya harus datang ke kantor imigrasi, ngisi berkas, trus foto. Cuma emang gak satu hari jadi, tergantung antrian dan pelayanan di kantor imigrasi

      Like

  9. Saya mau tanya kalau suami posisi kerja di luar negeri dan berkas2 aslinya juga dibawa(kami cuma ada fotocopy saja) kira2 masih bisa nggak yaa bikin paspor utk anak..karena suami juga otomatis nggak bisa dampingin waktu ke kantor imigrasi..

    Like

    1. Dulu saya bisa dengan fotokopi paspor suami. Waktu itu paspor aslinya lagi di kedubes manaa gitu lupa buat apply visa. Dicoba aja seharusnya ga masalah buat kasus2 tertentu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s