Menikmati Kelezatan Kepiting Segar di Pantai Sadeng, Gunung Kidul


Pantai Sadeng merupakan pantai nelayan yang terletak di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Pantai ini terletak paling timur diantara pantai-pantai yang menjadi tujuan wisata di Gunung Kidul. Sebagai pantai nelayan, pesona utama pantai ini tentu ikan laut segar hasil tangkapan nelayan. Anda bisa mendapatkan berbagai hasil laut segar dengan harga sangat miring.

Kapal nelayan bersandar di Pantai Sadeng, Gunung Kidul

Letak Pantai Sadeng yang paling timur diantara pantai-pantai lain menjadikan perjalanan ke pantai ini terasa melelahkan. Dari pusat kota Yogyakarta, waktu tempuh bisa mencapai 2,5 jam menggunakan mobil pribadi. Anda bisa melalui jalan raya Yogya-Wonosari hingga mencapai kota Wonosari, kemudian belok kanan ke arah pantai Baron-Kukup. Setelah menyusuri jalan raya Baron-Kukup, Anda akan bertemu pertigaan, jika lurus menuju pantai Baron-Kukup, jika belok kiri menuju pantai Siung, Wediombo, maupun Sadeng. Anda tinggal belok kiri dan menyusuri terus jalan aspal tersebut. Rambu petunjuk cukup jelas, Anda tinggal mengikuti arah menuju Pantai Sadeng. Namun Anda harus menyetir dengan sangat hati-hati karena jalanan sempit, meskipun mobil bisa berpapasan, berkelok-kelok naik turun, dan banyak titik buta (blind spot) terutama di tanjakan-tanjakan tajam. Menjelang sampai, Anda akan berjalan disamping lembah yang dalam dan lebar, jadi Anda harus kembali ekstra hati-hati. Lembah ini sebenarnya adalah aliran sungai Bengawan Solo purba. Pemandangan sangat menakjubkan meskipun terlihat tandus karena berupa batuan kapur yang hanya ditumbuhi semak belukar.

Setelah lelah berkendara, akhirnya saya sampai di pintu gerbang Pantai Sadeng. Disini Anda hanya perlu membayar 5000 saja sebagai biaya parkir, sementara biaya masuk gratis. Umumnya, pantai-pantai di Gunung Kidul akan menarik retribusi 5000 rupiah per orang. Begitu masuk, Anda akan langsung berhadapan dengan sebuah pendopo tempat pelelangan ikan (TPI). Ada banyak ikan segar yang dijejer-jejer di lantai. Ikan-ikan ini masih segar dan berukuran cukup besar. Saya juga menemukan beberapa ikan hiu karang (reef shark) yang berukuran kecil. Waktu kami tiba, suasana cukup sepi, nampaknya para pedagang masih menunggu hasil tangkapan nelayan yang belum tiba.

Pantai Sadeng sendiri berupa teluk atau laut yang menjorok ke daratan. Daratan yang mengapit berupa karang-karang kapur seperti umumnya pantai-pantai di Gunung Kidul. Yang menarik adalah adanya penahan ombak yang dibangun di tengah teluk. Dengan adanya penahan ombak ini, ganasnya laut selatan bisa diredam dan ombak kencang tidak akan mencapai daratan langsung sehingga kapal-kapal nelayan bisa diparkir dengan tenang. Ada juga kapal cepat milik polisi air yang diparkir disitu. Selain penahan ombak, ada juga menara mercu suar yang dibangun di sebelah penahan ombak sehingga kapal nelayan bisa memperoleh panduan arah di malam hari.

Penahan ombak dan menara mercu suar di Pantai Sadeng, Gunung Kidul

Atraksi utama Pantai Sadeng sebenarnya adalah warung-warung makan di karang dekat penahan ombak. Umumnya pengunjung akan berjalan-jalan menyusuri penahan ombak sambil berfoto-foto, baru kemudian berbalik arah dan beristirahat di warung-warung. Pemilik warung akan memajang makanan laut, umumnya kepiting dan lobster. Pandangan saya langsung tertuju pada seekor kepiting merah yang berukuran cukup besar, lebih besar dari sebuah piring makan biasa. Kepiting-kepiting ini ditumpuk di sebuah piring dan kepiting terbesar ditaruh paling atas, terlihat sangat menantang dengan capit raksasanya.

Kepiting raksasa yang menggoda di Pantai Sadeng, Gunung Kidul

Awalnya saya ragu hendak makan di warung ini, karena dari pengalaman sebelumnya di pantai-pantai nelayan lain, harganya tidak bisa dibilang murah dan seringkali masakannya juga asal-asalan. Perkiraan awal saya, harga kepiting paling besar bisa diatas 100 ribu. Saya bilang ke istri, kalau harganya 200 ribu lebih mending tidak usah. Akhirnya istri saya bertanya harga kepiting paling besar dan ternyata sang penjual hanya menawarkan harga 30 ribu termasuk masak. Perkiraan saya, beratnya lebih dari 1 kg. Bahkan untuk kepiting yang lebih kecil, mungkin 2/3 nya, tapi tiga ekor sekaligus, hanya dihargai 50 ribu. Lalu kami juga bertanya harga nasi dan sambel, karena di pantai lain harga nasi yang ditembak. Kalau orang Jawa bilang, regane nuthuk (harganya mukul). Nasi ternyata hanya 2500 seporsi. Saya hanya melongo dalam hati, murah banget, gak salah nih. Akhirnya kami putuskan makan siang warung itu.

Suasana lesehan bawah karang di Pantai Sadeng, Gunung Kidul

Yang menarik adalah tempat makan di belakang warung yang terletak persis di bawah karang kapur. Karang ini tergerus ombak sehingga menyisakan celah di bawahnya. Para penjual cukup menggelar tikar di pasir putih bawah karang. Anda tidak perlu khawatir tersapu ombak, karena sejak dipasang penahan ombak, karang tersebut tidak lagi terkena terjangan ombak. Pengunjung bisa menunggu masakan sambil duduk-duduk di tikar dan terbebas dari panasnya terik matahari pantai. Sang pemilik warung langsung menyiapkan bumbu masakan dan memecah kepiting agar mudah dimakan.

Warung-warung yang menjajakan masakan laut di Pantai Sadeng, Gunung Kidul

Setelah menunggu kira-kira 20 menit, kepiting besarta nasi, sambel, dan lalapan siang dihidangkan secara lesehan. Saya langsung mencomot capit raksasa dan mengorek dagingnya. Woww, ternyata dagingnya sangat segar dan gurih meskipun bumbunya hanya sederhana. Ini adalah kepiting terenak yang pernah saya rasakan setelah kepiting segar yang biasa saya makan di Kalimantan. Karena saya lama bekerja di Kalimantan dan sering disuguhi kepiting segar yang langsung dipanen dari tambak, saya tahu persis kualitas kepiting yang sudah dimasak. Daging kepiting ini sangat lembut dan tidak berserat-serat seperti halnya kepiting yang kurang segar. Rasanya pun sangat gurih tanpa perlu bermacam-macam bumbu. Setelah mencicip kepiting, saya beralih ke sambel cobek. Rasa pedas menggigit langsung menyergap lidah saya. Luar biasa, jarang-jarang saya merasakan sambel sepedas ini, apalagi di Jawa. Sambel ini tampaknya menggunakan cabe rawit semua dan diolah dengan sederhana, tanpa banyak bumbu sehingga rasa pedasnya sangat kentara. Saya langsung bersemangat menyantap kepiting dengan sambel. Nasi yang dihidangkan pun cukup enak, tidak terlalu keras meskipun bukan dari padi kualitas atas. Sepertinya nasi ini dari padi gogo rancah yang memang cocok ditanam di iklim tandus seperti Gunung Kidul. Kami juga melahap tempe goreng yang sangat nikmat. Tempenya segar, bumbunya gurih, sangat pas dipadukan dengan kepiting dan sambel. Lalapan yang dihidangkan hanya potongan timun, namun sama sekali tidak mengurangi kenikmatan saya karena kepiting dan sambal yang luar biasa. Akhirnya, saya dan istri bisa meludeskan semuanya kecuali nasi yang masih tersisa sedikit. Benar-benar masakan yang luar biasa. Akhirnya tiba saatnya untuk menghitung ulang. Satu kepiting jumbo 30.000, nasi 2 porsi 5000, tempe 6 biji 3000, satu teh manis 1500, satu es kelapa muda utuh 8000, satu sambel gratis, satu lalap timun 2000. Total jenderal hanya 49.500 untuk berdua. Benar-benar makan siang yang mak nyusss. Kalau saya makan di restoran mewah di Jakarta, kepiting sendiri bisa diatas 500.000. Ibu penjual kepiting pun masih bersusah payah memberi saya kembalian 500 rupiah yang langsung kami tolak. Akhirnya ibu itu menawarkan untuk datang kembali lain waktu mengambil kembaliannya. Kami pun mengiyakan dan berharap semoga masih bisa mengunjungi dan menikmati hidangan laut di Pantai Sadeng lain waktu.

Jadi, jika Anda mengaku penggemar berat kepiting dan lobster, Anda tidak boleh melewatkan Pantai Sadeng jika berkunjung ke Yogyakarta. Jauhnya jarak tempuh akan terbayar begitu Anda melahap lezatnya capit kepiting dan pulang dengan tersenyum mengingat harga yang harus dibayar untuk kelezatan hidangan laut yang segar.

Advertisements

15 thoughts on “Menikmati Kelezatan Kepiting Segar di Pantai Sadeng, Gunung Kidul”

  1. Memang banyak yang unik di Gunungkidul. Apalagi jika pelancongnya jago nulis kayak Mas ini, kekhususannya tambah menyeruak ke permukaan. Keren banget deskripsinya Mas. Like it…

    Like

    1. Thanks… memang Gunung Kidul sangat unik dan menarik… semoga makin banyak tempat menarik di Gunung Kidul, jadi kami bisa kesana dan mengabarkan ke khalayak agar makin menyeruak… tetap kunjungi blog ini ya…

      Like

    1. Makasih… memang harus dijelaskan sedetil-detilnya, agar orang-orang makin tertarik dan berkunjung ke Sadeng dan Gunung Kidul… tetap kunjungi blog ini yaa…

      Like

  2. Sungguh bangga dengan suamiku yg mampu memanfaatkan waktu menunggu di bengkel untuk menciptakan sebuah mahakarya bercapit raksasa seperti ini

    Like

    1. Bener banget, masih banyak tempat eksotis Gunung Kidul yang belum tereksplor… kalau ada info tempat menarik baru, kabarin ya, nanti kami akan kesana… tetap kunjungi blog ini ya

      Like

  3. Kalau dilihat dari fotonya, itu bukan kepiting tetapi RAJUNGAN, warnanya biru keunguan dan ada tutul-tutulnya, hidupnya di pantai, kalau kepiting di air payau. Dagingnya memang lebih utuh dan lebih manis daripada Kepiting. Paling enak kalau cuma dibakar saja di bara api, rasanya asli Rajungan tanpa bumbu jauh lebih uenak.

    Like

    1. Wah, nampaknya mas Joseph memang pakar per-kepiting & rajungan-an.. makasih koreksinya mas, memang bener kepiting hidupnya di air payau.. dagingnya memang lebih lezat… Nanti lain kali saya akan minta dibakar saja biar lebih enak lagi…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s