Backpackology, sebuah gaya hidup masa kini


Alhamdulillah, tak terasa blog ini telah mencapai lebih dari 100.000 hits atau kunjungan. Sebuah angka yang bagi kami terasa sangat spesial karena untuk sebuah blog personal pencapaian tersebut tidak mudah, butuh komitmen dan konsistensi tersendiri. Karena itu kami sajikan tulisan spesial mengenai makna dibalik nama blog ini, backpackology.

Oliq the backpacker. Backpackology atau ilmu tentang petualangan bisa diajarkan sejak dini

Secara bahasa, backpackology berasal dari kata backpack dan logy. Backpack sendiri berarti tas ransel atau tas punggung, dan logy berarti ilmu. Backpackology bisa diartikan sebagai ilmu tentang tas ransel. Sesederhana itukah? Tentu tidak, sebenarnya backpackology lebih mudah diartikan sebagai suatu aliran, cara, atau bahkan gaya hidup tentang wisata, jalan-jalan, atau bepergian secara independen. Bisa juga diartikan ilmu tentang petualangan. Kata backpack atau ransel dipilih sebagai lawan dari koper. Ransel merupakan lambang pelancong yang independen, bebas, seringkali identik dengan anti kemapanan, sementara koper merupakan lambang pelancong yang rapi, terorganisir, dan mapan.

Sebenarnya backpack atau ransel atau carrier dipopulerkan oleh kelompok pendaki gunung. Medan pendakian yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki memaksa mereka menggunakan tas yang digendong di punggung, bukan ditenteng dengan tangan apalagi diseret, karena tangan harus bebas untuk membantu pendakian ketika melewati jalur yang terjal dan sulit. Dari sinilah istilah tas punggung atau backpack muncul. Backpack atau carrier ini seringkali berukuran besar dan tinggi, kadang-kadang melebihi tinggi si pemakai, sehingga terlihat sangat mencolok. Tak heran jika istilah backpacker sebenarnya awalnya disematkan pada kelompok pendaki gunung. Kesan pendaki gunung yang gagah dengan tas ransel yang besar dan tinggi seolah-olah menginspirasi kelompok lain untuk mengikuti gaya mereka. Kelompok ini menerjemahkan gaya pendaki gunung dalam kegiatan jalan-jalan dengan cara menggunakan tas ransel sebagai ganti koper, serta tidak terikat pada agen perjalanan dalam menentukan tujuan dan metode perjalanan mereka. Karena kebiasaan memakai tas ransel atau tas punggung inilah akhirnya mereka dikenal dengan nama backpacker.

Kelompok pendaki gunung yang selalu membawa ransel alias backpack, menjadi inspirasi lahirnya kaum backpacker

Di Indonesia sendiri sebenarnya aliran backpacker masih relatif baru dibanding dengan negara lain, terutama negera barat. Budaya masyarakat yang gemar berkumpul juga berimbas pada gaya bepergian yang senang beramai-ramai. Kita masih sering menjumpai kelompok wisata dengan bis besar, entah dari sekolah yang sama, satu keluarga besar, satu kantor, maupun dari lingkungan yang sama. Namun seiring kemajuan jaman, terutama perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, aliran backpacker mulai diminati kalangan umum selain kelompok pecinta alam. Kemudahan memperoleh informasi, terutama dari internet, mendorong individu-individu dan kelompok kecil untuk bepergian sendiri tanpa mengandalkan agen perjalanan. Adanya buku panduan wisata yang komprehensif juga makin mempermudah akses informasi tanpa tergantung pada internet.

Era penerbangan murah dengan kemudahan pemesanan tiket online juga menjadi revolusi tersendiri. Kalangan umum yang awalnya menganggap pesawat sangat mahal kini mulai beralih mencoba pesawat, apalagi banyak maskapai berlomba-lomba memberikan tarif promo yang sangat murah. Maskapai-maskapai ini juga mencari celah pasar dengan menggandeng hotel-hotel murah dan berbagai paket wisata terjangkau yang makin lama mampu membuat wisata menjadi sebuah kebutuhan. Dalam perkembangannya, tidak hanya maskapai penerbangan yang menawarkan pemesanan tiket online, namun juga hotel dan destinasi wisata. Kini, agen online juga bermunculan menawarkan hotel dan paket wisata dengan harga sangat terjangkau dengan berbagai kemudahan. Layanan peta online juga memberikan kemudahan tersendiri bagi wisatawan yang hendak menuju suatu lokasi yang masih asing.

Namun, berbagai kemudahan informasi ini tidak serta merta membuat suatu perjalanan menjadi sangat mudah. Ada banyak hal yang sering tak terduga, misalnya tersesat di jalan, pesawat terlambat, hotel tak nyaman, yang justru bisa memberi warna tersendiri. Keterbatasan waktu, dana, serta pilihan layanan yang tersedia membuat kegiatan jalan-jalan menjadi sebuah tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Meramu segala keterbatasan menjadi sebuah petualangan yang tak terlupakan adalah seni tersendiri. Destinasi wisata bukanlah tujuan utama seorang backpacker, namun proses yang dimulai dari  saat-saat merancang sebuah perjalanan kemudian menjalaninya dengan berbagai rintangan, menjadi sebuah kenikmatan yang unik. Bagi kami, berbagi pengalaman yang berharga kini menjadi suatu kebahagiaan dan kepuasan yang tak ternilai. Oleh karena itu, kami hadirkan blog ini sebagai sarana berbagi pengalaman, tak hanya tujuan wisata namun juga tips dan triks yang mungkin akan sangat berguna bagi Anda. Semoga perjalanan kami masih terus berlanjut, dan demikian pula kisah-kisah yang akan mengisi ruang dalam blog maupun buku-buku selanjutnya.

Advertisements

2 thoughts on “Backpackology, sebuah gaya hidup masa kini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s