Traveling dengan Anak-Anak Part 11: Menikmati Waktu Menunggu


Pernahkah mendengar ada orang yang punya hobi menunggu? Saya belum pernah dan sepertinya menikmati itu suatu hal yang sulit. Padahal saat traveling pasti seringkali dipaksa menunggu. Menunggu boarding minimal 2 jam setelah check-in untuk penerbangan internasional. Menunggu saat jadwal penerbangan atau keberangkatan kereta terlambat. Atau menunggu saat transit

ditengah rute penerbangan. Hal-hal berikut yang biasa saya lakukan saat harus menunggu ketika sedang traveling:

1. Executive lounge

Ini rahasia saya: saya banci executive lounge. Walau saat travelling saya harus berburu tiket termurah, tapi saat di airport saya rela mengeluarkan uang untuk bisa masuk executive lounge. Syukur-syukur bisa masuk gratis karena fasilitas dari kartu kredit atau frequent flyer airlines dimana saya menjadi anggota. Banyak yang mengira akses masuk ke executive lounge itu mahal, padahal harganya sangat terjangkau apalagi bila memperhitungkan layanan yang tersedia. Rata-rata harga masuk ke executive lounge kebanyakan airport di kota besar di Indonesia berkisar antara Rp. 60,000 – 80,000. Setelah membayara, tamu dapat menikmati duduk di sofa nyaman dalam ruangan ber-ac, free wifi, TV, dan tersedia hidangan buffet all you can eat and drink untuk dinikmati. Memang biasanya rasa dari makanannya standar banget, tapi sampai saat ini saya belum menemukan restoran bandara yang menyediakan makanan enak. Harga makanan di restoran bandara pun bersaing dengan harga masuk executive lounge, padahal area duduknya kurang nyaman. Keuntungan masuk ke executive lounge juga adalah area menunggunya yang tentunya lebih bersih dan lebih sepi daripada di koridor terminal, sehingga lebih leluasa buat anak-anak bermain dan lebih nyaman untuk ibu-ibu yang masih menyusui.

2. Memperpanjang waktu transit

8 jam jalan-jalan di Dubai

Beberapa maskapai penerbangan akan “memaksa” penumpangnya untuk mampir dan transit di home airport mereka. Misalnya: Emirates Airlines di Dubai, Etihad Airways di Abu Dhabi, atau Qatar Airways di Doha. Biasanya minimal waktu stopover sekitar 4 jam. Kalau memang itinerary menuntut untuk melakukan transit tersebut, bila tidak dikejar waktu maka saya memilih untuk mengambil waktu mampir terlama, misalnya 10 jam. Dengan demikian saat mampir saya dan keluarga punya waktu untuk jalan-jalan keluar airport.

Sebelum berangkat, cari informasi atau tanya kepada petugas airlines apakah ada fasilitas yang disediakan untuk traveler saat sedang transit. Sebagai contoh, bandara Changi menyediakan 2-jam Free Singapore City Tour untuk traveler dengan waktu transit minimal 5 jam.

3. Menunggu jam check-in hotel

Sebagai traveler dengan budget pas-pas an, saya sangat hitung-hitungan soal hotel. Sebisa mungkin saya masuk tepat diawal boleh mulai check-in dan paling ogah kalau check-in tengah malam, kecuali hotelnya dibayarin atau harganya amat sangat murah. Sayangnya, karena harus memilih tiket dengan harga termurah maka waktu ketibaan bisa tengah malam sedangkan jam check-in hotel biasanya jam 12 siang. Kalau sudah begitu, apabila bandaranya nyaman dan bersih seperti Changi dan Dubai maka saya akan memilih tidur di bandara sampai waktu subuh sebelum keluar imigrasi dan pergi menuju kota untuk mencari sarapan murah. Sebagai antisipasi menginap di airport, kebutuhan untuk membuat nyaman anak-anak seperti selimut, bantal, baju ganti, pampers, dan toilettries harus dibawa ke kabin.

Menginap di Changi

Untuk saya dan anak-anak, dengan melakukan hal-hal diatas, masa menunggu bisa kami maksimalkan sebagai waktu untuk beristirahat dan meluruskan kaki saat menempuh perjalanan jauh belasan jam. Setelah berjam-berjam dalam pesawat, anak-anak selalu terlihat senang saat mendapat kesempatan untuk berlarian di bandara.

Cerita di atas ditulis oleh Lala Amiroeddin. Kunjungi juga blog Lala di Skippin Troupe

————–

Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Bila orang dewasa saja bosan, apalagi anak-anak. Dalam bepergian kita kerapkali harus menunggu di bandara. Untuk penerbangan internasional, waktu menunggunya pun biasanya lebih lama karena kita dituntut untuk datang lebih awal. Apalagi kalau pesawat delay, wah masalah nih!

Tapi jangan khawatir, ada banyak cara agar menunggu menjadi tidak terlalu membosankan lagi. Karena, anak yang bosan akan cenderung cranky. Dan dengan anak yang jengkel, orangtua akanlah ikut-ikutan jengkel dan bahkan panik.

Di bawah ini beberapa pengalaman saya harus menunggu di bandara sambil “ngangon” Oliq.

Berjalan-jalan

Nonton pesawat

Berjalan-jalan di sini maksudnya ada beberapa hal. Bisa jadi Anda atau pasangan Anda menggendong anak dan berjalan-jalan berkeliling bandara. Bisa jadi anak Anda berjalan-jalan sendirian ke sana kemari – tentu saja sambil Anda perhatikan. Atau, untuk anak yang belum dapat berjalan, bisa berarti merangkak-rangkak ke sana kemari. Aktivitas ini multifungsi lho, selain mengatasi kebosanan anak dan orangtua, juga (sesuai dengan prinsip yang dianut teguh oleh Lala) membuat anak kelelahan sehingga ia akan tertidur di pesawat.

Melihat-lihat

Di beberapa bandara, ruang tunggunya agak terhalang sehingga pemandangan ke luar sangat terbatas. Ini harus Anda siasati dengan mengajak anak melihat-lihat toko atau gambar-gambar, atau bahkan orang. Anak saya kebetulan sangat suka melihat pesawat. Di bandara yang pemandangannya luas seperti Haneda Tokyo, dia tidak bosan-bosannya menempelkan muka di kaca untuk melihat pesawat. Di bandara LCCT Kuala Lumpur, Oliq malah heboh melihat mbak-mbak petugas AirAsia. Yah, yang penting tidak rewel lah.

Bermain

Dapat teman baru di T3 Soetta

Tentu saja bermain adalah aktivitas utama anak-anak. Ke mana pun Anda pergi, mainan untuk anak harus dibawa. Tidak perlu banyak, hanya mainan favoritnya saja. Untuk Oliq pada masa sekarang , ini artinya adalah boneka tikus (yang sempat menghilang di Batam dan emaknya harus menyusuri kota untuk menemukannya teronggok di tengah persimpangan jalan). Sedikit kabar baik untuk ibu-ibu dan bapak-bapak, di Terminal 3 Soekarno Hatta sudah ada ruang bermain anak – setelah pintu keberangkatan sebelah kanan sebelum eskalator naik ke ruang tunggu. Walaupun sederhana, lumayan bisa menyenangkan anak-anak.

Belajar

Ini bisa berarti menggambar, mewarnai, bernyanyi atau yang lainnya. Bagi saya mungkin juga mengajarkan perbendaharaan kata baru untuk Oliq. Bisa juga mengajarkan cerita. Bapaknya Oliq sering juga memutarkan Al Quran di iPad.

Aktivitas umum

Memberi makan, memberi susu maupun ASI, memberikan makanan ringan atau mungkin juga tidur. Pokoknya hal-hal mendasar yang dilakukan orangtua pada anaknya, baik ketika sedang bepergian maupun tidak.

Ada lagi kegiatan yang dapat dilakukan saat menunggu di bandara?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s