Beribadah Umrah Membawa Bayi, Sedikit Repot Banyak Barokah


Alhamdulillah. Kata itu terucap dalam hati ketika saya tiba di hadapan Ka’bah di Masjidil Haram. Alhamdulillah tidak hanya saya dan suami dapat berkunjung ke Baitullah, melainkan dengan bayi kami yang pada saat itu berusia 11 bulan. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melancarkan perjalanan keluarga kecil kami ini untuk pergi beribadah umrah.

Sebenarnya niat untuk menjalankan ibadah umrah ini sudah ada pada tahun lalu. Namun, karena pada waktu yang sudah ditetapkan saya mengandung tujuh bulan, rencana terpaksa tertunda satu tahun. Ternyata penundaan tersebut justru membawa berkah karena kami dapat membawa serta si Kecil ke Baitullah. Thariq Naveed Risanto (Oliq), usia 11 bulan, akan berkunjung ke rumah Allah!

Apa tidak repot? Pertanyaan tersebut datang dari teman di tanah air maupun beberrapa kenalan yang kami temui di Arab Saudi. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tentunya bersifat retoris. Tentu saja repot, namanya juga membawa bayi! Tetapi tentu saja hal tersebut tidak akan mengurangi kekhusyukan beribadah dan kebahagiaan karena telah diberi kesempatan berumrah sekeluarga.

Saya berharap tulisan ini mampu mendorong para orangtua untuk dapat membawa serta putra-putri kecil mereka untuk melaksanakan ibadah umrah bersama. Lebih repot memang benar, tapi tidak mustahil. Dan yang jelas, lebih berkesan!

Madinah dan Indahnya Masjid Nabawi

Pesawat yang membawa kami dari Jakarta ke Jeddah tiba sekitar pukul 22.00 wakt u setempat. Setelah menempuh perjalanan sembilan jam ditambah dengan proses imigrasi dan bea cukai, tentu saja seluruh rombongan terlihat lelah. Hanya anak saya, yang tadinya agak rewel di pesawat, justru ceria merangkak di pelataran Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah.

Istirahat harus dilakukan di dalam bus yang mengangkut kami dari Jeddah menuju ke Madinah. Para jamaah yang lain langsung terlelap begitu kendaraan mulai berjalan. Untunglah si kecil yang di dalam pesawat susah tidur, justru terlelap dengan nyenyak di atas pangkuan saya. Tentu saja saya harus banyak-banyak minum air putih dan susu, karena selama perjalanan masih terus menyusui anak saya.

Kelelahan langsung terhapus ketika kami melihat indahnya Masjid Nabawi, padahal waktu sudah lewat tengah malam. Hotel hanya berjarak satu blok, sehingga pemandangan Masjid Nabawi hampir-hampir tidak terhalang. Oliq pun tampak terkesima melihat masjid Rasulullah dengan kubah berwarna hijau tersebut.

Selama beberapa hari di Madinah, kami mendapatkan kesan betapa teraturnya kota ini. Masjid Nabawi pun sangat nyaman. Bagian shalat untuk perempuan dan laki-laki dipisahkan agak berjauhan. Sementara itu pelatarannya sangat luas, di mana banyak orang dapat beristirahat di antara dua waktu shalat. Payung-payung besar menaungi halaman masjid dari sengatan matahari Madinah. Di siang hari, banyak musafir yang duduk-duduk sembari minum air zam-zam yang disediakan secara cuma-cuma.

Selama di Madinah kami juga berkesempatan mengunjungi beberapa masjid antara lain Masjid Quba. Masjid tertua di dunia ini dibangun ketika Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Shalat dua rakaat di masjid ini pahalanya senilai dengan umrah. Saya dan suami pun shalat bergantian karena salah satu harus menjaga anak.

Masjid lain yang sempat kami lihat adalah Masjid Al Qiblatain, yang arti harfiahnya adalah “dua kiblat”. Alkisah dahulu kiblat masjid ini mengkadap ke Masjidil Aqsa di Palestina. Namun Rasulullah kemudian memerintahkan untuk mengubah kiblatnya agar menghadap ke Masjidil Haram di Mekkah.

Sungguh indah bisa mengenalkan masjid-masjid tertua di dunia – yang sangat penting bagi umat Islam – kepada anak kami. Dia mungkin belum paham, tapi insya Allah apa yang sudah ia lihat dan rasakan akan terus tertanam dalam dirinya.

Hanya ke Ar-Rawdah, saya memutuskan untuk menitipkan Oliq pada ayahnya dan ibu mertua. Ar-Rawdah adalah tempat di mana makam Nabi Muhammad SAW berada, berada di tengah-tengah masjid Nabawi. Untuk ke sana jamaah harus mengantri dan berdesak-desakan – terutama bagi perempuan. Mengantri pun didasarkan negara asal jamaah, dan Indonesi a hampir selalu berada di paling belakang. Akhirnya setelah mengantri selama dua jam, saya dapat shalat dua rakaat di ar-Rawdah, walaupun sangat sulit untuk bersujud karena berdesakan.

Terpesona Keindahan Masjidil Haram

Ibadah umrah sendiri akan dimulai pada hari kami berangkat dari Madinah ke Mekkah. Semua jamaah telah mengenakan pakaian ihram. Perjalanan ke Mekkah ditempuh selama 5 jam, namun sebelum itu rombongan berhenti untuk melakukan miqat di Dhul Hulayfah atau Bir Ali. Masjid ini terletak sekitar 9 km dari Madinah.

Jamaah tiba di Makkah pada sore hari. Saat menginjakkan kaki pertama kali di halaman Masjidil Haram kami semua terpesona akan keindahannya. Hampir menangis saya melihat bayi yang belum genap satu tahun ini melongo melihat keindahan Masjidil Haram di kala senja. Lampu-lampu yang sangat terang seolah tidak membedakan antara siang dan malam. Dia menengok ke sana kemari melihat suasana terang benderang dengan jutaan orang berkumpul menjadi satu. Alhamdulillah ya Allah!

Pengalaman saya di Masjidil Haram – dan juga di Masjid Nabawi — mungkin karena membawa bayi, seringkali ada yang menghampiri untuk memberi kurma, roti, permen, dan sebagainya. Ada juga yang hanya ingin memotret anak saya. Banyak juga yang menghampiri kemudian mendoakan Oliq sambil mencubit pipinya. Pernah suatu hari ia sampai menangis gara-gara terlalu sering didatangi orang dan dicubit pipinya.

Ibadah Umrah dan Shalat Sambil Menggendong Bayi

Umrah kami laksanakan ba’da Isya. Si kecil ternyata menolak digendong ayahnya. Terpaksa saya harus menggendongnya sendiri ketika melakukan tawwaf. Mengitari Ka’bah tujuh kali sambil menggendong bayi bukanlah hal yang berat. Ia bahkan sempat tertidur di gendongan. Baru ketika tawwaf hampir usai, anak saya mulai agak rewel karena tidak tahan dengan hawa yang sangat panas. Saat itu suhu udara berkisar 42 derajat Celcius.

Namun tawwaf selesai dan kami melanjutkannya dengan shalat dua rakaat. Shalat saat itu harus saya lakukan sembari duduk dan menyusui. Selama menjalani rangkaian ibadah umrah ini saya memang kerapkali harus shalat sambil duduk ataupun sambil menggendong anak. Ada beberapa tuntunan yang mengajarkan cara shalat yang baik sambil menggendong bayi. Namun untuk seusia anak saya, sangat sulit menerapkannya karena tingkah polahnya yang sudah banyak. Hanya pada saat ia tidur saya dapat menjalankan shalat sambil menggendongnya.

Ketika melakukan sa’i dari Safa ke Marwah, saya dan suami bergantian menggendong Oliq. Tampaknya anak kami sangat menikmatinya. Walaupun malam telah larut, ia tidak tidur melainkan tertawa-tawa. Saat yang paling ia nikmati adalah ketika digendong ayahnya sembari berlari-lari kecil. Udara yang panas memaksa kami untuk beberapa kali berhenti dan meminum air zam-zam. Alhamdulillah sa’i selesai dilakukan dengan lancar ketika jam menunjukkan pukul 00.30.

Prosesi selanjutnya adalah memotong rambut atau tahalul. Jamaah perempuan dengan mudah dipotong sedikit rambutnya oleh para mahram. Sementara itu kaum laki-laki menuju ke sebuah kedai pangkas rambut di dekat hotel. Anak saya pun ikut dipangkas habis rambutnya. Si tukang pangkas rambut hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mencukur gundul Oliq – kejadian yang memancing perhatian banyak jamaah lain karena si Kecil menangis menjerit-jerit. Syukurlah, ibadah umrah telah selesai.

Tur Keliling Mekkah dan Susu Unta

Ketika ibadah wajib telah terlaksana, kini tinggal menikmati kota Mekkah al Mukaramah. Berbeda dengan Madinah, kota Mekkah memang kurang teratur. Selain itu di sekeliling Masjidil Haram, banyak hotel-hotel dan bangunan lain yang sedang diruntuhkan sebagai bagian dari perluasan masjid.

Tur keliling Mekkah meliputi kunjungan ke Mina, Arafah, Jabal Rahmah, Masjid Hudaibiyah dan sebagainya. Tentunya senang dapat berkeliling tempat-tempat yang sangat bersejarah bagi kaum Muslim. Insya Allah suatu saat nanti kami akan kembali untuk menjalankan ibadah haji.

Salah satu lokasi yang tidak dilewatkan adalah peternakan unta yang dikelola oleh orang-orang Badui. Suku Badui di Arab masih menganut prinsip nomaden, yaitu hidup berpindah-pindah. Di peternakan-peternakan ini susu unta diperas dan langsung dapat dinikmati tanpa dimasak. Rasanya seperti santan encer. Walaupun setelah dimasak, anak saya tidak mau mencicipinya, dan lebih memilih air susu ibunya.

Ballad dan Laut Merah

Jeddah menjadi perhentian terakhir sebelum kami meninggalkan Arab Saudi. Jarak antara Mekkah tidak terlalu jauh. Jamaah diberi kesempatan untuk berbelanja di Corniche Commercial Center di Ballad. Kebetulan kami kurang suka berbelanja sehingga hanya keluar dari bus untuk melihat-lihat dan mengambil gambar.

Ballad ini mungki menjadi tempat favorit para ibu-ibu karena ada beraneka barang dagangan yang menarik. Mulai dari kurma, kacang pistacho, kacang Arab dan cokelat untuk oleh-oleh orang terkasih di tanah air, baju gamis, boneka, mainan anak, hingga wewangian bermerk. Barang elektronik dan jam tangan juga menjadi komoditas utama pusat perbelanjaan di Ballad.

Dalam perjalanan menuju ke bandara, kami juga mendapat kesempatan untuk berkunjung ke masjid terapung yang terletak di pinggir Laut Merah. Masjid yang sering disebut Masjid Putih ini diwakafkan oleh seorang perempuan dan kini menjadi salah satu atraksi utama ibukota Arab Saudi.

Kiat Membawa Bayi saat Beribadah Umrah

Salah satu tantangan paling berat dalam membawa bayi melakukan ibadah umrah adalah perjalanan yang panjang. Terbang dari Jakarta menuju Jeddah dan sebaliknya membutuhkan waktu lebih dari 9 jam, apalagi bagi anda yang tinggal di kota-kota selain Jakarta. Belum lagi ditambah dengan waktu transit, menunggu, imigrasi, dan sebagainya yang tentu saja membutuhkan waktu berjam-jam. Orang dewasa saja pasti lelah, apalagi anak-anak terutama bayi.

Bayi dan balita memiliki kepekaan yang lebih tinggi dalam merasakan perbedaan tekanan udara. Oleh karena itu kita perlu memberi perhatian lebih. Mungkin balita yang sudah sering dibawa bepergian dengan pesawat terbang akan lebih terbiasa, namun bukan berarti itu jaminan anak tidak akan rewel sama sekali. Sebelum berangkat umrah, anak saya sudah terbiasa terbang Jakarta-Yogyakarta dan beberapa kota lain dengan pesawat. Selain itu, ia juga sudah pernah merasakan perjalanan jauh naik pesawat terbang ke Australia. Tetapi, tetap saja banyak tantangan yang harus kami hadapi selama berada di dalam pesawat.

Agar tidak rewel, anak anda harus dalam kondisi sehat. Bayi dan balita sering mengalami flu yang tidak terlihat dengan jelas. Dalam kondisi seperti ini, ia cenderung lebih rewel. Bila anak anda masih menyusu, berilah ASI sebanyak-banyaknya. Tentu saja sang ibu juga harus mendapat asupan gizi yang tinggi. Bila anak sudah lebih dari 6 bulan dan mendapat makanan pendamping ASI (MPASI), bawa secukupnya untuk bekal di bandara dan pesawat.

Anak juga harus tidur cukup. Bila ini berarti anda harus menidurkannya dengan cara menggendong sambil berdiri, lakukanlah. Memang lelah, tetapi anda dapat melakukannya bergantian dengan pasangan anda. Anak saya mengalami sulit tidur ketika berangkat menuju Jeddah sehingga menjadi rewel, dalam perjalanan pulang justru sebaliknya, ia tertidur pulas hampir sepanjang perjalanan.

Bawa obat-obatan yang cukup, konsultasikan dengan dokter anak anda. Walaupun hanya memberikan obat saat terpaksa, saya biasanya selalu membawa obat demam, termometer, balsem bayi, obat gigitan serangga dan obat memar. Sebaiknya orangtuanya juga menjaga kesehatan untuk meminimalisasikan penularan flu pada anak-anak mereka.

Agar bayi tidak rewel di dalam perjalanan, bawa cukup mainan dan perlengkapan. Anda tidak perlu membawa sangat banyak, bawa saja beberapa benda favoritnya. Bisa jadi ini berupa buku cerita bergambar, pensil warna, atau boneka. Waktu itu kami membawa bola kecil dan menjadikan botol air mineral serta sendok menjadi mainannya.

Temperatur di Arab Saudi sangat panas dan kering, tabir surya bayi menjadi andalan kami karena kebetulan Oliq tidak suka memakai topi. Payung juga merupakan bawaan wajib untuk menghalangi teriknya matahari.

Saya juga membawa kompor listrik dan panci kecil. Selain itu sedikit beras, dan bahan-bahan mentah lainnya untuk memasak. Walaupun anak saya sudah makan nasi, biasanya nasi di Arab cenderung keras dan lauk pauknya pun mungkin tidak sesuai untuk anak bayi.

Anak anda juga membutuhkan waktu penyesuaian akibat perbedaan waktu, cuaca, dan juga tempat yang baru. Tentu, mereka lebih membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi daripada orang dewasa. Jadi wajar saja bila anak-anak menjadi lebih rewel daripada biasanya. Jangan panik, itu adalah hal yang normal.

Nah, bila anda ingin membawa buah hati beribadah bukan hal yang mustahil. Walapun memang lebih repot insya Allah akan lebih barokah. Amin.

Mohon memberi tanda centang pada kolom “notify me of follow up comments via email” bila hendak meninggalkan komentar atau pertanyaan sehingga Anda akan tahu saat kami membalas. Terimakasih.

Advertisements

90 thoughts on “Beribadah Umrah Membawa Bayi, Sedikit Repot Banyak Barokah”

  1. Amin.. mungkin nanti sama anak-anak kalo sudah lebih besar sekalian. Anakku wis 2 lenk, skrg umur 5th & 2th, lagi ga bisa diem banget, malah takut ilang, hehehe…

    Like

  2. Lah itu gendut tapi tetep pecicilan kok lenk, owner nya Dapur Nara, tester nomer 1 ya jadi begitu deh 🙂 tapi adeknya imut banget, cuma 1/4 badan mas nya, hahaha… sip, tak sampein salamnya

    Like

  3. salut mba…
    saya juga rencana mau kesana bawa bayi 11 bulanan lah insya 4wi.. bln depan..
    tapi saya sendiri euy gak sama suami, tapi ada ibu dan om sih..
    mau nanya dong mba.. kalau lagi sholat dan bayinya ngerangkak kesana kemari gimana tuh apa perlu bawa tali…
    stroller juga bawa gak mba?
    thx b4

    Like

    1. anakku juga waktu itu 11 bulan mbak dan belum bisa jalan. ga usah pake tali, biarin aja ngerangkak ke sana sini kan luas. kalo di nabawi enak, cari tempat yang di pelataran aja cari tempat kosong, jadi bayinya punya tempat yang luas buat ngerangkak. klo di masjidil haram agak repot emang krn ga senyaman nabawi. kadang aku shalat sambil nggondeli anakku biar ga ke mana2, kadang juga sambil tak susuin. tergantung aja sih. sering juga aku shalatnya sambil duduk. gapapa namanya juga bawa bayi.
      aku bawa stroller tapi kok rasanya kurang berguna ya, karena kebanyakan kita jalan2 kan langsung naik bus. beda kalo backpackingan. jarak antara hotel dan masjid juga deket banget sih. semoga bisa sedikit membantu

      Like

  4. Subhanallah…luar biasa !! Ini suatu inspirasi bgt buat saya… InsyaAllah…kamipun mau pergi umroh teeh…ma suami 2 anak laki2 9 thn ma 6 thn dan bayi 3 bulan…, ayahnya yakin ingin bw anak ke 3 nya … Tp keluarga sangat khawatir akan bayi kami…bagaimana solusinya ? Bgmn dgn imun nya ? Terima kasih banyak atas sharenya teeh …=)

    Like

    1. Alhamdulillah mbak bisa bawa bayi umrah. Insya Allah ga apa2 asal niat dan yakin. Kalo menurut saya bawa bayi 3 bulan malah lebih gampang karena masih banyak tidurnya, jadi orangtuanya juga ga repot. Selain itu masih belum mpasi, jadi enak banget deh. Klo udah merangkak atau jalan malah susah ditinggal ibadah.

      Like

    2. Mbk,, maaf mau tanya.. gmn sharing umroh bawa baby?? Baby nya jd diajak?? Aq ada rencana umroh bareng klg, bw anak umur 6 th dan 6 bln. Mohon sharingnya,, makasih

      Like

      1. Artikel yang mana ya mb??maksud sy.. byk jg yang bilang baby gak usah. Aq sendiri, kdg yakin kdg jg ragu.. selain tanya2 disini, mgkn ada fb ato medsos lain mb?mksh byk

        Like

      2. Tadi mbak tanya babynya jadi diajak? Di artikel yg dikomen ini kan udah ada ceritanya mbak. Silakan dibaca dulu. Cek juga kategori “arab” dan “traveling dengan anak2”

        Like

    1. rambut panjang ga ada larangannya mas. suami saya juga gondrongnya melebihi bahu (liat foto). bagus nanti bisa ditahalul sekalian. nah klo bojoku ga mau digundul –> jangan ditiru pahalanya ga genep.

      Like

  5. subhanallah, seru lihat perjalanan kalian, mdh2an si mas oliq bisa meniru ayah ibunya pada saat berkeluarga dan umroh.
    mbak waktu bawa pakaian baby brpa byk ya ? klo umroh ada baju khusus buat baby gak mb

    Like

    1. Standar aja sih mbak bawanya. Tapi tiap kotor langsung cuci terus dicantol2 di kamar. Kalo bayi kayanya ga ada. Paling koko bikin sendiri. Oliq sih pake baju biasa aja panas bgt juga

      Like

  6. makasih buat infonya…rencananya kami juga Insya 4JJI bulan Januari 2014 mau umroh sekeluarga + anak kami 1th 3bln….mau tanya tentang bulan Januari itu kan musim dingin,apa ada kiat khusus buat anak kami?terus mengenai vaksin bagaimana,apa saja yang dianjurkan untuk anak kami?adakah penyakit tertentu di bulan itu (cnth:flu musim pancaroba di Ina)?…. minta tolong infonya bagi yang lebih mengerti???makasih

    Like

    1. Halo Mbak Amallia,
      Setahuku kalau di Arab musim dinginnya paling kerasa pas malam. Siang 30an. Kalo malam baru bisa belasan. Tapi malam kan biasanya di hotel aja kecuali kalo umrahnya malam. Kalo Oliq sih suhu segitu ga masalah (terrparah waku kami di Norwegia sampai minus 9 dan dia oke2 aja). siapin jaket tebel aja. Ada bbrp toko winter rekomendasi di blog ini. Oliq dulu g pake imunisasi khusus. Cuma imunisasi sesuai jadwal aja, menurut DSA demikian. Kalo ga salah hanya imun vaksin flu aja. Bisa ditanyakan ke DSA ya, mungkin pendapatnya lain

      Like

    2. Assalamuallaikum
      Salam kenal mba. Utk membawa makanan yg bs kita masak sendiri bawanya apa aja ya mba. Krn rencananya saya mau bawa bayi sy 15 bln.

      Like

      1. Sepertinya saya pernah nulis daftar bahan masakan yg saya bawa kalau lagi traveling. Coba cari di blog search “masak sendiri”

        Like

  7. Hallo mba, aku mau nanya dan minta masukannya.. InsyaAllah bulan depan (desember 2013 ini) aku mau umroh dengan baby ku, pas umroh dia nanti 8m+ umurnya.. Yang aku mau tanya gimana ya cara buat mpasi disana? Apa saja peralatan yg harus dibawa? Dan perlu gak si bawa stroller? Atau bawa baby carrier aja?

    Nah aku juga bingung nih perlu gak si bawa booster seat? Kursi bayi yang bisa dilipet2 gitu buat dia makan? Maaf ya mba banyak nanya, soalnya terakhir bawa travelling baby dia masih asix..

    Like

    1. Aku dulu bawa kompor listrik dan beras (tergantung mpasinya apa). klo di di sana byk yg jual buah, susu UHT dan pisang. Stroller aku bawa tapi nyatanya ga terlalu berguna sih soalnya kalo umroh biasanya dari bus ke bus aja, apalagi anaknya masih kecil. Beda sama jalan2 biasa yang harus jalan jauh.
      kalo emg biasa makan di kursi bawa aja boosternya.

      Bisa cek artikel di sini tentang Traveling dengan Anak-anak, banyak sharing pengalaman bawa bayi ke luar negeri. https://backpackology.me/category/traveling-dengan-anak-anak/

      Like

  8. Mba aq mau tanya2 tentang membawa balita umroh cz ini pengalaman pertama aq n Insya Allah maret 2014 aq sekelurga mau umroh.. mba beli baju menyusui umroh d mana ya? Mba kan crta sholat sambil duduk n menyusui emng d sna boleh mba menyusui d sembarang tempat maksudnya ga da tmpt yg d larang cz aurat atau bukan tempatnya atau da peraturan apalah gtu mba soalnya anak aku mau tdr ga bs kl tdk asi apa2 maunya eneh aja makanya aq bngung menyiasatinya mba takut2 d sana da tmpt2 yg tdk d perbolehkan gtu mba.. anakku usianya nanti saat berngkat umroh 1 th 7 bulan. Terimakasih mba olen

    Like

    1. Halo Mbak, di Arab bebas-bebas aja kok. Nggak ada pake baju umroh menyusui. Kan bisa pake mukena, ketutupan semua. Aku malah ga pernah mikir sejauh itu. bagiku Islam itu sangat memuliakan ibu menyusui. Prinsipnya sih sama aja kaya di sini, di Eropa, di manapun, nyusui bukan berarti ngumbar aurat kan? Ga terus buka-bukaan. Yang penting tetap tertutup aja. santai aja mbak :))

      Like

  9. Subhanallah Oliq udah jadi haji kecil yaa *dalam arti yg sebenernya*.. alhamdulillah selama umroh Olen sekeluarga sehat wal afiat dan perjalanannya lancar… bener kata Olen asal niat dan yakin Insya Allah semua bisa dijalanin yaa tapi jangan lupa persiapan fisik mental kuat juga perlu.. Insya Allah kalau ada rejeki dan kesempatan pengen umroh lagi dan mudah2an bisa membawa si kecilku juga.. thank you sharingnya Olen..

    Like

  10. Mba,boleh minta nomor hp? Saya mau sharing, krn ada rencana umroh bukan april nanti. bawa baby pas usianya 9m. Klo boleh kirim no.hp ke email saya ya, supaya enak ngobrolnya.

    Like

  11. subhanallah..,,,,selamat ya bisa sehebat itu uminya,,, salam kenal ya..,, sy dewi di riau,,, punya rencana jg buat umroh sekeluarga jg bawa sikecil usia 9 bulan,,, tp yg bikin sy bingung siecil aktif banget,, n gendut pula..,,, sy jd ragu sanggup gak ya sy buat gendongin nya selama itu??? minta masukannya ya mbak..,, makasi..:)

    Like

  12. wah…masyaAlloh yaa…mdh2n sy dan keluarga bs segera terwujud juga umrohnya, aamiin…
    oiya mba, itu pas thawaf gendongan bayinya yang nyaman kira2 yang model gimana ya? terus ada saran gak biar pas sholat bayi kita tidak lari kemana-mana…. kira2 diikat pakai apa ya? karena anak sy 15m sudah lancar larinya… khawatir lari kemana-mana pas saya sholat.
    terima kasih yaa…
    salam kenal 🙂

    Like

    1. Amiin.saya waktu itu pk selendang jarik aja. Tapi plg nyaman pake baby carrier. Tawaf ga terlalu berat sih. Yg lama sa’i. Ga papa dibiarin lari2 aja. Klo di masjid nabawi pilih di pelatarannya aja. Di bwh payung2 itu

      Like

  13. mbak, mau tanya saya ada rencana umroh bawa anak umur 10 bulan, saya rencana akan masak di sana (bawa alat masak dan beberapa bahan mentah seperti beras, bumbu, sayur) pertanyaan saya, disana ada pasar/toko yang jual lauk mentah/buah segar gak ya?

    Terimakasih sebelumnya 🙂

    Like

    1. Ga mslh. Saya jg masak kok soalnya dulu msh mpasi. Ada yg jual sayuran standar kaya wortel, bwg, kentang. Lmyn klo buat anak. Saya sih ga nyaranin tawaf pake stroller krn berdesakan. Kecuali kalo mau di lingkaran bag luar bgt (yg artinya makin jauh). Gendong aja. Tawaf mah bentar, ringan. Saya aja gendong sendiri ga gantia sama suami. Klo sai lbh mungkin pk stroller

      Like

  14. waah… jempol bgt sih pasangan traveller iniih. kelihatannya tergantung bagaimana kita mensikapi suasana ya mak. krn kendala dg atau tanpa membawa balita pst ada, tp gimana persiapan dan penyikapannya aja. Saluut… dan *terinspirasi*

    Like

  15. Mb kebetulan niy ada rencana mw umroh bareng bayiku di buln april..pas april nanti my baby 22 bulan..yg mw aku tanyain..utk suntik meningitis nya gmn mb? Tlg infonya ya mb thx

    Like

  16. mba aq mau tanya. rencanax bulan 4 nnti insya allah sy mau umrah bareng bayiku sm suami. bayi ku saat itu usiax sudah 13 bulan. sy mau tanya mba, perlengkapan apa sj yg mba bawa utk oliq. apa bawa stroller jg kah atau apa? trus bayiku minum sufor mba, kira2 dpesawat nnti bisa ga ya dbuatkan suforx atau gmn huhuhuhu bingung, biasax anakq qifaya naik pesawat cm 45 menit sih dari makassar kendari bolakbalik. mohon infox

    Like

    1. Eksklusif dong. Asi sampai 2 taun nggak sentuh sufor. Habis itu UHT. Yaelah klo di pesawat sama simboknya ya tinggal dijejeli kendinya. Ngapain pake dipompa

      Like

  17. Aslmlkm. Salam kenal mba.

    Apakah si baby 11 bln nya ikut disuntik juga sebelum brkt umroh? Trus waktu tawaf digendong biasa atau pakai baby carier?

    Tks sblmnya

    Wasa

    Like

    1. Bayi nggak disuntuk meningitis tapi imunisasi biasa. Sepertinya pediacel waktu itu maaf agak lupa. Tapi dikonsul sama DSA aja ya. Tawwaf, sa’i digendong pake jarik seperti di foto. Iya lebih enak pakai carier.

      Like

  18. Asslamualaikum warahmatulahi wabarakatuh ,
    semoga aku gak telat untuk bertanya ya ukhty , aku april . salam kenal ..
    ada niatan sma suami mau umrah bawa si baby … sebenernya dr komen d atas udah hampir menjawab smua nya , tp kurang afdol klo blm tanya sendiri .. hihihihi ,
    waktu itu mas oliq nya di pakein pempem(pempers) gak mbak ?
    di sna ada perlengkapan untuk bayi kan ya mbak ? itu aja mbak semoga mbak sempat menjawab ..
    sukron ,

    Like

    1. Waalaikusalam wr wb. Selau pakai pampers mbak, kalo ga takut najis di masjid atau di baju kita. Kalo pake popok/clodi repot nyucinya. Byk yg jual pampers di sana

      Like

      1. Maaf sebelumnya mba.. setau saya sholat sambil mgendong ank y mmakai pampers ga blh mba krn sm saja dg sholat tp mbawa najis d pampers itu. Jd sbaiknya kl sholat bgantian sm suami saja ^^

        Like

      2. setahu saya ada dua pendapat mbak. Yang pertama memang melarang karena membawa najis. Yang ke dua diperbolehkan asal najis tidak tampak dan tidak merembes keluar. Saya terus terang saja memilih yang gampang hahaha. Lagipula, kalau hanya shalat mungkin gampang ya, kalau rangkaian umrah kan panjang, repot kalau harus selalu memastikan popok anak suci. Nanti yang mengganti popoknya juga kena. Begitu.

        Like

  19. aku merasa berjodoh dgn tulisan2mu mbaa.. saat butuh referensi, ngegoogling, pasti yg paling utama keluar blogmuu.. cintaaa deeee hahhaa, matur suwun ya mba Olenka simboknya oliq dan ola. tetaplah menulis, tetaplah menginspirasi. oiya aku stay di sing, nanti kl maw maen ke malay kita silaturahim yuukk #ketemuidola hahah

    Like

  20. hallo mbak olen.mbak mau tanya kalo bawa bayi gimana kamar penginapanya? apa cuma kalian sekeluarga (ayah-ibu-anak) /sharing sama jamaah umroh lainya?. pengen umroh bawa bayi tapi masih kwatir takut ntar klo dapat jtah kamar nya share ama jammaah lain. takut ngeganggu mbak.

    Like

    1. Saya kebetulan sama mertua dan suami jadinya sekamar mbak. Biasanya kan sekamar berempat. Ini jadi berlima. Karena bayi bayarnya juga hampir full (cuma dikurangi biaya tiket pesawat), jadi bed yg disediain juga 5. Saran saya sih mbak nambah biaya aja biar bisa sekamar sekeluarga (sama anak dan suami tok), ga nyaman kalau campur jamaah lain. Apalagi nanti akan dibedakan jenis kelaminnya. Jadi kalau campur jamaah lain, jadi ga bisa sekamar sama suami kan. Aduh ribet sendiri jadinya. Mungkin nanti travel agentnya nyaranin nambah dikit biar bisa sekeluaega sekamar. Coba ditanyain pasti bisa koo

      Like

  21. Ass mba,

    Artikelnya membantu sekali. Insyaallah mau brgkat umroh dgn baby 12bln. Yg saya khawatirkan hanya perjalanan jauh di pesawat.
    Waktu oliq di pesawat rewel kira2 9jam ngapain aja ya mba.

    Boleh tau gimana menenangkan bayi yg rewel, maksudnya waktu itu oliq gmn ya. Maklum babyku sejauh ini baru terbang 2jam paling lama 😁. Hehe maaf ya mba klo membingungkan.

    Terimakasih.

    Like

  22. Alhamdulillah, terimakasih mbak Olen. saya sangat terbantu dan menjadi lega setelah membaca blog mbak Olen. karena saya sekarang sedang dilema utk memutuskan brgkt umroh dengan membawa anak saya yg msih berumur 2th atau menitipkannya ke ortu saya. Sekali lagi terimakasih mbak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s