Traveling dengan Anak-Anak Part 8: Roadtrip bersama si Kecil


Kami pernah membahas tentang perjalanan dengan pesawat terbang, kali ini kami akan berbagi pengalaman dan kiat ber-roadtrip-ria alias perjalanan darat. Ini dimulai dari pengalaman mudiknya Lala. yang harus berjam-jam menembus jalanan Jakarta dan Jawa Barat. Emak-emak keren rela repot asal bisa jalan-jalan….

——————————-

Lala bersama Raissa dan Fiamma

Lala akan bercerita bagaimana mengajak anak-anak traveling dengan mobil atau roadtrip. Cerita ini masih hangat lho, karena ini pengalaman baru ber-roadtrip dengan dua balita pada masa mudik lebaran baru-baru ini.

Di keluarga kecil kami, tradisi mudik adalah standar operasi dari keluarga PapaKris. Walau setiap tahun kami bergiliran selang seling antara Bandung dan Jakarta mengenai lokasi sholat Ied, tapi urusan mudik selalu wajib dilakukan. Seandainya mudiknya hanya ke Bandung, urusan pasti lebih mudah dan menyenangkan karena tidak perlu berlama-lama diperjalanan dan setelah bersilaturahim dengan keluarga besar bisa langsung wisata kuliner dan FO hopping.

Tapi SOP lengkap keluarga Sunda-ku adalah ke Bandung, menginap semalam di rumah Aki-Nenek nya anak-anak, lalu pagi-pagi sebelum Subuh, biasanya hari ketiga lebaran berangkat ke Tasikmalaya, setelah kurang lebih 3 jam disana untuk berlebaran dengan sesepuh dan sodara sembari beristirahat, perjalanan mudik berlanjut lagi ke Ciamis. Sesampainya di Ciamis biasanya malam, dan anak-anak sudah tidur. Keesokannya setelah sarapan telat (aka brunch) kami lanjut lagi ke Kuningan masih dalam rangka bersilaturahim dengan keluarga. Setelah keluar masuk kira-kira 5 rumah, proses pembuncitkan perut dan saya kursus kilat Bahasa Sunda, menjelang sore tibalah waktu kembali ke Bandung.

Waktu terlama berada di jalan adalah 12 jam saat kembali dari Batu Karas di Ciamis ke Bandung. Walau begitu sepanjang perjalanan kami tetap berhenti untuk makan, sholat, atau tidur sebentar di tempat parkir atau tepi jalan. Berhenti di beberapa tempat ini juga untuk menghilangkan kejenuhan kami setelah berjam-jam terkurung di mobil. Untungnya walaupun terkurung anak-anak lumayan kooperatif. Raissa yang sudah 3 tahun asyik bermain sendiri, bernyanyi, menggambar atau minta dibacakan buku, sedangkan Fiamma yang biasanya sangat rewel kalau diajak menyetrika jalan di Jakarta, saat mudik kemarin sangat anteng. Dia banyak tidur dan saat bangun lebih senang ngemil biskuit, menyusu, atau melihat pemandangan. Sesekali menonton kakaknya yang lebih tidak bisa diam.

Bila anda akan melakukan roadtrip apalagi saat high season sekitar waktu lebaran saat banyak orang berada di jalan juga. Menghadapi macet belasan bahkan puluhan jam hampir sudah pasti akan terjadi. Untuk membuat perjalanan menjadi lebih mudah dan menyenangkan, beberapa hal berikut adalah saran dari saya ketika akan roadtrip dengan anak-anak:

1. Siapkan kendaraan dengan baik. Sebelum roadtrip kami selalu memasukan mobil ke bengkel untuk diperiksa kondisinya dan diperbaiki dimana yang sudah dalam kondisi kurang ok. Yang penting untuk diperiksa adalah kondisi oli, aki, radiator, rem, tekanan angin ban terutama juga ban cadangan nya harus dalam kondisi siap pakai, lalu lampu mobil perlu berfungsi dengan baik apalagi bila akan berpergian di malam hari. Kemudian yang perlu dibawa adalah perlengkapan peralatan mobil seperti dongkrak, kunci ban, senter, obeng-obeng dan segitiga pengaman.

Khusus untuk saya yang penting untuk diperiksa adalah AC mobil. AC mobil harus cukup dingin, tidak hanya sekedar sepoi-sepoi agar nyaman untuk anak-anak dan orang tuanya tentunya.

2. Masih berhubungan dengan kendaraan, transformasi kendaraan menjadi kamar tidur berjalan. Saya tidak pernah ketinggalan membawa beberapa bantal, guling kecil, dan beberapa selimut. Selimut ini bisa multifungsi karena selain bisa digunakan untuk menghangatkan badan, bisa juga untuk dijadikan alas di lantai mobil agar tidak terlalu keras seandainya anak-anak mulai merasa bosan duduk di kursi dengan baik. Dan bisa dipastikan mereka akan bosan dan suka duduk nyempil di lantai kursi belakang.

4. Makanan dan minuman. Makanan ringan tidak pernah ketinggalan untuk dibawa dalam perjalanan darat kami. Mulai dari goreng-gorengan, roti, permen, cookies sampai  berbagai jenis keripik tradisional maupun modern. Bagi keluarga kami cemilan itu identik dengan roadtrip. Minuman mulai dari air mineral, kopi kalengan untuk membantu menahan kantuk, sampai susu uht untuk anak-anak jangan sampai terlupa. Dan bila ada anak-anak yang minum susu formula tentunya termos untuk menyimpan air panas sangat krusial. Saya selalu membawa 2 termos: ukuran 700ml untuk disimpan di mobil dan ukuran 350ml yang saya simpan di dalam diaper bag.

Selama perjalanan bisa dipastikan kami akan mampir dibeberapa tempat istirahat, restoran, atau warung. Saat sedang mampir di tempat-tempat tadi, saya selalu meminta air panas untuk mengisi penuh termos yang saya bawa. Satu tips lagi mengenai urusan termos, kalau bisa bawalah termos yang dibuat dari stainless steel, tahan banting, dan mekanisme untuk mengeluarkan air panas nya mudah dan aman. Hindari termos yang harus diputar-putar untuk membuka dan menutup lubang airnya. Akrobat yang menyeramkan kalau anak lagi rewel dan nemplok ke ibunya sambil tangannya kesana-kemari dan si ibu lagi ribet menuang air panas dari termos.

5. Hiburan untuk anak-anak. Bisa mainan, buku bacaan, buku menggambar, cd lagu-lagu anak, atau laptop untuk memasang video kesukaan anak-anak.

6. Follow twitter! Sungguh twitter sangat membantu dalam perjalanan mudik. Mendekati lebaran dan waktu mudik saya selalu follow @lewatmana dan @poldajabar. Dengan menjadi follower mereka saya mendapat update live mengenai kondisi lalu lintas di jalur mudik saya. Kedua akun twitter tadi juga sering memberi saran jalan alternatif bila jalur utama sudah dipenuhi arus pemudik. Saran saya bagi yang belum memiliki akun twitter, saat mudik lebaran adalah waktu yang tepat untuk mulai membuka akun baru.

Terakhir saya ingin menekankan hal yang wajib dilakukan oleh siapapun yang akan roadtrip adalah berhenti sebelum terlalu lelah. Keselamatan lebih penting daripada memaksa terus mengemudi demi mengejar waktu. Tempat yang aman untuk beristirahat kalau melalui jalan tol tentunya tempat istirahat yang biasanya ada banyak restoran, toko 24 jam dan pom bensin. Tapi kalau sedang berada di jalan dalam kota, tempat pilihan kami adalah parkiran masjid besar atau pom bensin.

Semoga saran saya dapat membantu, kalau ada tips lain mohon dibagi di kolom komentar dibawah. Selamat (mengukur) jalan-jalan, Mama, Papa, dan anak-anak lucu.

—————–

Olen bersama Oliq

Pengalaman perdana Oliq melakukan roadtrip adalah ketika ia berusia 2,5 bulan dari Jogja ke Solo, tapi yang berikutnya lebih jauh lagi – yaitu boyongan dari Jogja ke Jakarta ketika berusia 3 bulan.

Contoh nyata kondisi bagasi ketika roadtrip bersama bayi/balita

Persiapan untuk melakukan perjalanan darat yang panjang dan melelahkan tentu saja berbeda-beda, tergantung jarak perjalanannya, usia si balita, dan juga preferensi orangtuanya. Untuk hal yang ini Lala lebih dapat dicontoh daripada saya :D.

Perjalanan Oliq dari Jogja ke Jakarta (untuk pertama kalinya bayi mungil ini akan melihat dan menetap di Batavia) termasuk sangat mudah. Saya tidak banyak melakukan persiapan karena waktu itu Oliq belum makan makanan padat. Semuanya terkendali selama…ehm….nenen ada di dekatnya. Kebetulan pada waktu itu Oliq juga sudah tidak mau minum ASI dari botol lagi jadi all is well as long as simbok is nearby.

Tidak banyak yang dapat diceritakan karena semuanya tampaknya sangat lancar. Tentu saja kami berkali-kali berhenti untuk makan, mengganti popok, atau sekadar meluruskan kaki. Oliq pun kalau misalnya menangis karena capek tiduran akan diam bila digendong tegak (posisi bayi berdiri). Akhirnya kami tiba di Bandung pada sore hari dan menginap semalam di hotel. Perjalanan ke Jakarta dilanjutkan keesokan harinya.

Perjalanan-perjalanan darat Oliq yang lain antara lain ke Bandung/Lembang/Ciater/Purwakarta, Garut, Puncak, dan  Anyer. Ketika sudah mulai makan makanan padat tentu saja agak lebih repot. Sebelum berusia 1 tahun, paling-paling saya membawa ransum berupa pisang atau bubur beras merah. Ketika sudah hampir usia 1 tahun agak lebih mudah karena  sudah makan nasi, paling saya hanya membawa pelengkap favoritnya, yaitu bawang goreng.

Orang dewasa saja capek bila terlalu lama di dalam mobil, apalagi anak-anak. Kita tentu saja tidak dapat memaksakan untuk berkendara mengejar target – harus sering beristirahat agar anak merasa bebas. Untuk bayi yang masih belum dapat duduk sendiri atau berjalan, orangtuanya juga harus mengubah-ubah posisi si bayi supaya tidak lelah.

Oliq sih tidak terlalu rewel dalam perjalanan selama badannya memang tidak ada yang sakit. Sekarang – ketika ia sudah mengenal mainan – saya selalu membawa beberapa mainan favoritnya, antara lain bola oranye, helikopter merah, dan pesawat ijo. Selain itu ada juga buku dinosaurus. Nah, mainan favorit Oliq yang lain adalah dompet seisinya. Bila saya lihat dia sudah super bosan, terpaksa saya merelakan dompet diawut-awut, kadang sampai kartu kredit dimasukkan dalam gelas susu. Jangan ditiru ya bunda panda….

Di bawah ini ada beberapa kiat dalam melakukan roadtrip bersama bayi atau balita:

  • Barang bawaan: makanan, makanan ringan (biskuit, kerupuk, peyek à favorit anak saya, maklum orang Jawa tulen), susu, cadangan popok sekali pakai, tisu kering dan basah, hand sanitizer, obat-obatan (paracetamol bayi, minyak telon dll), baju/celana ganti, dll.
  • Harus sering berhenti supaya bayi/balita juga beristirahat. Ini terutama untuk orangtua dengan bayi yang sudah merangkak atau berjalan. Biarkan ia bebas sejenak di rerumputan atau mushola.
  •  Jangan biarkan bayi/balita Anda bosan. Anak yang bosan pasti akan rewel. Ajak dia bernyanyi, atau melihat pemandangan (mobil/truk dll – Anda bisa sambil bercerita), mewarnai.
  • Cari rute yang paling nyaman alias tidak macet. GPS dan twitter sangat berguna untuk yang satu ini.
  • Usahakan anak Anda tidur cukup. Kalau bisa sebelum hari keberangkatan anak tidak terlalu capek dan cukup beristirahat. Biasanya anak yang kelelahan akan menjadi cranky.
  • Jangan target harus sampai hari itu juga bila perjalanan jauh. Lebih baik Anda menginap di hotel agar anak Anda bisa beristirahat nyaman di kasur, bukan di mobil maupun di  pangkuan orangtuanya.

Nah, ada kiat yang lain mungkin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s