Traveling dengan Anak-Anak Part 6: Menyusui di Tempat Umum


Masih seputar wisata dengan anak-anak bersama Olen dan Lala di sini. Untuk memperingati pekan ASI internasional yang baru saja lewat, kali ini kami akan berbagi tentang pengalaman menyusui anak-anak di tempat umum ketika kami sedang berlibur baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu ada bebreapa kiat yang semoga dapat mendorong para orangtua untuk tidak perlu “malu-malu” menyusui di tempat umum.

Satu hal yang kami yakini adalah: mendapatkan ASI adalah hak asasi anak. Di rumah ataupun sedang bepergian itu adalah hak asasi anak.

Inilah sekelumit cerita emak-emak keren dalam memenuhi hak anaknya ketika berwisata.

Olen dan Oliq

Saya mungkin menjadi salah satu ibu yang tidak sungkan menyusui di mana saja. Saya punya prinsip, I don’t mind flashing a boob if it means my son’s thirst (and rights) fulfilled. Sehubungan dengan Oliq yang memang menolak minum dari dot sejak umur 3 bulan, saya memang mau tak mau menyusuinya langsung dari payudara.  A mom gotta do what a mom gotta do.

In a perfect world, semua ibu dapat menyusui anaknya di nursery room yang bersih, nyaman, dan lengkap. But there’s no such thing as a perfect world.  Tidak semua tempat umum memiliki ruang menyusui, walaupun hal ini semakin digalakkan. Kalaupun ada, kadang saya sendiri yang malas apabila tiap kali mau menyusui harus mondar-mandir ke ruang menyusui.

Menyusui dengan latar belakang seperti ini semua ibu pasti suka!

Membahas mengenai ruang menyusui sendiri, tidak semuanya layak. Di banyak tempat, ruangan ini kecil dan kurang nyaman, sehingga ibu dan bayi pun tidak betah-betah berlama-lamaan di sana. Salah satu ruang menyusui yang pernah saya masuki adalah di LCCT (terminal AirAsia) di Kuala Lumpur. Tidak kotor sih, tetapi menurut saya kurang nyaman dan pengap. Saya lebih memilih untuk menyusui di ruang tunggu biasa.

Menyusui di tempat umum tentu ada suka dukanya. Salah satu pengalaman buruk saya adalah baru-baru ini ketika berlibur ke Malaysia. Ketika hendak pulang kembali ke Tanah Air, pesawat Garuda yang hendak kami tumpangi terlambat satu jam. Oliq yang sudah sangat mengantuk jadi rewel. Saat itu para penumpang sudah bersiap masuk ke pesawat, namun belum diizinkan. Sangat sulit bagi saya untuk mencari tempat duduk dan menyusui dengan layak – apalagi bila harus mencari ruang menyusui, kan! Akhirnya saya memutuskan untuk ndeprok di pinggir jendela demi menyusui anak saya. Jadi tontonan pun tidak masalah!

Pengalaman yang lain adalah ketika berada di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Ketika itu kami sedang mengantri pemeriksaan bea cukai (yang, by the way, lambat serta menyebalkan). Dalam antrian tersebut Oliq haus, terpaksa saya duduk  di lantai dan menyusuinya. Kabar baiknya, ketika petugas melihat, ia langsung menyuruh saya dan beberapa orangtua yang membawa anak kecil untuk tidak perlu antri dan langsung menjalani pemeriksaan.

Mungkin memang terkesan lebih repot bila dibandingkan dengan anak yang minum susu formula dari dot. Tetapi saya rasa banyak ibu rela lebih repot bila itu demi yang terbaik untuk anak-anaknya.

Pengalaman menyusui di tempat umum tidak selamanya buruk kok! Kami berlibur ke Australia saat Oliq masih 6 bulan dan baru saja belajar MPASI. Ketika itu frekuensi menyusu dia masih sangat sering karena makanan padat pun baru 1-2 kali sehari. Selama di sana, saya pernah menyusui dia di pesawat, kereta api, bus, taksi, trem, halte, taman, bangku di pinggir jalan, monorel , dan tentunya lokasi wisata.

Memang agak repot dan tidak nyaman untuk menyusui di trem yang berdesak-desakan, namun apa daya bila anak kehausan karena cuaca yang sangat panas. Menyusui di taman-taman di Melbourne dan Sydney jauh lebih menyenangkan, karena kami tinggal duduk di salah satu sudut taman yang bersih, melihat pemandangan indah sembari menghirup bau rumput yang baru saja dipotong.

Sepanjang pengalaman saya, orang-orang di sekitar kita cukup maklum kok dengan ibu-ibu yang menyusui anaknya. Tidak ada pandangan yang aneh-aneh. Bahkan suatu waktu ketika saya hendak menyusui Oliq sembari menunggu trem di depan Royal Women’s Hospital di Melbourne, seorang bapak-bapak tunawisma langsung menawarkan tempat duduk sembari tersenyum.

Acara menyusui di sela-sela umrah

Di Arab pun saya punya pengalaman indah ketika saya berkesempatan untuk menyusui Oliq di depan Ka’bah. Alhamdulillah, betapa mulianya menjadi seorang ibu.

Di bawah ini ada beberapa kiat menyusui di tempat umum:

  1. Jangan malu atau sungkan. Jangan sampai Anda membiarkan anak menangis atau lapar hanya gara-gara ibunya malu menyusui di tempat umum. Bila memang ada ASI dalam botol tentu lebih baik. Bila tidak, tentu Anda harus susui sesegera mungkin!
  2. Bawa selendang atau kain yang dapat menutupi payudara atau bagian tubuh lain Anda ketika menyusui. Saat ini banyak dijual nursing cover/breastfeeding cover yang membuat para ibu lebih nyaman menyusui di tempat umum.
  3. Jangan tutup seluruh kepala anak hanya karena Anda malu. Menutup aurat memang penting tapi jangan sampai anak kesulitan untuk bernapas. Berilah ruang udara yang cukup.
  4. Kenakan pakaian yang longgar dan mudah dibuka. Jangan sampai anak Anda menjerit-jerit hanya karena ibunya harus membuka 12 kancing terlebih dahulu.

Lala dengan Raissa dan Fiamma

Menyambut pekan Breastfeeding Week, payudara saya malah sempat bengkak karena Fiamma sedang malas menyusui dan saya sehari itu malas memerah asi. Jadilah aliran asi mampet dan terjadilah bengkak itu. Ouuchh! Untung tidak berlama-lama, setelah menyodorkan kendi asi bolak balik ke bocahnya yang kadang ngamuk karena disuruh mengisap dengan panen kucuran yang seret.

Langsung ingat-ingat bagaimana suka dukanya menyusui saat travelling dengan anak-anak. Raissa dulu, sayangnya hanya asi exclusive sampai 4 bulan saja, setelahnya campur dengan susu formula (sufor). Walaupun campur, saya membiasakan kalau sedang bersama saya, Raissa harus menyusui langsung, sedangkan sufor untuk menambal stok asip yang selalu minim saat saya sedang kerja. Sedangkan dengan Fiamma, Alhamdulillah sukses program asi exclusive nya dan menyusui sampai di usianya sekarang 8 bulan.

Tidak banyak sebenarnya tips dari saya. Simply karena kalau sudah urusan menyusui anak, gaya saya seperti flasher dimana saja, kapan saja ”buka toko”. Tidak pernah merasa sedang dipandang aneh oleh orang ramai karena sepertinya sih memang tidak pernah ada yang menganggap menyusui anak itu sesuatu yang aneh ya. Jadi tips pertama dari saya pede dan cuek aja kalau mau menyusui di tempat umum. Biasanya kalau sedang ingin menyusui, saya berusaha mencari pojokan atau sudut yang sepi agar saya bisa menyusui menghadap dinding dan menghindari keramaian.

Namun yang namanya anak kalau mau menyusui itu suka tidak kenal sikon ya. Haus, langsung rewel minta minum. Beberapa kali saya menyusui di angkutan umum. Saat sedang naik kereta bawah tanah atau bis, sebisa mungkin saya mencari tempat duduk pojok sebelah dinding, sehingga menyusuinya disisi yang tidak bersebelahan dengan orang asing. Agar bisa lebih aman lagi, saya suka meminta suami untuk berdiri agak mepet di depan saya untuk menghalangi pemandangan. Walau begitu, pernah juga sih saat sedang pergi berdua saja dengan Fiamma, saya menyusui di pesawat yang kebetulan kursi sebelahnya diduduki oleh laki-laki. Kembali ke tips pertama, walau awalnya sempat agak risih tapi akhirnya cuek lempeng buka toko.

Saya juga tidak pernah menggunakan breastfeeding cover atau celemek menyusui saat menyusui kedua anak saya. Entah kenapa mereka selalu protes kalau ditutupi oleh celemek. Sebagai solusi nya saya selalu mengenakan atasan yang cukup longgar. Seringnya sih cukup pakai kaos t-shirt biasa atau kemeja longgar yang bisa dengan mudah saya tarik keatas untuk menyusui. Kebetulan saya juga kurang sabar mengenakan baju khusus menyusui yang seringkali berkancing dan kok menurut saya malah bisa memamerkan lebih banyak daerah dada ya daripada kaos yang tinggal ditarik keatas. Tentunya hal ini masalah selera dan kenyamanan masing-masing ibu, kalau anda lebih cocok menggunakan baju khusus menyusui tidak apa juga, yang penting kenakan baju yang akses untuk menyusuinya bisa cepat dan tidak ribet.

Untuk tips ketiga, kreatif menggunakan yang ada. Kalau sedang travelling tentunya ingin membawa sesedikit mungkin barang kan. Nah kalau kreatif kita pasti bisa menemukan barang-barang yang biasa dibawa di dalam diaper bag dan bisa digunakan untuk sekedar menutupi secuil aurat, seperti handuk kecil, baju ganti, perlak bahkan gendongan atau baby carrier. Intinya multifungsikan bawaan wajib.

Menyusui saat travelling sama sekali tidak merepotkan. Bahkan bisa menambah cerita indah liburan. Apalagi saat anda sadar bahwa sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anak. Rasanya pasti menyenangkan.

Salute to all mothers travelling with kids. Happy (belated) breastfeeding week!

Celoteh emak-emak keren yang lain adalah:

Part 1 terbang bersama bayi

Part 2 daftar bawaan bila pergi bersama bayi/balita

Part 3 berkemas ringkas walau membawa bayi/balita

Part 4 liburan singkat ke Kuala Lumpur

Part 5 tentang bagaimana membuat rencana liburan si kecil

Baca juga petualangan Lala dan anak-anaknya di Skippin Troupe

Advertisements

3 thoughts on “Traveling dengan Anak-Anak Part 6: Menyusui di Tempat Umum”

  1. Mbak Olen….Selamat Lebaran 1 syawal 1433 H,,,Taqobbalallahu minna wa minkum….Mbak bikin tur ke Eropa dong dgn low-budget, aku ikutan…

    Like

    1. Minal Aidin wal faidzin juga mbak Luli. Wah Eropa ya, rencananya insya allah tahun depan tapi belum tau mau ke mana aja. Bulan depan mau ke jepang dulu

      Like

      1. Okey Mbak Olen, ditggu ya jalan2 ke Eropa murmer nya, bikin turnya juga ya Mbak, siapa tau aku bisa ikutan insyaAllah…TQ Mbak…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s