Traveling dengan Anak-anak (Part 1): Terbang Yuk Nak


Tulisan ini merupakan gabungan antara tulisan saya dengan penulis tamu, Lala Amiroeddin. Kami, emak-emak keren ini, ingin berbagi pengalaman tentang berwisata bersama bayi dan balita. Khusus artikel ini akan menceritakan pengalaman membawa anak bepergian dengan pesawat terbang. Memang agak repot, tetapi tidak mustahil, kok! Temukan tips-tips dari kami yang semoga saja berguna untuk para bunda dan panda….

Tulisan pertama adalah pengalaman Lala dengan kedua anaknya Raissa (hampir 2 tahun 10 bulan) dan Fiamma (6,5 bulan). Setelah para cewek-cewek cantik di atas, saya akan menceritakan pengalaman saya terbang bersama Oliq (12 bulan), yang akhir-akhir ini mendapat panggilan baru yaitu Boliq (Bocah Ngglidik).

Tips mengatasi panik saat membawa anak terbang dapat dibaca di sini.

———————

Lala bersama Raissa dan Fiamma

Saya sangat gemar  berlibur untuk  mengunjungi tempat-tempat baru, tidak peduli apakah lokasinya sangat jauh sehingga  harus mengalami berjam-jam perjalanan lewat jalur udara  maupun yang dekat-dekat saja dan bisa dicapai lewat-jalur darat. Kegemaran ini sudah saya tularkan ke suami pada awalnya dan sekarang berlanjut untuk ditularkan kepada kedua anak saya.

-Bersama anak pertama, awalnya dimulai dengan beberapa perjalanan jarak dekat ke Bandung, dan kemudian naik tingkat perjalanan yang agak jauh ke negeri seberang, yakni Singapura,  -Pada saat itu usianya beranjak 8 (delapan) bulan. Perjalanan perdana ke luar negeri dengan membawa anak kecil (lebih tepatnya seorang bayi) berjalan dengan sangat baik karena dia menikmati tidurnya hampir selama penerbangan.

Kamipun, saya dan suami, tidak takut kerepotan ketika harus membawanya pergi ke Eropa saat usianya memasuki 13 (tiga belas) bulan. Dan benar saja, perjalanan dari Jakarta ke Singapura menjadi sangat mudah. Dilanjutkan dengan penerbangan ke Dubai yang mesti berangkat dini harijam 01.30 (setengah dua).Penerbangan yang harus ditempuh lebih dari 9 jam tersebut kami kira pun akan mudah. Kami sudah memesan tempat duduk dan keranjang khusus bayi yang bisa dicantolkan pada dinding di seberang tempat duduk kami.  Kami harap penerbangan pagi hari buta bisa membuat anak kami tertidur nyenyak. Namun apa daya, yang terjadi selama penerbangan jauh dari yang kami bayangkan.

Si anak terjaga selama penerbangan. Tidak hanya itu, dia banyak protes dan sering menangis karena saya paksa untuk duduk diam. Kami mulai berpikir sepertinya perjalanan kali ini terlalu berat untuknya. Terlalu jauh dan lama. Ketika akhirnya dia tertidur dalam pelukan saya dengan posisi menyilang ke segala penjuru, saya tidak berani bergerak sedikit pun sampai kami tiba di Dubai.

Setelah penerbangan lebih dari 9 jam, lantai putih mengkilat bandara Dubai
terlihat sangat menyenangkan untuk dipeluk dan di “pel” pakai badan

Setelah pengalaman itu, kami sedikit khawatir memikirkan perjalanan pulangnya. Kami bertekad untuk mencoba strategi yang berbeda dan berhasil. Selama 14 jam penerbangan pulang dengan rute Paris-Dubai-Singapore ditambah 3 jam waktu transit di Dubai, kami sukses menikmati penerbangan dengan damai. Si anak tertidur hampir selama penerbangan dan mungkin hanya terjaga selama 1-2 jam tanpa rewel. Sukses gilang-gemilang.

Strategi yang akan saya share kali ini, telah terbukti berhasil mengembalikan semangat jalan-jalan saya travelling bersama anak-anak lagi.

1. Jangan biarkan anak tidur sebelum penerbangan.

Intinya adalah untuk membuat mereka merasa letih dan tertidur ketika berada di DALAM pesawat. Sebelum penerbangan ajak anak anda bermain seheboh mungkin. Bermain ke taman, berlari, berenang, main trampolin, apa saja untuk membuat mereka kelelahan.

Strategi no 1 ini lah yang paling manjur menghadapi penerbangan jarak jauh dengan anak kecil. Apalagi yang lebih menyenangkan dari anak yang tertidur tenang selama 9 jam penuh? Orang tua bisa menikmati suguhan makanan selama berada dalam pesawat bahkan juga ikutan lelap tertidur. Namun, bila tips di atas kurang berjalan dengan baik, masih ada beberapa tips-tips berikut yang bisa dicoba.

2. Bayi, juga manusia. Bisa pegal, bisa bosan. Sangat wajar bila bayi rewel tatkala mereka sudah terbangun lama dan penerbangan masih berlanjut berjam-jam. Ketika mereka mulai menangis, banyak orang tua yang kemudian menjadi panik saat mencoba menenangkan bayinya. Jangan. Kepanikan orang tua akan menular kepada anaknya. Biasanya mereka akan menyuruh diam dari yang bisikan ssssstttt yang lembut sampai yang semakin lama semakin keras. Terkadang, seperti yang baru-baru ini saya saksikan, orang tua tersebut membekap mulut sang anak. Aduuuh. Jangan, Bu. Kasihan anaknya.

Bila anak menangis atau rewel, bagi bayi yang masih menyusui, pertama-tama coba susui dulu. Kalau masih menangis juga, bangun dan gendong anaknya. Bawa mereka jalan-jalan sepanjang lorong pesawat. Coba terus menimang-nimang sembari mengusap-usap punggungnya dengan diiringi bersenandung lembut.

3. Masa-masa kritis bayi rewel biasanya saat pesawat take-off atau landing. Saran yang lazim ditemui adalah dengan menyusui mereka terutama bila anda masih memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif. Saran lain adalah dengan memberi dot supaya dapat diisap-isap si bayi. Gunanya adalah untuk mengurangi tekanan udara yang terasa di telinganya

Namun demikian, yang sering terlewat untuk dijelaskan adalah betapa rumitnya menyusui langsung saat masa kritis ini. Hal ini karena ketika naik pesawat dengan bayi, yang tidak mendapat kursi sendiri melainkan harus dipangku orang dewasa, sabuk pengaman mereka tersambung dengan sabuk pengaman pemangkunya. Sangatlah sulit untuk menyusui bila sabuk pengaman keduanya sudah terpasang. Saya jarang sukses menyusui langsung saat pesawat akan lepas landas maupun mendarat. Setelah beberapa kali mencoba, menurut pengalaman pribadi, hal yang lebih mudah adalah dengan menyiapkan asip di botol, Tidak hanya untuk memudahkan memberikan susu saat masa-masa kritis di atas tapi juga selama penerbangan. Apalagi bila sang ibu hanya terbang berdua saja dengan bayinya, menyusui disebelah pria yang bukan keluarga dengan jarak dari pundak ke pundak hanya sejengkal sungguh tindakan akrobat yang bisa bikin risih luar biasa.

Selain hal-hal di atas, bila anak anda tetap terjaga lama selama penerbangan, orang tua harus pandai-pandai menghibur agar anak anda tidak rewel karena jenuh. Saya memilih membawa beberapa barang di bawah ini sebagai alat hiburan.

a. Kertas kosong atau buku catatan, yang tipis dan murah sudah cukup, dan pensil warna.

Beberapa maskapai penerbangan akan menyediakan goodie bag untuk anak. Biasanya diisi oleh buku mewarnai, pensil warna, buku cerita, dan kadang-kadang makanan. Namun untuk berjaga-jaga, saya selalu mempersiapkan sendiri kertas kosong dan pensil warna dari rumah.

Kebanyakan anak-anak sangat suka mencorat-coret dan perlengkapannya sangat mudah dibawa. Setelah kertas-kertas sudah penuh dengan coretan, kita bisa memilih apakah akan disimpan atau dibuang. Pilihannya tergantung seberapa indah coretannya, apakah seperti hasil karya Leonardo Da Vinci atau lebih mirip benang kusut?

2. Beberapa buku cerita.

Untuk anak usia di bawah dua tahun, menurut saya cukup satu buku dengan gambar yang banyak detil saja. Anak kecil akan senang menunjuk-nunjuk aneka rupa gambar dalam buku untuk minta penjelasan dari orang tua yang berkaitan dengan gambar-gambar tersebut. Kegiatan ini juga meningkatkan kesempatan orang tua untuk fokus berinteraksi dengan anak, yang apabila dilakukan di rumah mungkin akan terinterupsi oleh bunyi pesan masuk ke handphone atau tayangan TV.

Mudah bukan? Tidak perlu membawa sampai 11 tas saat berpergian dengan anak-anak. Tidak perlu juga membelikan tiket pesawat ke Eropa buat pengasuh. Juga tidak perlu menginjak rem untuk berpergian sesudah memiliki anak karena membayangkan kerepotannya. Berdasarkan pengalaman pribadi, travelling dengan anak justru lebih seru dan menyenangkan bahkan memberikan banyak keuntungan. Seperti, layanan khusus untuk memotong antrian panjang di banyak tempat wisata di negara maju adalah hal yang sangat lazim, tempat duduk khusus di angkutan umum, sampai ke penjual yang sering memberikan makanan tambahan gratis seraya berkata “ini untuk nona kecil yang cantik.”

Sekarang, pada usianya yang hampir 3 tahun, anak pertama kami sudah dua kali ke Singapore, dan sudah mengunjungi Malaysia, Vietnam, Italia, Perancis, Belgia, Dubai dan beberapa daerah di dalam negeri. Sedangkan anak kedua, yang penerbangan pertamanya adalah ke Aceh saat baru berusia 2.5 bulan, sekarang di usianya yang baru 6 bulan baru saja menambahkan Batam ke dalam daftar jalan-jalannya. Terbang lagi yuk, Nak.

Kisah petualangan Lala, Kris, dan anak-anak mereka dapat dilihat di Skippin Troupe

——————————————-

Olen dan Oliq

Di pesawat pun tetap setia pada mpasi rumahan

Bagi anda yang pertama kali akan membawa anak terbang pasti akan sedikit panik. Bagaimana kalau dia menangis di pesawat? Tidak mungkin, kan, minta berhenti sebentar sama pak pilot! Namanya juga membawa bayi atau balita, tentu ada suka dukanya.

Pengalaman pertama Oliq terbang dengan pesawat adalah perjalanan Jakarta-Jogja pp ketika umurnya 3,5 bulan. Setelah itu kami beberapa kali kami mudik ke Jogja dengan pesawat. Selama itu hanya sekali Oliq agak rewel, mungkin karena cuaca buruk perjalanan tidak nyaman.

Perjalanan besar kami lakukan pada saat Oliq berusia 6 bulan, yaitu ke Australia, melalui Kuala Lumpur. Sudah terbayang kan bagaimana repotnya membawa bayi berumur 6 bulan dalam perjalanan udara sepanjang 2 jam (Jakarta-KL) ditambah 9 jam (KL-Melbourne) dengan maskapai berbiaya murah. Ternyata tidak demikian lho. Perjalanan sangat lancar.

Saya sengaja membawa makanan pendamping ASI (MPASI) dari rumah, sehingga Oliq bisa makan masakan rumahan ketika transit di Malaysia dan ketika berada dalam pesawat. Saya dan suami memang kadang harus bergantian menggendong si Kecil untuk menidurkannya, tetapi dia sama sekali tidak rewel. Bahkan seorang penumpang berkebangsaan Australia sempat menghampiri mengajak mengobrol,  mengatakan, “Such a good good baby!” Voila! Kami tiba di Tullamarine pukul 2 dini hari, dijemput oleh kawan di sana tanpa halangan suatu apapun.

Penerbangan berikutnya adalah Melbourne-Sydney, but it’s such a piece of a cake for Oliq! Hampir 1,5 jam tanpa halangan. Pulangnya, kami sudah agak deg-degan karena Oliq sempat menangis ketika baru masuk pesawat. Namun setelah disusui ia tidur lelap. Bahkan ketika pesawat mendarat cukup keras pun ia tidak bangun. Perjalanan pulang dari Melbourne ke Jakarta via Kuala Lumpur pun tanpa halangan yang berarti. Kebetulan karena terbang malam, Oliq tidur nyenyak.  Alhamdulillah.

Pengalaman perjalanan agak panjang berikutnya adalah ke Manado ketika Oliq berumur 10 bulan, karena ayah si anak lucu merasa harus nganyari peralatan diving super mahal yang dibeli ketika saya masih hamil (still cursing you for that honey!). Perjalanan berangkat selama 3 jam tidak ada masalah, namun pulangnya Oliq rewel. Tampaknya ia terkena gejala flu sehingga ketika pesawat akan mendarat ia menjerit-jerit. Tentu, penumpang yang lain menengok ke arah kami. Yah, baby is being baby.  Jeritan baru berhenti ketika sudah mendarat.

Perjalanan panjang berikutnya adalah Arab Saudi dalam rangka menjalankan ibadah umrah. Pada perjalanan Jakarta-Jeddah, Oliq juga rewel. Bergantian saya dan suami menggendong berkeliling pesawat terbang. Permasalahannya, entah kenapa, ia tidak bisa tidur. Selama 10 jam di udara, paling ia hanya bisa tidur 1 jam. Beberapa kali ia tenang bermain botol air mineral, sendok, mangkok, tetapi ketika mengantuk ia mulai menangis lagi. Yah satu-satunya cara adalah mengajak ia berjalan-jalan. Si anak lucu itu hanya mau tersenyum-senyum dengan seorang pramugari cantik, sementara ketika dihampiri pramugari yang sudah agak setengah baya ia melengos. Waduh!

Glesoran di Bandara King Abdul Aziz Jeddah

Perjalanan pulang dari  Arab Saudi, justru kebalikannya. Setelah melalui proses imigrasi dan bea cukai yang sangat lama dan menyebalkan, kami naik ke pesawat. Hampir sepanjang perjalanan Oliq tidur nyenyak. Hanya sekitar 1-2 jam terakhir ia bangun dan sama sekali tidak rewel.

Beberapa tips membawa bayi bepergian dengan pesawat terbang:

  1. Pastikan anak tidak sakit. Kalau sedang flu pasti rewel karena telinga sakit akibat perbedaan tekanan udara. Bila anda harus terbang, lebih baik konsultasikan dahulu dengan dokter anak anda.
  2. Bawa obat-obatan wajib: paracetamol, balsem bayi, minyak telon. Oh ya, trombopop buat yang sering kejeduk.
  3. Bayi memakai pakaian yang nyaman namun cukup hangat dengan kaos kaki (Olen ingat ini! – self reminder)
  4. Susui banyak-banyak. Beri makanan ringan juga, misalnya biskuit atau buah.
  5. Bawa mainan kesukaan, untuk Oliq ini berarti bola berwarna oranye, sendok, dan botol air mineral.
  6. Seringlah bawa bayi jalan-jalan di koridor pesawat karena ia pasti akan bosan bila hanya di tempat duduk. Bila sudah berjalan, biarkan ia berjalan-jalan – tentu saja sambil diawasi.
  7. Bawa buku bergambar kesayangan, yang ini saya selalu bawa buku dinosaurus.

Semakin besar semakin mudah, banyak orang bilang demikian. Kata saya, belum tentu lho. Pengalaman membawa bayi 6 bulan rasanya kok lebih mudah daripada bayi 11 bulan yang sudah makin banyak tingkahnya. Tetapi tentu saja, ayah ibunya pun sudah lebih berpengalaman bila ada insiden-insiden kecil. Jadi orangtua itu menantang tapi sangaaaaat menyenangkan, bukan?  Dan kami tak sabar menunggu perjalanan berikutnya, ke Kuala Lumpur hari Minggu ini dan ke Jepang bulan Oktober nanti.

Kiat traveling bersama anak lainnya dapat anda baca di bawah ini

Traveling dengan anak-anak (Part 2): Apa saja yang harus dibawa?

Traveling dengan Anak-Anak Part 3: Berkemas Ringkas Walau Membawa Balita

Traveling dengan Anak-Anak Part 4: Liburan Singkat ke Kuala Lumpur

Advertisements

34 thoughts on “Traveling dengan Anak-anak (Part 1): Terbang Yuk Nak”

  1. Mba… Kmrn ke dubai urus visa utk anak gak? Gmn yah caranya? Sy sdh urus via emirates tp di form pengisian kok tdk ada nama anak saya? Binguuung… Mohon balasannya yah. Tks 🙂

    Like

  2. Waaah, makasih udh bg pengalamannya. Aq rencana mau ke belanda bawa baby, nyusul suamiku yg lg kuliah disana. Skrg baby atha br 2 bln. Rencana nyusul ke belanda abis winter, kira2 maret thn dpn, baby atha udh hmpir 9 bln. Aq msh ragu, krna aq bakal brngkt berdua aja sm baby. Semoga bisa. Oya, hrs ada keterangan dari dokter anak ga? Dan harus vaksin dulu ga sebelum brngkt? Thankyou.

    Like

    1. Kalau sesuai pengalamanku sih selama bayi masih nyusu asi dan kurang dari 1 tahun itu masih gampang dibawaa, karena mereka masih lebih banyak tidur. Apalagi penerbangan ke Eropa biasanya malam terus. Mereka juga belum banyak gerak. Yg agak repot kalau umur 9 bulan berarti udah mpasi. Jadi harus bawa makanan dan kasih makan di pesawat. Itu aja sih mbak. Kalau vaksin sih yang sesuai umurnya ada mbak, nggak ada khusus. Tanya DSA aja ya. Nanti kan kalau umur setaun pas di belanda diimunisasi di sana aja. Good luck ya

      Like

    1. Di Indonesia aku ga nemu mbak. Bahkan di Eropa juga ga semua ada. Aku kasih anakku legging dobel dan kaos ketat plus sweater aja. di mark and spencer juga waktu itu ga ada yg buat anak

      Like

      1. O giitu ya mbak, wkt itu si kecil ga kedinginan/masuk angin gitu mbak? Duh thx bgt ya mbak,hmpir aja sabtu ini ke Mangga 2,kl emg ga ada males sy ke sana,

        Like

      2. Ga sih mbak. Rekor minus 9 derajat Celcius waktu di Norwegia. Kalo suhu minus saya biasanya pakein legging rangkap2+celana panjang tebal. Atasannya kaos biasa + sweater + jaket + winter coat. Kaos kaki rangkap 2 sepatu boots kupluk dan gloves.

        Kalo mau coba telp toko djohan buat nanya longjohn anak. Ada di artikel mencari pakaian musim dingin. Dulu sih ga ada yg kecil bgt. Emg mau ke mana sih mbak?

        Like

  3. Ke Beijing,minggu depan,mgkn blm minus,tp berhub anak sy mungil alias ga smp 13kg,sy takut aja dia ga kuat,soalnya katanya dinginnya Beijing dan eropa itu lbh dingin beijing (baca pengalaman org jg mba hehe). Smntara kl baju xtra double spt anak mba td gmn ya,moga anakku ga rewel krn ngerasa beerat ya beban bajunya,hihi.. duh parah ni mba,kmi papa mamanya uda lengkap smua,eeh anakku malah blm dpt longjohn n bootnya,hufh!

    Like

    1. Anak mungil tosss! Anakku biar cowok kecil juga kok mbak. Waktu pertama ke eropa umur 1,5th plg baru 8-9kg. 1hari doang adaptasinya. Klo udaj 3th udah bisa blg klo kedinginan. Kalem aja. Ntar boots beli di sana gpp lbh murah. Aku beli di amsterdam cm 11euro. Oh, udah coba ke uniqlo? Aku ga tau sih koleksi baju anaknya gmn, klo buat dewasa baju dingin bagus n murah.

      Like

  4. Waaah…thx a lot ni mba sharenya, seneng deh jd ga trlalu worry lg,iya emg kt jdnya mau beli boots n coat di sana aja,soalnya di sini ga nemu *heran* ok deeh..skali lg thk u n nnt blh ya mba nanya2 lg…hehe.. hv a nice week end mba 🙂

    Like

    1. iya di eropa aja ga terlalu mahal kok apalagi di cina. tapi klo mau coat anak aku biasanya ke zara. kalo mau repot-repot di FO bandung n bogor banyak sih. Santai aja sih menurut pengalamanku sih anak ga seringkih yg kita bayangin

      Like

  5. Waahh bacanya jd buat aku tambah deg2an nih. Rencana mau bawa baby ku nti des ke korea, dia lg jalan 9 bln nti pas bln des. Suami agak takut sih krna pasti dingin, di bilang knpa gak april aja. Jadi bingung sih, pdhal mamanya maunya akhir thn. Tp kmren sempet bawa ke bali sih ok2 aja pas 5bln.. gmna dong para bunda???

    Like

    1. yg dibingungin di pesawatnya atau di koreanya? kalo pengalamanku bawa anak di bawah 1 tahun naik pesawat jarak jauh lebih gampang daripada anak 1 tahun. Apalagi kalo anaknya masih nenen. lebih gampang lagi. Oliq 6 bulan ke Australia pake ngemper di KL 6 jam dulu, maklum naik AirAsia. Klo masalah dinginnya tergantung juga. anakku tipikal suka dingin tapi ga tahan panas, jadi dibawa ke daerah suhu minus pun ga masalah asal persiapannya lengkap. Coba dicariin baju termal dulu, selain beli sweater dan wintercoat yang tebal.

      Like

      1. Suamiku takut pas di korea nya krna dingin. Maklum anak pertama, jd dia heboh, naik becak aja heboh, klo emaknya tancap gas aja 😀 Tp aku sih yakin baby ku oke2 aja. Makanya mau konsul ke dokternya, tp ttp lgsg urus pasportnya hehehehe..
        dan pasti bener kata bunda olen, persiapannya hrs lengkaappp ..

        Like

  6. Wah seru bgt mba pengalamannya.. In shaa Allah akhir tahun rencananya mau ke irlandia bareng baby ku yg msh 11 bln.. Aq mhn saran nya donk utk mpasi nya gmn ya??? Gmn cara mempersiapkannya mba? Makasih ya mba utk sharingnya 🙂

    Like

  7. mba rencana mw ke UK bawak anak saya umur 19 bulan,yg saya tanyakan bawak susu formula dan snack gak ada masalah ya? soalnya kan masuk makanan, takut saya tar di sita gak boleh di bawak masuk. sama bawak susu formula sarannya gimana ya? harus di kalengnya aja, apa saya pindah tempat ya? ··†ђąηk ўσυ··

    Like

    1. Yang di kabin bawa susu formula secukupnya aja buat di perjalanan. Boleh bawa termos isi air panas juga mungkin perlu pas di bandara. Kalau di pesawat kan bisa minta. Sufor kalengan yang lain masukin bagasi aja, ga masalah. Snack ga masalah kok.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s