Togean, surga tersembunyi di tengah Sulawesi – bagian 3 ( diving dan perjalanan pulang )


Hari ketiga petualangan saya di Togean bertepatan dengan hari natal. Pada pagi hari hanya ada ada tiga orang yang menyelam, yaitu saya, seorang Jerman bisu, dan dive master Gonzaga. Divespot kali ini bernama The Gap, tidak jauh dari divespot pertama Kota Wall. Divespot kali ini berupa dinding, tidak terlalu dalam, dan sedikit miring. Seperti biasa, koral disini sangat indah, demikian juga keragaman ikan-ikannya. Ada juga ikan napoleon, teripang, dan ikan kotak. Pada penyelaman kedua, kami menuju divespot dominic rock. Divespot ini juga berupa dinding, dan seperti biasa koral dan kumpulan ikannya sangat indah. Disini kami melihat giant moray eel, yaitu hewan laut seperti belut namun lebih besar, biasanya berwarna ungu. Ciri khas hewan ini adalah badannya selalu bersembunyi diantara bebatuan, namun kepalanya terjulur dengan mulut menganga menunggu mangsa. Namun kita harus berhati-hati karena gigi-giginya sangat tajam dan kuat.

Pada sore harinya saya ngobrol dengan seorang pegawai disana bernama Kukun. Menurutnya, dia pernah menyelam hingga 60m hanya dengan selang dan kompresor biasa, untuk mencari ikan menggunakan pukat. Dia bisa menyelam hingga 2 jam sebelum naik dan berganti dengan temannya. Walaupun sebenarnya hal ini sangat berbahaya, namun dia tidak merasa sakit apapun. Yah, memang cerita sebenarnya tidak seorangpun yang tahu, namun cara menyelam seperti itu jelas sangat berbahaya.

Malam harinya hujan turun deras. Paginya, hari keempat saya disana, cuaca terlihat buruk dengan angin kencang dan ombak tinggi. Rencananya pagi itu kami akan menuju Pulau Una-una, namun berhubung cuaca buruk maka tidak memungkinkan pergi kesana. Chris terlihat sangat kecewa dan dia menyalahkan Gonzaga, sang divemaster, karena memutuskan tidak pergi kesana kemarin. Menurut Gonzaga, dia memutuskan tidak pergi kesana karena kemarin hari Natal. Chris masih terlihat kesal karena menurutnya orang-orang tidak terlalu mempedulikan hari Natal. Akhirnya kami menyelam lagi ke divespot The Gap. Kali ini ombak cukup tinggi sehingga kapal berayun-ayun. Arus kuat juga kami rasakan ketika menyelam sehingga kami harus berpegangan pada karang atau batu. Karena hujan deras, visibility tidak terlalu bagus. Disini kami melihat moray eel lagi. Setelah 52 menit menyelam , kami naik ke permukaan dan arus kencang masih terasa. Untungnya kami bisa kembali ke resor dengan selamat meskipun cuaca masih buruk.

Dive center di Kadidiri Paradise Resort

Malam harinya, saya

 

 

 

 

 

 

menyelesaikan semua pembayaran. Untuk diving, tarifnya adalah 1-4 dives 30 USD, 4-9 dives 25 USD, dive ke-10 gratis. Karena saya menyelam sebanyak 6 kali, maka biaya totalnya adalah 4 x 30 USD ditambah 2 x 25 USD atau sama dengan 170 USD. Kurs yang dikenakan adalah 1 USD = Rp 11.000 sehingga totalnya menjadi Rp 1.870.000 .Saya mencoba untuk menawar, tapi menurut Gonzaga, mereka sudah memiliki perjanjian dengan Black Marlin untuk tidak memberi diskon karena orang-orang selalu membandingkan harga di Kadidiri Paradise dengan Black Marlin, sehingga mereka sepakat untuk menyamakan harga. Akhirnya Gonzaga memberi saya diskon 70ribu karena saya orang lokal sehingga total harga menjadi Rp 1.800.000 untuk 6 kali diving. Setelah itu, saya menyelasaikan pembayaran kamar ke Huntje. Tarif kamar adalah Rp 150.000, aqua besar Rp 8.500, dan aqua kecil Rp 4.500. Saya tinggal selama 5 malam dan membeli 6 aqua besar dan 1 aqua kecil, jadi total pembayaran adalah Rp 805.500. Saya coba menawar lagi, dan akhirnya saya harus membayar Rp 800.000. Oya, disini pembayaran untuk diving dan kamar memang dipisah, karena Gonzaga mengatur semua aktifitas diving dan berbagi komisi dengan Huntje. Setelah semua beres, saya kembali ke kamar dan menyelesaikan packing.

Pagi harinya, saya harus meninggalkan Pulau Kadidiri. Kali ini saya ditawari untuk menumpang speed boat yang akan menuju Ampana. Speed boat ini sebenarnya akan membawa sebuah tim dari desa Tobil, sebuah desa di pulau tersendiri, kembali ke Ampana.

desa Tobil, sebuah desa di pulau seberang Pulau Kadidiri

Jika cuaca baik, speed boat ke Ampana hanya memakan waktu 2 jam. Kali ini Huntje juga ikut speed boat karena dia akan kembali ke Wakai. Perjalanan ke desa Tobil hanya memakan waktu kira-kira seperempat jam. Ternyata tim yang akan dijemput adalah dua orang dari Bandung yang sedang mengerjakan proyek PLTS atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Proyek ini merupakan bantuan dari Departemen Kelautan dan Perikanan. Setelah mereka tersebut siap, kami menuju Wakai. Sebenarnya desat Tobil – Wakai cukup dekat, namun ombak sangat tinggi dan cuaca kembali buruk. Dengan penuh perjuangan, akhirnya kami sampai di Wakai dengan selamat, namun kami harus bermalam karena menurut motorist speed boat, perjalanan ke Ampana terlalu berbahaya dengan kondisi ombak tinggi seperti ini. Akhirnya kami terpaksa menginap di Wakai di sebuat losmen yang sangat sederhana. Untungnya paginya cuaca sudah baik dan ombak sudah reda sehingga kami bisa segera kembali ke Ampana. Kali ini perjalan lancar dan dalam 2 jam kami sudah sampai di Ampana. Saya hanya membayar lima puluh ribu sebagai tips kepada motorist. Perjalanan menggunakan speed boat terasa jauh lebih nyaman dan aman, karena peralatan keselamatan tersedia lengkap seperti pelampung dan alat navigasi. Berakhir sudah petualangan saya di Togean dengan sejuta kenangan tak terlupakan.

Advertisements

6 thoughts on “Togean, surga tersembunyi di tengah Sulawesi – bagian 3 ( diving dan perjalanan pulang )”

  1. Posting keren!
    Saya emang ada rencana mau ke Togean…
    Harga diving itu sudah termasuk sewa alat kah? BCD, regulator dkk

    Terima Kasih

    Like

    1. Sudah termasuk… tapi pasti sekarang sudah naik harganya… kalo sudah dari sana, update dong kondisi disana sekarang gimana… thanks

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s