Traveler Tidak Harus Single*


Satu hal yang mengusik saya ketika akan menikah sekitar dua tahun yang lalu adalah apakah saya masih bisa berjalan-jalan. Calon suami saya pada saat itu mengatakan dengan yakin bahwa saya tetap boleh bersolo backpacking — yang ternyata adalah kebohongan terbesar sepanjang sejarah! Bagaimana bisa solo backpacking, kalau tiap mau pergi selalu ada yang nginthil. Ga dink, setelah menikah dia blatantly bilang ga boleh jalan sendirian lagi.

Jadilah Filipina menjadi tempat terakhir saya bepergian sendiri dua bulan sebelum menikah. Usai sudah kebebasan saya melakukan solo backpacking.

Akhirnya saya berperan menjadi istri yang baik dengan menuruti suami. Tentu saja dengan catatan setiap ada kesempatan jalan harus dilaksanakan. Dia tentu senang-senang saja karena sama-sama suka melancong (from this time on you pay for two!). And I finally embraced a different kind of traveling. I travel with husband since.

Bepergian pertama dengan suami adalah bulan madu ke Vietnam. Katakanlah kami sudah cukup hapal dengan gaya traveling masing-masing sehingga yang ini pun kami lalukan dengan gaya backpacking. Beberapa perjalanan lain ke beberapa tempat di Indonesia maupun di negara lain membuat saya menyimpulkan bahwa traveler tidak harus single

Couple Travelers

Trip bersama suami. Bulan madu ke-9 (kira-kira) bersama Gembolan umur 4-5 bulan

Tentu saja bepergian yang seperti ini lebih kompleks. Pertama, bila anda berdua bekerja tentu harus mencocokkan jadwal cuti. Kedua, anggaran yang dikeluarkan sebenarnya sama saja, tetapi menjadi terasa lebih banyak karena anda menghitung untuk dua orang. Berbeda bila anda bepergian dengan kawan, di mana pengeluaran ditanggung masing-masing. Bila anda pasangan yang belum menikah, seharusnya juga lebih sederhana karena pengeluaran ditanggung masing-masing.

Ketiga, sisi positifnya, bila anda dapat memutuskan untuk menikah dengan seseorang tentu bepergian dengannya seharusnya bukan menjadi masalah. Banyak orang bilang bahwa kita baru tahu kepribadian seseorang setelah bepergian dengannya. Saya sangat setuju dengan pendapat itu. Banyak kawan yang menjadi renggang setelah melakukan perjalanan bersama. Nah, menjadi couple travelers seharusnya justru makin mendekatkan sebuah pasangan. Anggap saja bulan madu ke dua, tiga, atau bahkan ke-27!

Keempat, bepergian menjadi lebih terkendali. Tentu saja lebih enak bila dapat saling menjaga. Anda tidak lagi keluyuran terlalu malam, minum-minum dengan orang tak dikenal dan sebagainya. Kelima, lebih aman. Kini tidak ada lagi orang-orang aneh yang mengganggu anda di jalanan, bukan?

Tentu saja syarat mutlak adalah pasangan sama-sama punya passion besar untuk bepergian. Bila pasangan anda kurang suka jalan-jalan mungkin anda akan terpaksa mengurangi frekuensi berjalan-jalan.

Traveling juga harus menempati prioritas yang tinggi dalam rumah tangga. Seperti kami, misalnya, anggaran untuk bepergian setiap tahun SANGAT tinggi (malu bilang berapa, nanti ada yang komentar, “Pantesan masih ngontrak!”). Dan pasangan juga harus sama-sama ikhlas dengan jumlah pengeluaran untuk hal ini.

Hal paling positif yang saya rasakan adalah semua pengalaman baik buruk saat bepergian dengan suami justru makin mendekatkan kami. Dan kami selalu tidak sabar menunggu perjalanan-perjalanan berikutnya.

Triple(or more) Travelers

Nah, kelahiran buah hati tentu saja menambah kompleksitas dalam rencana berlibur. Tetapi bila anda memang memiliki passion yang besar dalam hal ini, tentu bayi tidak akan menghalangi niat anda, justru menambah semangat.

Bahkan ketika anak saya masih dalam kandungan, kami telah membeli tiket liburan keluarga. Hanya saja pada saat itu, tiket untuk bayi akan disusulkan. Kini ketika menentukan destinasi liburan, saya tidak lagi berkata, “Saya belum pernah ke sana!” melainkan, “Anak saya belum pernah ke sana!”

Traveling dengan anak tentu lebih merepotkan tetapi bisa lebih fun!

Beberapa persoalan yang harus dipikirkan ketika anda melancong bersama anak adalah: kesehatan anak adalah mutlak, anggaran bertambah. Selain itu, ada beberapa persoalan lain yang perlu dikaji, antara lain itinerary harus disesuaikan dengan anak, pilihan akomodasi pun tidak bisa sembarangan (anda tidak mungkin memilih dorm kan?). Pilihan destinasi wisata pun harus dipikirkan sebelumnya. Jangan memilih kota dengan infrastruktur yang terbatas.

Punya anak bukan berarti anda harus tinggal di rumah saja, namun tentu saja segala sesuatunya harus disesuaikan. Apalagi, semakin bertambah besar, anak akan semakin mudah dibawa bepergian. Manfaat perjalanan juga sangat besar bagi perkembangan anak.

Suami saya punya hobi baru mengajarkan anak saya menaiki tangga di taman. Mungkin dalam alam bawah sadarnya ia ingin menyiapkan anak kami untuk destinasi Machu Picchu…. Amin.

Saya tidak menyangkal bahwa lebih mudah traveling kita belum berkeluarga. Kita masih belum punya tanggung jawab yang besar, lebih fleksibel, dan dapat melakukan berbagai hal sakpenak udele dewe.Tetapi walau sudah menikah dan bahkan memiliki anak pun, traveling bukan hal yang mustahil. Banyak kok yang sudah membuktikannya!
*Single dalam tulisan ini maksudnya adalah belum berkeluarga, bukan jomblo

**Topik ini akan ditulis lagi secara lebih teratur dan seksama serta mendetail suatu saat nanti

Advertisements

8 thoughts on “Traveler Tidak Harus Single*”

    1. bisa mulai dari yang dekat-dekat dulu. walaupun sudah ke beberapa negara, saya akui keindahan alam Indonesia ga ada yang bisa mengalahkan

      Like

      1. wahh keren bisa keliling dunia mas hehe.. 😀
        pengen sih keliling yang deket deket dulu .. masalahnya masih sibuk dengan kegiatan kuliah.. 😦
        backpacker ada kepuasan tersendiri ya mas 😀

        Like

      2. hehehe makasih mas, tapi saya ‘mbak’ bukan ‘mas’ lho….
        kuliah kan ada liburnya, malah lebih gampang daripada orang kerja, apalagi kalo ada temen2 kuliah yang suka traveling juga. backpacking lebih murah kalo rombongan

        Like

  1. owhh mba ya hehe.. maaf ya mba hehe.. 😀
    iya mba tapi kan udah mulai sibuk sibuk sama tugas nih 😦 ..
    pengennya maen kemana gitu hehe.. 😀
    lagi nentuin target biar refresh ni otaknya xixixi.. 😀
    sukses mba buat jalan jalan nya hehe.. keren keren itu fotonya .. ajibb..

    Like

  2. Bro ada tips travel dengan bayi (dibawah 3tahun).

    1) Ketika di pesawat

    2) Masalah makanan

    3) Ketika berjalan

    Thanks

    Like

    1. kebetulan anak saya baru menjelang 1 th. Dari beberapa pengalaman wisata dalam maupun luar negeri ada beberapa tips.
      di pesawat, untuk penerbangan di bawah 3 jam tidak masalah. apalagi anak sudah 3 th. bawaa saja mainan, susu dan snack. utk penerbangan jarak jauh, saya biasanya bawa makanan bayi, bisa minta dihangatkan di pesawat. maskapai full service
      biasanya akan kasih makanan bayi instan tapi tidak utk low cost carrier.
      bawa obat lengkap misalnya paracetamol bayi/anak, balsem anak, minyak telon. bisa dikasih minyak telon sebelum terbang. klo anak lg flu agak riskan karena takeoff/landing telinga sakit. sebelum takeoff/landing disuruh makan snack atau minum susu supaya mulut n telinga terbuka.
      lainnya sih standar aja, bawa perlengkapan semua, mainan dll.
      makanan. kalo anak 3 tahun rasanya sudah makan spt org dewasa ya, jadi ga masalah. tapi kalo punya diet khusus ya lebih baik dipersiapkan. bulan lalu saya bawa anak 11bln ke arab bawa kompor listrik utk masak nasi tim. bisa dibwaa juga abon, atau lauk lain yg disukai anak.
      di jalan, maksudnya perjalanan darat? tantangan utamanya biasanya anak bosan. harus bawa mainan kesukaan yg banyak, buku gambar, bisa juga didongengin pk buku cerita.

      saya pernah nulis artikel di Yahoo Travel tetag wisata ke luar negeri dengan bayi. sebentar saya carikan linknya.

      semoga sedikit membantu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s