Togean, surga tersembunyi di tengah Sulawesi (bagian 1 – transportasi dan akomodasi)


Togean.Saya yakin, sebagian besar masyarakat Indonesia, bahkan yang mengaku hobi jalan-jalan, mungkin termasuk Anda, belum pernah mendengar kata Togean. Tapi tahukah Anda, bahwa sebuah survey menyatakan bahwa Togean termasuk salah satu tujuan wisata terpopuler di Asia?

Pantai pulau Kadidiri

Togean terletak di kabupaten Tojo Una-una, propinsi Sulawesi Tengah. Kabupaten TojoUna-una atau disingkat Touna adalah sebuah kabupaten hasil pemekaran kabupaten Poso. Togean sendiri terletak di kepulauan Walea di teluk Tomini. Apabila Anda melihat peta Sulawesi, teluk Tomini adalah teluk diantara Sulawesi Utara (termasuk Gorontalo) dan Sulawesi Tengah. Untuk menuju ke Togean, ada dua jalur utama yaitu dari Gorontalo atau dari Sulawesi Tengah. Dari Gorontalo, Anda bisa menaiki KM Puspita selama kurang lebih 8-10 jam. Kapal ini cukup besar dan relatif nyaman, serta lebih aman untuk melintasi lautan lepas yang seringkali mengalami ombak besar dan cuaca buruk. Kapal ini akan menuju Wakai, sebuah kota kecamatan sekaligus kota terbesar di kepulauan Walea. Jika Anda ingin menuju Togean dari Palu, ibukota Sulawesi Tengah, Anda harus menuju kota Ampana, ibukota kabupaten Tojo Una-una. Perjalanan Palu-Ampana bisa ditempuh dalam waktu 10 jam menggunakan travel bermobil L300 9 penumpang. Ada 3 penyedia jasa travel yang terpercaya yaitu Touna Indah, Togean Indah, dan Kesayangan Indah. Biaya untuk sekali jalan adalah Rp 120.000 termasuk air mineral 600 ml. Umumnya travel dari Palu akan berangkat malam hari sehingga ketika Anda akan sampai di Ampana pada pagi hari. Dari Ampana, Anda bisa menggunakan KM Puspita yang beroperasi tiap hari kecuali hari Kamis dan Jumat. Biaya dari Ampana ke Wakai adalah Rp 40.000 dengan waktu tempuh 4-5 jam.

Namun bila kapal sedang tidak beroperasi, ada alternatif lain yaitu menggunakan kapal ketinting. Kapal ini adalah kapal kayu yang berukuran panjang 15 m dan lebar 2 m, dengan penumpang hingga 30 orang termasuk kru kapal. Kapal ini menggunakan mesin diesel ganda Dong Feng berkekuatan 200 pk. Mesin diesel buatan Cina ini sangat umum digunakan di kapal-kapal nelayan karena murah dan tangguh. Harga tiket resmi adalah Rp 30.000 dan dibayarkan di loket pelabuhan, bukan ke kru kapal. Kapal ini sangat sederhana, hanya berupa kapal kayu yang dilengkapi terpal, tidak ada kursi atau fasilitas lain, jadi penumpang cukup lesehan di dalam kapal bersama barang-barang bawaan. Fasilitas keselamatan hampir tidak ada, apalagi radio ataupun GPS. Jadi sangat disarankan Anda membawa peralatan keselamatan seperti pelampung jika Anda bendak menggunakan kapal ini, mengingat cuaca bisa berubah setiap saat dan resiko kapal tenggelam terhantam ombak cukup besar. Kapal ini tidak langsung menuju Wakai, tapi menuju Lebiti, sebuah desa kecil yang teletak paling dekat dari daratan Sulawesi. Waktu tempuh kira-kira 4,5 jam. Dari Lebiti Anda harus menyewa kapal yang lebih kecil untuk menuju Wakai. Kapal ini hanya berukuran panjang 3 m dan lebih 0,5 m. Atau dengan kata lain, kapal ini hanya selebar orang dewasa duduk. Kapal ini hanya menggunakan daun kelapa kering yang dianyam sebagai atap, dan dilengkapi bambu di kedua sisi sebagai penyeimbang. Mesin yang digunakan adalah mesin 2 tak Honda berkekuatan 5 pk. Mesin ini juga cukup populer digunakan sebagai mesin kapal kecil. Perjalanan Lebiti menuju Wakai ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Harga sewa antara 50.000-75.000. Bila Anda bisa bergabung dengan penumpang lain, biaya bisa dibagi hingga 10.000 per orang.

Perahu ketinting kecil

Wakai sendiri sebenarnya bukan tujuan utama pelancong. Tentu saja di Wakai juga tersedia penginapan maupun fasilitas lainnya. Umumnya pelancong akan menuju Pulau Kadidiri sebagai tempat tujuan utama di Togean. Perjalanan dari Wakai ke Pulau Kadidiri bisa ditempuh dalam waktu 30 menit menggunakan perahu ketinting kecil dengan harga sewa antara Rp 25.000-30.000. Namun umumnya penginapan di Pulau Kadidiri akan menyediakan perahu untuk menjemput penumpang dari KM Puspita. Di Pulau Kadidiri, ada tiga tempat penginapan yang bergaya resort.

Penginapan yang pertama berdiri adalah Kadidiri Paradise Resort. Resor ini dimiliki oleh Huntje, seorang wanita Luwuk keturunan Tionghoa, dan suaminya, pria Wakai keturunan Tionghoa juga. Suaminya adalah generasi kelima perantauan Kanton yang menikah dengan orang Goronatalo lokal. Awalnya mereka hanya memberi tumpangan kepada pelancong di rumah mereka di Wakai, karena rumah mereka termasuk yang terbaik di Wakai. Perlahan-lahan, mereka membeli sebidang lahan di pulau Kadidiri dan mulai membangun resor hingga besar seperti sekarang. Kamarnya bergaya bungalow bambu berukuran 4×4 m2. Interiornya meliputi ranjang double bed dengan kelambu, kursi rotan, meja kayu, lampu meja, dan kamar mandi bergaya hutan (jungle bathroom), yaitu kamar mandi dengan lantai dan dinding batu dan tanpa atap. Jangan khawatir, meski tanpa atap, dindingnya cukup tinggi sehingga tidak bisa diintip dari luar. Kamar yang termurah terletak di atas dah tidak menghadap laut. Sementara kamar yang lebih mahal memiliki ukuran lebih besar, yaitu 5×5 m2 dan menghadap laut, tapi fasilitas lainnya hampir sama. Harga sewa termurah adalah Rp 150.000 dan termahal adalah Rp 175.000. Harga ini sudah termasuk 3x makan sehari, namun tidak termasuk makanan ringan, minuman ringan, air mineral, dll. Yang menarik di penginapan ini, yang diikuti oleh pesaing-pesaingnya, adalah makan dilakukan bersama-sama dalam sebuah meja panjang, terutama makan malam. Konsep yang ditawarkan adalah kekeluargaan, sehingga tamu-tamu yang berkunjung merasa seperti satu keluarga ketika berada dalam resor ini. Pada umumnya, tamu-tamu menginap disini lebih dari seminggu, bahkan ada yang menginap hingga 2 bulan.  Wajar karena harga yang murah dan lokasi yang terpencil sehingga mereka tidak ingin waktu yang terbuang di perjalanan menjadi sia-sia. Mayoritas tamu adalah wisatawan mancanegara, umumnya dari Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Belanda. Ketika saya berkunjung kesana, saya menjadi satu-satunya wisatawan dalam negeri dari sekitar dua puluhan tamu saat itu.

Makan malam bersama di tepi pantai

Resor lain yang terletak persis disamping Kadidiri Paradise adalah Black Marlin. Resor ini dimiliki oleh seorang berkebangsaan Inggris yang menikah dengan orang lokal Wakai. Resor ini mirip dengan Kadidiri Paradise, hanya lebih kecil. Namun banyak yang mengatakan resor ini lebih terorganisir daripada Kadidiri Paradise. Pada saat KM Puspita merapat di Wakai, kru kapal dari Black Marlin selalu meneriakkan, “Black Marlin, Black Marlin,” sementara kru kapal dari Kadidiri Paradise hanya menunggu sambil merokok. Tak heran, banyak tamu yang awalnya hendak pergi ke Kadidiri Paradise justru berakhir di Black Marlin karena bingung ketika hendak menuju kesana.

Black Marlin Resort

Resor lain yang lebih kecil dan sederhana, terletak di samping Black Marlin, adalah Pondok Lestari Kadidiri. Resor ini sangat sederhana, kalau tidak mau dibilang seadanya. Anda bisa menyewa ruang keluarga bila bungalow sedang penuh, hanya dengan harga Rp 50.000. Saat saya kesana, ada sepasang tamu dari Amerika yang sedang menginap disana. Dana terbatas menjadi alasan mereka, karena mereka akan berkeliling Asia secara hemat. Karena sang wanita adalah instruktur Yoga, dia sering berlatih Yoga di jetty ketika sore hari.

Pondok Lestari, akomodasi termurah di pulau Kadidiri

Tentu Anda bertanya-tanya, apa yang menarik di Togean sehingga para pelancong rela menempuh perjalanan berhari-hari dan tinggal hingga berbulan-bulan? Saya akan bahas di tulisan berikutnya, jadi Anda harap bersabar untuk mendapatkan informasi yang detil dan menarik. Oh ya, harga-harga yang tertera di tulisan ini adalah harga tahun 2007, jadi Anda bisa memperkirakan harga sekarang dengan asumsi inflasi 10% per tahun.

Advertisements

4 thoughts on “Togean, surga tersembunyi di tengah Sulawesi (bagian 1 – transportasi dan akomodasi)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s