Hijab Backpacking (tetap nyaman melancong ke luar negeri pakai kerudung)! Part I


Saya yakin banyak backpacker perempuan yang menggunakan hijab (Note: saya tidak pernah menggunakan istilah “jilbab”, dan lebih memilih menyebut diri saya “pakai kerudung”). Dan saya yakin juga banyak yang bertanya-tanya, bagaimana rasanya melancong ke luar negeri — di negara di mana Islam bukan agama mayoritas — dengan menggunakan hijab.

Ada bedanya, tetapi tidak jauh berbeda.

Memang saya belum lama menggunakan kerudung, baru sekitar 2 tahun. Sebagian besar perjalanan  ke luar negeri saya lakukan ketika belum berhijab. Seragam favorit saya ketika berbackpacking — terutama saat melakukan solo backpacking — adalah celana jins atau celana pendek selutut, kaus lengan pendek, sandal gunung (saya pengguna fanatik merk Teva), menggendong tas punggung — dan kemungkinan besar sedang membawa Lonely Planet.

Ketika saya mulai berkerudung saya juga sempat bertanya-tanya, apakah ada yang akan berubah. Saya akan berbagi sedikit pengalaman saat melancong ke luar negeri selama 2 tahun terakhir, baik di negara mayoritas Muslim maupun yang bukan.

1. Thailand — rasanya tidak ada yang berbeda, selain kenyataan bahwa para pelayan restoran sibuk menawari makanan-makanan halal. Banyak yang mengira saya berasal dari Malaysia. Kelebihan lainnya adalah ketika berkunjung ke wat, saya sudah berpakaian cukup konservatif.

Bersama Big Buddha. Siapa yang lebih besar?

2. Malaysia –yang ini rasanya biasa saja karena toh banyak orang Malaysia yang berkerudung, walau kerudung mereka tidak sekeren saya 😀 (padahal sama-sama beli di Tanah Abang!)

3. India. Nah ini agak unik. Mayoritas orang India memang beragama Hindu (dengan minoritas Sikh), namun populasi Muslim di negara tersebut sebenarnya sangat besar. Di Delhi, dengan memakai kerudung saya merasa lebih diperhatikan orang lokal. Tidak ada yang mengganggu sih, namun seolah-olah saya “stood out the crowd”. Di Agra lain lagi ceritanya. Para tukang bajaj dan sopir taksi langsung menghampiri dan berkata bahwa mereka juga Muslim, hanya untuk menarik kami naik bajaj atau taksi mereka. Selain itu, kebanyakan atraksi wisata di Delhi dan Agra adalah peninggalan kejayaan Islam (Taj Mahal, Qutb Minar, Jama’ Masjid dll). Justru ketika kami mengunjungi Qutb Minar dan terpaksa shalat di taman karena tidak menemukan masjid — padahal sebenarnya ada di bagian depan — banyak wisatawan domestik yang malah sibuk memotret kami. Seolah-olah pemandangan orang shalat itu sangat aneh nan luar biasa. Cerita tentang India ini ditutup dengan kisah di pesawat saat terbang dari Delhi menuju Kuala Lumpur. Seorang penumpang India memaksa (maksud saya “insisted” tapi bingung padanan kata Bahasa Indonesianya) seharusnya kami bisa berbahasa Hindi hanya karena saya berkerudung dan suami saya berjenggot. Nah, aneh kan?

Berkerudung di tengah kota Sydney

4. Australia. Karena pernah tinggal di negara ini, bahkan sebelum berangkat pun saya yakin gaya berbusana saya tidak akan menjadi masalah. Australia adalah negara majemuk yang secara umum saling menghormati perbedaan masing-masing. Berkerudung tentu membuat orang lain langsung tahu bahwa saya Muslim. Namun, sama sekali tidak terlihat perlakuan yang berbeda. Di Melbourne Zoo, petugas langsung menyapa ramah dan bertanya apakah kami berasal dari Indonesia. Di halte tram, seorang bapak tunawisma tersenyum dan memberi saya tempat duduk karena hendak menyusui anak saya. Di kereta di Sydney yang membawa kami dari bandara ke pusat kota, seorang nenek tua menghampiri sambil berkata “Welcome to Sydney!” Di jalan, tempat wisata, dsb, tidak ada tatapan mata aneh, pandangan tajam, atau bisik-bisik. Bahkan ketika kami terpaksa shalat di taman di Shrine of Remembrance di Melbourne atau Sydney Botanic Gardens, tidak ada tatapan menghakimi. Tampaknya mereka maklum dan lewat kerudung yang saya pakai, mereka memahami kami beragama Islam dan hanya menjalankan kewajiban agama kami.

Itu hanyalah sekelumit kisah yang saya alami selama dua tahun kehidupan saya berkerudung. Ada beberapa kiat dalam menjalankannya:

1. Be yourself, terdengar klise tapi apa kita harus mengganti apa yang kita yakini bila kita pergi ke suatu tempat?

2. Jangan menghakimi terlebih dahulu hanya karena apa yang dipublikasikan oleh media tentang “potret Islam di mata internasional”. Apa yang terjadi pada Shah Rukh Khan di Amerika Serikat tidaklah selalu terjadi pada kaum Muslim lain.

3. Santai saja. Anda kan wisatawan, berlakulah seperti wisatawan yang lain. Melihat-lihat, memotret, foto-foto dengan pose aneh. Apa sajalah yang biasa anda lakukan.

Shalat di taman pun tidak masalah

4. Tetap melakukan apa yang menjadi kewajiban anda. Jangan malu. Orang yang memiliki toleransi pasti paham kok. Bila ada yang tidak, shame on them!

5. Jangan tinggalkan kesan buruk, misalnya membuang sampah sembarangan, menyerobot antrian dll. Yang membuat agama memiliki citra buruk bukannya gaya berpakaian, melainkan kelakuan negatif para pemeluknya.

6. Kalau memang ada yang menatap tajam anda, lempar senyum saja. Pasti orang tersebut mati kutu kena lempar senyum manis anda!

Artikel ini akan senantiasa di-update dengan part-part berikutnya, seiring dengan perjalanan-perjalanan saya yang lainnya. Insya Allah. Bagian II Hijab Backpacking ke Jepang sudah available di sini.

Bila ada pengalaman-pengalaman lain untuk dibagi, silakan share di sini 🙂

Backpacker Berkerudung itu bukan hal yang luar biasa kok 😀

Advertisements

24 thoughts on “Hijab Backpacking (tetap nyaman melancong ke luar negeri pakai kerudung)! Part I”

  1. Aku juga selalu menyebut pakai kerudung instead of yg lain2.

    Aku suka artikelnya, dan ada Oliq dmana-mana. Hehe..
    Kaaakk bikin yang episode ke Eropa, Jepang, Korea dooong *ngelunjak*

    Like

    1. ah adik, kita kan selalu sehati, bahkan untuk masalah susu cimory.
      edisi jepang akan menyusul musim gugur tahun ini. tiket udah di tangan :). edisi eropa insya allah masih nunggu musim semi tahun depan. harap maklumlah namanya ibu rumah tangga pengangguran

      Like

      1. OH MY GOD! Ikut dooong hahaha…
        Aku mau ke Filipin dulu deh bulan Juni. Btw Mei aku ke Jogja looh, kamu ga liburan kesana lagi?

        Ah, biar pengangguran, yang penting liburan jalan terus dooong.
        See you in the air! 😀

        Like

      2. wah pilipinnya ke mana? entar share ya. aku cuma pernah ke manila ama tagaytay aja. itu ada beberapa artikel ttg pilipin siapa tau membantu hehe.
        aku pengen ke boracay dan pantai2 nya deh ya…. tadinya mau ke sana bln kemarin tapi akhirnya cuma manado aja

        Like

  2. Emmm… kayanya mau ke boracay sih Mba. Tapiiii masih tentative juga nih hahaha
    Ternyata tiketnya masih mahal2. Okay, gugling lagi!

    Like

    1. ngoooooook iri. coba cebu pacific. aku naik itu dulu murah trus sampai di manila subuh, jadi pas bgt. irit waktu. kalo asia tenggara sih favoritku masih vietnam hehe

      Like

  3. Ah senang membacanya… ga perlu takut mengidentifikasi diri sendiri… dan ga perlu buka jilbab eh hijab.. cuma karea ke Eropa doang.. love you Olen – budhe –

    Like

    1. tentu demikian budhe-ku. apalagi kalo ke tempat2 aneh macam tuol sleng, bisa jd pelindung dari arwah penasaran wakakakkaka.

      Like

  4. saya pernah berwisata ke Cina… ke Jiuzhaighou dan Zhangjiajie
    disana hampir kami yang berjilbab sering sekali mendapatkan tatapan aneh dari penduduk lokal, mereka masih asing dengan tutup kepala…

    Like

    1. mungkin di banyak tempat memang seperti itu mbak terutama di daerah terpencil. saya juga punya pengalaman harus menjelaskan kenapa saya gak bisa makan/minum yg mereka tawarkan di pedalaman vietnam, karena itu pas bulan puasa. Ya kita memang cuma bisa maklum. Yg penting harus tetep stay cool dan banyak2 senyum pasti mereka suka sama kita hehe

      Like

  5. salam kenal mba olen. saya lihat ada kata2 sendal merk teva langsung gatel pengen koment *eh tanya lebih tepatnya hehehww, minta review sendal teva nya dong mba? secara tiap hari saya ngelihat merk itu cukup familiar di hong kong. karena sebenernya saya suka pakai yang rei punya dan disini gag ada hiks, jadi pengen nyari gantinya.

    makasi banyak mba.

    Like

    1. Bentar…bentar….jadi Teva banyak di HK??? Yaaaahhhhhhhhh *mewek* di Indonesia udah ga ada sama sekali. Di Malaysia jarang banget. Teva terakhirku dibeliin suami waktu ke AS

      Liked by 1 person

      1. Yaaah aku dulu ke HK ga mampir belanja. Sibuk cari mesjid *kibas mukena*. Eh tapi bener dink aku pernah lihat logonya di Stanley Market. Aku suka teva karena di kakiku lumayan awet. Pernah punya yg tahan sampai 6 tahun dan sama sekali ga mangap. Sampai dipensiunkan pun sebenarnya blm ada yg rusak. Teva berikutnya tahan 3 tahunan sampau kemudian talinya jebol dan dijahit. Terus jebol lagi. Sekarang pakai Teva Tirra. Modelnya bagus2 aku sukaaaak! Kapan pulang Indonesia mbak, mbok titip hahaha

        Like

      2. Wah, awet ya mba. Besok lihat2 dulu ahh.
        Lha kok ya ndilalah aku baca teva nya pas sehari setelah sodara q balik indo. Hehehee. Nanti deh mba kalo ada teman ato sodara yg mo balik indo lagi saya kabari.

        Like

  6. Assalamualaikum, halo mba… mungkin mba ada saran aku baru berkerudung setahun ini. Nah, sebelum berkerudung aku buat passport, dan sekarang aku mau buat visa ke Australia (Perth), tidak apa2 yaa pass photo aku sekarang berkerudung. Dan kira2 nanti bermasalah di imigrasinya ga ya. Makasi mba.

    Like

    1. Ga masalah mbak. Aku malah di beberapa visa fotonya ga berkerudung krn pake foto lama smntara paspor udah hijab. Ga pernah mslh kok. Yg paspor lama kebalikannya. Ga pernah ada mslh juga. Good luck!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s