Kecegat Ratu di London


Perjalanan ke London ini tidak direncanakan sebelumnya, jadi memang tanpa persiapan yang matang. Ujug-ujug saja in the morning saya merasa daripada cuma glundang-glundung di rumah, mending jalan ke London.

Depan Buckingham Palace setelah Ratu lewat

Kami pergi naik kereta dari Crawley, tapi karena sedang ada perbaikan rel, digantikan dengan bus sampai stasiun berikutnya, Three Bridges. Kereta dari Crawley sampai ke Victoria Station itu termasuk national rail atau sepur antarkota. Tiket sehari adalah £11 untuk satu orang. Travelcard itu boleh digunakan untuk moda transportasi umum apa saja di London zona 1-6 dalam sehari.

Kereta yang membawa kami ke London seperti kereta antarkota biasa, bukan yang keren banget kaya kereta-kereta di Jepang ya. Di kereta ini penumpang bebas makan minum. Tahu gitu kan sedia kopi ya wekekek. Butuh waktu sekitar satu jam hingga sampai di London. Continue reading Kecegat Ratu di London

Advertisements

Terbang bersama Anak-Anak dengan Emirates


Naik pesawat dengan anak-anak ini biasanya memunculkan kekhawatiran bagi orang tua. Tapi, seiring dengan waktu, biasanya anak-anak juga semakin familiar dengan proses perjalanan dengan pesawat. Itu kalau 2-3 jam. Kalau 5 jam ke atas, tetap mikir trik gimana biar anak ga bosan. Anak-anak saya kebetulan sudah terbiasa terbang dengan AirAsia tanpa in-flight entertainment (IFE). Jadi saya merasa selow banget pas mau terbang dengan Emirates wkwkwkwk.

Pesawat jumbo jet kaya gini emang beda sama 737 atau A320 yang biasa kami tumpangi

“Asyik ada TV-nya, bisa main games juga!” kata Oliq.

Sebenarnya saya sudah banyak membaca review bagus tentang Emirates, terutama dalam hal terbang bersama anak-anak. Tentu pengalaman terbang ini tidak bisa saya bandingkan dengan maskapai kesayangan kita semua AirAsia dan LCC lain. Tapi, boleh dong dibandingkan dengan beberapa maskapai full service yang pernah saya naiki dengan anak-anak.

IFE penting banget kalau penerbangan long haul

Kami pernah terbang dengan Malaysia Airlines, Malindo, Turkish Airlines, Etihad, KLM, Garuda, dan Air France. Terus terang, pelayanan terbaik dari Emirates, memang. Garuda bawa bayi paling juga cuma dapat bebek-bebekan karet itu dan makanan bayi Heinz jar. Naik Etihad, padahal business class, ga inget deh dapat apa, ga ada yang spesial makanya saya ga ingat. Naik Turkish dapat boneka teddy bear pakai baju pilot.

Continue reading Terbang bersama Anak-Anak dengan Emirates

Malam Pertama di Inggris dan Bencana yang Menyertainya


Kalau kalian pembaca kaffah blog ini pasti akan menjagokan kisah ini menjadi salah satu dari Pengalaman Sial Saat Traveling yang selalu memancing kebahagiaan dan gelak tawa kalian. Ckckck….

Entah kenapa ya, selalu ada pengalaman yang ono-ono wae menyertai perjalanan kami. Padahal kami ini termasuk orang yang nggak neko-neko. Pun, kami juga bukan traveler amatir yang baru pertama ke luar negeri. Seharusnya kejadian-kejadian ajaib dalam perjalanan bisa diminimalisasikan. Tapi mbuh ya, kayanya memang Puput itu identik dengan pengalaman wagu. Saya sih cuma collateral damage-nya wkwkwk. Hikmahnya sih, saya jadi punya bahan tulisan buat ngeblog.

On the way to post office ngambil resident permit

***

Kalian tahu nggak, ini adalah kesempatan ke 4 Puput terbang ke Inggris, Kesempatan 1, 2, 3 gagal total. Kenapa? Kesempatan pertama dan ke dua, ketika dia kerja di perusahaan Inggris, dia diajak bosnya ke London, business trip untuk meeting. Tapi ya dasare paspor ijo, kudu apply visa dong ya, sementara bosnya melenggang terbang, Puput harus nunggu visa. Pas visanya udah jadi, bosnya udah balik ke Jakarta lagi. DUA KALI. Nggonduk banget ga sih? Wekekekek. Continue reading Malam Pertama di Inggris dan Bencana yang Menyertainya

Transit di Dubai dan Visa UAE


And yes, buat kalian yang masih penasaran, kami sekeluarga pindah ke London. Memang agak tidak terduga sebelumnya, ujug-ujug dapat memo pindah. Sebenarnya bukan London banget sih, tapi London coret. Lebih tepatnya di dekat bandara London Gatwick (LGW).

Tapi postingan kali ini belum membahas London. Kebetulan kami sempat transit di Dubai. Jadi yaaa ceritanya tentang Dubai dulu.

Awalnya ketika mau booking tiket ke London, kepikir mau naik yang direct aja, entah MH atau BA.  Maksudnya biar ga usah repot-repot transit, nungguin lagi, terbang lagi. Tapi tiba-tiba terbaca klausul bahwa biaya transit bakal diganti. Wakakaka, lha kan eman-eman kalau tidak dimanfaatkan. Emang keluarga traveler kere.

Saya cek-cek cari pesawat yang terbangnya ke Gatwick instead of Heathrow. Maksudnya untuk menghindari bandara yang katanya tersibuk di dunia, gitu. Ternyata banyak juga yang terbang langsung ke LGW. Salah satunya Emirates. Continue reading Transit di Dubai dan Visa UAE

Looking at Malaysia’s History at Taiping


Malaysia is not only KL, Penang, Langkawi and Malacca! There are more destinations with many attractions to visit. (Harusnya Simbok diangkat jadi Duta Pariwisata Malaysia sama Syed Saddiq – Menterinya aja milih wekekeke)

I am writing this piece while drinking charcoal roasted white coffee from Antong coffee mill in Taiping, the oldest coffee mill in Malaysia.

Perak Museum

If you want to to look closer to Malaysia’s history, particularly during colonialism era, you should go to Taiping. The town used to serve as Perak state capital lies between Ipoh and Penang. It has the first museum in Malaysia, as well as the first operational rail way station, and most importantly the first coffee factory in the country.

Many people overlook this town on the way to more developed Penang. We did not even consider it as tourism destination until recently, when we ran out weekend getaway destination. But yet, we found Taiping has many attraction to offer, so a weekend is actually not enough to cover all. Continue reading Looking at Malaysia’s History at Taiping

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travelling books and travelogue. Write travel articles for media. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family travelling with kids/babies.