Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia


Gara-gara cari lokasi mana saja yang bisa dikunjungi di Tallinn, saya nemu beberapa blog yang menulis tentang tempat-tempat berhantu di sekitar kota tua. DAN SEMUANYA BERADA DI SEKITAR KAMI. Waakkakakakka.

Pikk jalg, Tallinn

Oh ya, apartemen kami berada tepat di bawah The Long Leg Gate. Interior apartemennya bagus, putih, bersih, modern. Terang karena jendela-jendelanya sangat lebar, kebetulan waktu itu Tallinn cerah ceria. Begitu saya foto ke luar dari jendela, kirim ke Delin, dia langsung bilang, “Creepy.” Dia memang penakut banget sih, padahal menurut saya biasa-biasa aja, pemandangan tembok batu dan tower berusia ratusan tahun. Cakep ah.

Yang lebih serem itu malah pemandangan dari jendela koridor. Lha langsung berhadapan dengan jendela apartemen tetangga dan tidak bertirai. Sementara saya taro koper di situ. Kalau mandi suka lupa bawa baju, terus keluar begitu saja. Ora klamben. Terus hiyaaaaaa kok ya apartemen tetangga pas ada orangnya. Continue reading Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia

Advertisements

Syukur Terkecil


Travelling, berada di negeri asing membuat saya sering menyukuri nikmat-nikmat yang sangat sederhana. Nikmat yang sangat biasa. Yang biasanya hal-hal itu bukan apa-apa.

Di Tallinn, Estonia

Di Bandara Riga, Latvia, saya duduk menyempil di pojokan ruang tunggu. Tidak terlalu kentara, saya menjalankan salat Subuh. Negara-negara Eropa Timur ini tidak terlalu mengenal Islam. Sering saya ditatap lekat-lekat gara-gara mengenakan kerudung. Sepanjang lima hari penuh di Estonia dan Latvia, tidak pernah satu kali pun saya bertemu dengan perempuan lain yang berhijab. Berbeda dengan di Helsinki, Finlandia, masih cukup sering bertemu saudara seiman keturunan Afrika. Continue reading Syukur Terkecil

Crazy Rich Jakartan


Gara-gara nonton “Crazy Rich Asian” dalam perjalanan pulang dari Lagos (telat banget yak), saya kok jadi teringat pengalaman beberapa tahun silam saat berjumpa seorang Crazy Rich Jakartan. Oya, saya emang sangat jarang banget nonton film, apalagi yang di bioskop, biasanya juga cuma nonton pas kebetulan naik pesawat full service yang ada pilihan filmnya.

Jadi tahun 2013 saya ada biztrip ke Amerika untuk inspeksi peralatan yang akan dipasang untuk suatu proyek di kantor. Ini prosedur standar untuk memastikan peralatan yang dibeli memang sesuai spesifikasi dan bekerja normal sebelum dikirim ke Indonesia. Kebetulan bos lagi baik hati mau ngirim saya pergi jauh-jauh ke Amrik, biasanya dia sendiri yang pergi kalau jauh-jauh hahaha….

Continue reading Crazy Rich Jakartan

Petualangan di Finlandia, Estonia, dan Latvia dengan Anak-Anak


“Kamu yakin tega aku sama anak-anak plesir sendirian?” kata saya kepada suami.

“Ya tega aja. Kamu kan strong, Cup. Estonia negara maju. Dudu Zimbabwe.”

HALAH aku juga yakin nek misale kejadiannya sama Zimbabwe, dia akan ngomong semacam, “Zimbabwe yang sekarang udah aman, Cup, bukan kaya dulu lagi. Yang penting kamu bawa yuan cukup.” Semacam kuwi lah. Aku ki wis apal karo bojoku.

Tapi tentu dramanya dimulai jauh sebelum itu.

Anak-anak di Laima Clock, Riga, Latvia

*** Continue reading Petualangan di Finlandia, Estonia, dan Latvia dengan Anak-Anak

The Bright Side of Brighton


Kalau kalian atau anak-anak kalian punya ketertarikan untuk belajar studi pembangunan — development studies — ada baiknya untuk mencari informasi tentang Brighton. Sebuah kota yang vibrant, meriah, di selatan Inggris.

Bulan lalu kami mendadak ke Brighton, yang cuma 30km berkendara dari Crawley. Tanpa rencana sebelumnya karena kebetulan matahari bersinar cerah setelah dua minggu diterpa badai. Bukan untuk cari sekolah, cuma mau cari pantai hahaha.

Anyway, bicara tentang sekolah, Brighton and Hove (demikian nama resmi kotanya sejak tahun 2000) memang punya dua universitas besar. University of Sussex, walau tidak masuk Top Ten Universities di UK, memiliki Institute of Development Studies yang kabarnya terbaik di dunia.

Nah, kan, pantesan temen saya kemarin menyarankan saya ke IDS aja kalau mau nerusin sekolah lagi. Perguruan tinggi lainnya adalah University of Brighton. Silakan cek-cek sendiri untuk ranking universitasnya. Sekilas yang saya lihat biaya hidup seorang mahasiswa di Brighton antara GBP 600-1250 per bulan. Jadi sekitar 10-22 juta/bulan. Tentu itu di luar tuition fee dan establishment-nya.

Karena tujuan utama adalah ke pantai, kami lempeng aja lurus ke British Airways i360 yang memang ada di pusat pantai Brighton. Bahkan Royal Pavillion aja kami cuekin. Padahal awalnya memang kami ga mudeng kalau itu Royal Pavillion adalah atraksi utama di Brighton.

Kirain gurdwara hahahahahhahahha. Malah kami langsung menyimpulkan bahwa banyak orang Sikh di Brighton kalau bisa bikin gurdwara segede itu. Forgive our ignorance wkwkwk.

Continue reading The Bright Side of Brighton

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.