Menyapih Cepat Tanpa Berbohong


Status FB saya tempo hari tentang penyapihan Ola ternyata memantik beberapa pertanyaan dari ibu-ibu galau yang sedang dan berencana menyapih anaknya.P_20170415_104758

Ini statusnya:

Menyapih

Yang menyapih itu bukan ibunya, tapi anaknya, begitu kata forum ibu-ibu. Harus menyapih dengan cinta, ga boleh dipaksa, katanya demikian.

Kami udah lewat deh kalau sama teori parenting. Terlalu ngeyelan wekekek. Udah anak ke dua juga. Full stop.

Nurut sama Quran. Dua tahun cukup. Sudah memenuhi haknya sebagai anak dan kewajiban saya sebagai ibu.

Sebenarnya saya berencana menyapih Ola setelah Lebaran. Pas udah settled di rumah baru. Kalau Ola rewel saya tinggal ngglonggong kopi, the world would be a better place. Lha kok ndilalahnya hari Sabtu kemarin sakdeg saknyet saya memutuskan untuk langsung sapih Ola. Anaknya sih udah berbulan-bulan disounding.

Oliq berkali-kali tanya, “Beneran nih adik udah disapih. Kalau adik ga bisa bobo gimana? Kalau adik mau mik peng gimana?”

Jadilah penyapihan dilakukan. Alasan saya: Ola udah besar, udah 2 tahun, mik peng mama sakit (beneran sakit karena Ola ada gigis yang nancep kalau nyusu 😭).

Anaknya selow aja jawab, “Bolehnya mik (pu)tih? Mik susu boleh? Mik milu boleh? Mik yakult boleh?”

Tetep aja ada heboh-hebohnya ya. Anaknya sih ga pernah nangis kejer. Cuma mimbik-mimbik sambil bilang, “Mik peng mik peng mik peng.” dibilangin udah ga boleh lagi. Eh nawar. “Pegang mik peng aja.” Ga boleh. “Lihat udel Mama aja,” gitu katanya. Woh bakat ngenyang iki!

Dulu jaman Oliq juga langsung bisa, tanpa PD saya bengkak. Kirain ini juga sama apalagi karena puasa. Ternyata Dolly Parton, Bo. Sakit sampai harus disumpeli kubis. Pas hari ke dua itu kayanya kena angin aja sakit 😭.

Sekarang udah beres. Anaknya masih suka bilang mik peng dengan nada bercanda. Cuma pola tidur Ola masih berantakan. Baru tidur siang kalau udah ngantuk banget. Biasanya menjelang asar. Minta diayun sambil dinyanyiin. Tapi habis itu nyenyak banget sampai magrib 😱😱.

Tidur malamnya yang masih mawut. Karena tidur siang kesorean, malamnya ga ngantuk-ngantuk. Dua malam ini tidur jam 12 malam, sampai dower mbokne nyanyi Bintang Kecil 20x. Niatnya mau jadi simbok soleha ganti surat-surat pendek, baru bismillah anaknya melek lagi, “Nyanyi bintang lagi!”

Kayanya udah merem. Simboknya mau mindik-mindik ke kamar sebelah, berhenti ngepuk-puk. Eh mak jenggelek, duduk tegak koyo Reco Gupolo di depan Bandara Adisucipto, terus nyanyi.

“Sluku-sluku bathok bathoke ela elo
Si romo menyang Solo…”

😭😭😭

***

Clear kan di sini kalau saya bukan pakar parenting? Wekekeke. Bukan pula ibu idealis. Jauuuh deh. Dulu zaman anak pertama saya masih berusaha banget idealis, setelah anak ke dua, kibar bendera putih. Mau dijudge, silakan. Buat saya, orang tua adalah yang paling tahu hal terbaik untuk anaknya. Bukan pakar parenting kondang, simbahnya, konsultan laktasi, apalagi konsultan oriflame #hadezighhh

Pertanyaan dan jawabannya akan saya rangkum saja dalam poin-poin ya.

  • Apa yang pertama harus dilakukan dalam menyapih. Pertama, ibu harus ikhlas, harus sadar sepenuhnya bahwa itu memang saatnya berpisah. Sudah tertera dalam Alquran kok dua tahun penyusuan itu adalah waktu yang sempurna. Hei, para pendukung extended breastfeeding jangan marah. Ini sudut pandang saya sebagai orang awam. Dua tahun sudah sempurna, kalau lebih dari itu pun tidak dilarang, kalau tidak salah hukumnya mubah (boleh), tapi nilai ASI-nya sudah seperti makanan biasa. So, ibu ikhlas dulu, anak akan mengikutinya.

 

  • Apa harus di-sounding? Mulai kapan? Saya agak lupa kasus Oliq dulu, kalau Ola sekitar 2-3 bulan sebelum 2 tahun sudah di-sounding sama semua orang di muka bumi, terutama mbah-mbahnya dan si Teguh. “Ola disapih, nggih?’ Biasanya anaknya bilang, “Ga mau disapih. Mik peng.” Langsung nyusu lagi. Dia tahu juga dalam kurun waktu itu kami masih dalam keadaan belum serius, jadi anaknya juga ga melepas. Masih sama-sama belum ikhlas. Tapi mendekati Hari-H kami makin serius dan tegas ngomongnya. Nah pas hari H yang tiba-tiba itu saya sudah tegas sekali bilang Ola sudah 2 tahun, sudah harus disapih.

 

  • Nyapihnya pakai apa? Nggak pakai apa-apa. Pakai kata-kata aja. Sebenarnya dulu waktu nyapih Oliq saya pakai plester dan bilang mimik Mama sakit, niatnya waktu Ola ini juga akan seperti itu, cuma pas ga punya plester hahahahahahahhaha. Dan ternyata bisa lho tanpa alat apapun.

 

  • Anaknya rewel nggak? Hari pertama dan ke dua anaknya masih minta mik peng sambil mimbik-mimbik. Tapi saya tegas bilang, “Ola udah disapih. Ola udah besar, udah 2 tahun. Ola udah nggak boleh mik peng lagi. Ola mimik yang lain aja ya. Mama tetep sayang kok sama Ola.” It worked. Anaknya akan bilang, “Ola mau mik tih, mik jus…” Walau dengan muka kaya tim sepakbola kesayangannya baru kalah lima gol tanpa balas. Ola — dan Oliq — nggak ada periode nangis kejer minta nyusu, padahal keduanya full ASI tanpa sufor dengan UHT semau mereka.

 

  • Kalau tidur gimana dong. Dua malam pertama Ola tidurnya super malam karena tidur siangnya kesorean nunggu dia ngantuk banget. Dua malam itu tidurnya jam 12 (11 malam WIB). Tidurnya harus dinyanyiin hahahahah believe it or not saya yang suaranya kacau banget kudu nyanyi berulang-ulang sampai dower. Kalau pas beruntung, sebentar juga bobo. Kalau pas rada apes anaknya minta dipangku sambil diayun dan dinyanyiin atau diceritain yang berirama (halaaah) setelah merem baru ditaruh. Alhamdulillah, lho, tidurnya nyenyak.

 

  • Suka kebangun kalan malam? 1-2 kali, kadang minta minum air putih. Kadang di ssshhh-shhh aja tidur lagi. Kalau udah kebacut agak melek terpaksa pakai ritual diayun sambil nyanyi.

 

  • Demam? Alhamdulillah tidak.

 

  • Ngaruh ke makan? Sepertinya tidak. Beda sama OLiq yang makan harus nasi, untuk Ola harus saya selang-seling karbohidratnya. Dia suka makaroni, kentang, misoa, bihun. Jadi nggak harus selalu nasi. Kemarin dia lagi males nasi, saya kasih kentang. Hari ini kentang OK, nasi OK, ga masalah. Untuk UHT entah kenapa anaknya masih kurang suka, jadi saya kasih sedikit-sedikit, jus sedikit, yogurt, yakult. Opo wae lah sing penting mlebu. Sayuran dan buah mudah. Agar-agar dan puding BOROS BANGETTTT.

 

  • PD bengkak? Iya heheheh. Kirain karena puasa ga bakal bengkak ternyata masih. Paling sakit pas hari ke dua karena ASI sudah numpuk. Saya kasih lembaran kubis disumpelkan ke dalam beha. Puput kira itu cuma mitos saja kubis bisa mengurangi bengkak — gara-gara dingin, saya google-google katanya kubis bisa mengeluarkan enzim yang mengurangi bengkak dan produksi ASI. Embuhlah mana yang bener yang penting berhasil yay! Selain itu saya berendam air hangat atau shower pakai air hangat sambil dipijat bagian yang grenjul-grenjul. Tentu ASI masih muncrat-muncrat. Jangan diperas kaya marmet, nanti malah produksi makin lancar. Cuma dikurangi dikit untuk mengurangi rasa sakit dan bengkaknya aja. Oh ya, suami mohon mendukung dengan memberikan pijatan-pijatan yang hauuuuuuuuuu.

 

  • Pas bengkak sakit? Ya iyalah. Sakit banget kalau pas shalat ruku’ dan sujud — apalagi kalau ga pakai beha. Mak gedanduuul. Wakakakkakak. Ini serius. Karena ukuran juga segede timun suri. Kanginan wae lara, cyint. Klimaksnya hari ke 2, sakit sampai pusing, sempat ketendang Oliq 2 kali pula. Hari pertama belum terlalu sakit karena isinya belum maksimal. Hari ke 3 udah berkurang jauh sakitnya. Hari ke 4 dan seterusnya udah seperti biasa walau masih ada grenjul-grenjulnya. Alhamdulillah nggak ada demam.

Sekarang Ola udah nggak pernah minta mik peng lagi. Paling bercanda, “Mik peng udah alot.” Jadwal tidur juga sudah normal, walau masih harus diayun dan dinyanyiin. Ga lama juga kok ngayunnya, paling pol 10 menit anaknya udah merem.

Hihihi, saya termasuk ibu yang merasa nggak worth it nyusuin sampai 3 tahun. Mending anaknya rewel sebentar tapi sudah tersapih. Menyapihnya juga ga pakai pahit-pahitan kok, ga pakai bohong-bohongan. Pakai pengertian aja. Nyusuin itu capeknya itu lhooo, anak juga biasanya tidur kurang nyenyak, punggung capek karena miring. Belum lagi jadi ‘flasher’ di jalan, di mana-mana buka kaos — karena sesungguhnya bagi saya baju menyusui itu nggak ada yang nyaman hahaha *dikutuk bakul olshop*

Kesimpulannya: IKHLAS dan TEGAS.

Good bye nursing bra, hello kutang berenda 🙂

Jadi Blogger Masih Valid Kah?


Belakangan ini saya membaca beberapa kasus yang membuat saya berpikir. Ada teman yang mengatakan bahwa ia akan menutup blognya (karena apa gunanya punya blog). Padahal, di situ sudah ada puluhan tulisan. Ga eman-eman tah?

Di sisi lain ada yang mengeluh sekarang sering malas menulis. Tidak punya waktu, tidak punya ide.


Ada yang bilang karena tidak menghasilkan (uang).


Saya terus terang juga agak jarang menulis akhir-akhir ini. Kalau ini penyebabnya jelas, lha wong blog saya itu blog travelling (and I’d intent to keep it that way), sementara setahun terakhir intensitas jalan-jalan saya tipis banget dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ya jelas kehabisan bahan.


Tapi saya melihat blogger-blogger lama juga mulai banyak yang tidak sekonsisten dulu dalam menulis. Kalau menurut ke-soktahu-an saya, mereka punya pekerjaan tetap yang menyita waktu — dan yang jelas lebih menghasilkan.

Atau mungkin dunia blogging ga seramai dulu ya? Rasanya tidak juga, lomba blog masih banyaaaaak banget. Tawaran-tawaran job review juga masih ada, walau saya kebanyakan menolak karena……MALAS. Hahaha.


Atau mungkin justru terlalu ramai? Dulu, yang namanya blogger itu keren karena dianggap bisa menulis, punya wawasan luas. Sekarang, terus terang saja, everybody blogs hahahaha sekarang semua orang punya blog, semua orang jadi blogger jadi ya ga spesial lagi.


Tapi sepertinya di mata saya sekarang brand lebih bergeser memilih social media influence, entah campaign di FB, Twitter, atau yang paling moncer IG. Pasar Indonesia memang cocok untuk itu, rakyatnya lebih visual. Influence lewat medsos lebih berdampak karena langsung terbaca, bisa berkali-kali, dan bujetnya pun lebih murah. Bayangkan, brand bisa bayar misalnya 500 ribu untuk 10 postingan IG. Sementara untuk blog itu hanya 1 postingan. Dan entah berapa yang baca. Walau tentu blog punya keuntungan yaitu lebih durable. Panjang hidupnya.


Solusinya cuma satu sih kalau mau blogmu menghasilkan, kamu harus cerewet di medsos juga.


Hahaha kalau yg ini Simbok nyerah karena cuma aktif di FB. Saya bahkan ga ngerti lho foto yang bagus buat IG itu yang seperti apa. Hahahaha.


Penghasilan (Hampir) Utama


Blogger itu sudah jadi profesi. Kamu mencantumkannya di Linkedin. Kamu bikin media kit. Kamu bahkan punya kartu nama. Kalau sudah pada taraf itu tentu kita mengharapkan ada imbalan finansial dari blog, bukan?


Namun, blogger pun berbeda-beda melihat hal ini. Ada yang selow aja karena pendapatan utamanya bukan dari blog. Dapet job ya alhamdulillah, ga dapet ya ga patheken. Punya standar fee yang lumayan tinggi karena dia menghitung waktu dan tenaga untuk membuat blog post.


Ada juga yang memang serius memonetize blog. Lewat adsense, lewat job review, lewat lomba karena memang pendapatan dari blog sangat membantu keuangan keluarga, walau mungkin bukan yang utama.


Apalagi kalau full time blogger yang memang dapur mengepul dari situ. Mereka harus ikut perkembangan zaman. Kalau sekarang eranya vlog ya berarti harus belajar bikin video yang baik, ikut subscribe berbagai komunitas blogger, ikut lomba dsb dsb.


Sering ada pergesekan di medsos tentang fee blogger. Ada yang merasa banyak blogger mau dibayar murah, sehingga pasaran jadi turun.

Saya sih merasa in between. Kadang ya jengkel kalau lihat fee blogger serendah itu. Tapi itu udah masuk ranah dapur orang lain. Buat dia mungkin uang segitu memang penting banget buat cashflow keluarga. Kita bisa apa, ya to? Namanya pasar persaingan terbuka hahaha.


Diari Terbuka


Hampir semua menjadikan blog sebagai diari terbuka. Saya pun demikian. Kebetulan karena travel blog sekalian jadi jurnal perjalanan kami. Mulai dari traveling waktu belum punya anak sampai sudah punya anak dua. Full stop.

Blog parenting misalnya, bisa jadi catatan kehidupan si anak. Bisa jadi wadah belajar-belajar kalau punya anak bayi hahaha.


Blog juga jadi media opini ketika ada kasus-kasus kekinian yang muncul di permukaan. Misalnya tentang poligami, selingkuh, ibu rumah tangga, agama dll. Kan mending ditulis curhatan dan pandangan kita ketimbang jadi bisul.


Memberi Manfaat bagi Orang Lain


Banyak sekali blog yang super duper membantu kehidupan milenial kita yang ribet ini. Misalnya dalam hal teknologi, ada masalah dengan HP tinggal google. “Redmi 2 blank screen whatsapp call” misalnya, langsung muncul berderet daftar blog bagaimana cara mengatasinya. Plus tutorial Youtube.


Kalau kamu blogger dengan niat ngeblog membantu orang lain, kamu sungguh mulia, teman. Semoga doamu diijabah Yang Kuasa.

Salah satu blog paling bermanfaat bagi saya adalah Just Try and Taste (JTT). Blog Mbak Endang ini sangat tenar di kalangan ibu-ibu. Semua masakan ada, resep dan cara memasaknya lengkap, ditambah dengan berbagai tips yang sangat membantu. Saya juga suka cara Mbak Endang menulis, runut tanpa kehilangan personalitas. Selain itu, penulisannya rapi, penempatan tanda baca dan awalan serta kata depan yang tepat. Maklum saya suka rewel sama hal-hal ini, kalau kata Emak Traveling Precils, a skill that can’t be unlearned.


Blog Grace Melia, misalnya, banyak dijadikan acuan para orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus. Sharing tentang Ubii juga bisa jadi pendorong mereka yang sama-sama berjuang dengan anak-anak istimewa.


Tidak Cukup Jadi Ibu Rumah Tangga Saja


Semulia-mulianya jabatan ibu rumah tangga dengan iming-iming sebuah singgasana di jannah (ea), zaman sekarang rasanya tidak cukup “hanya” jadi IRT. Harus jadi seseorang yang lain.

Ya jadi member MLM yang aktif di medsos lah, jadi pedagang online macam gamis, jilbab, tupperware, terima orderan makanan, atau ya itu jadi blogger (karena kalau jadi penulis T&Cnya lebih berat hahahaha).


Kalau dipikir-pikir ibu-ibu ini sadomasokis semua. Udah repot ngurus anak dan rumah, masih cari kerjaan lain. Padahal entar kalau kudu multitasking ngeluh-ngeluh kecapekan di.medsos hahahaha. Dasar ibu-ibu.


Ini adalah tentang menyalurkan renjana kita. Salah satu cara biar kita tetap waras di sela-sela kegiatan membersihkan nasi yang dilepeh, mengelus-elus kaki yang ga sengaja nginjek lego, mikirin mau masak apa hari ini.


Buat ibu rumah tangga (baca: Simbok) kegiatan yang tidak melibatkan anak kadang bagai oase di Gumuk Pasir Parangtritis. Syeger. Apalagi sambil nyeruput es degan.


Selain tentu jadi sarana validasi bahwa kami di rumah enggak cuma glundang-glundung aja wekekekke.

***

Jadi sebenarnya jadi blogger itu masih valid ga?

Masih, kalau kamu masih konsisten ngeblog.

Masih, kalau kamu mengimbanginya dengan aktif di media sosialmu.


Kalau urusan mau dimonetize atau tidak, itu urusan masing-masing.


Jadi, cari bahan ngeblog ke mana kita? Moscow? Qatar?

Tentang Pernikahan


Beberapa hari yang lalu saya nonton acara TV judulnya “Say Yes To The Dress”, reality show tentang para calon pengantin yang mencari gaun pernikahannya di Amerika sono. Ya Tuhan ribet ya. Ribuan dolar dihabiskan untuk gaun pernikahan yang paling dipakai beberapa jam, setelah itu disobek-sobek. Ada calon pengantin yang memaksa tokonya menemukan gaun yang pernah dia lihat di subah acara. Harus sama persis plek ketiplek. Dan ternyata gaun itu harganya lebih dari dua kali lipat anggarannya, dan akhirnya dia rela demi si gaun.

Kebayang ga sih kalau saya minta baju pengantin seharga 50 juta? Modyar nan. Dulu, syarat baju pengantin Puput cuma satu: tidak boleh lebih dari 500 ribu rupiah *nari gambyong muter Pasaraya Blok M*

Tapi namanya acara pernikahan memang penting nggak penting. Prioritas bagi sebagian orang, nggak penting banget bagi sebagian orang lain — dalam hal ini saya dan Puput sepaham. Dulu, kami hanya mengundang teman kami via medsos, karena buat kami memang itu lebih kepada acara orangtua. Tanpa terlalu ramai-ramai.

Tentu, selalu ada yang mencurigai hamil duluan HAHAHA. Yakin, pasti ada yang ngitung mundur kelahiran Oliq. Continue reading Tentang Pernikahan

5 Tempat Wisata ini Wajib Kamu Masukan ke Dalam Paket Wisata Shanghai Milikmu


 

sumber foto:shanghai.com

Shanghai adalah kota metropolitan terbesar di negeri Panda, China. Kota yang eksotis dan juga glamor. Rumah bagi banyak ekspatriat. Karena di sini tersedia hampir semua yang dibutuhkan oleh mereka. Mulai dari tempat bisnis dan perkantoran, café, tempat wisata, dan tempat shopping. Selain itu juga pemandangan di malam hari dari kota ini sangat memukau.

Maka tak salah jika banyak orang yang ingin berkunjung ke kota ini. Hingga banyak paket wisata Shanghai ditawarkan, bangunan-bangunan dengan perpaduan arsitektur Eropa dan China menjadikannya sangat unik dan indah. Jika kamu tak ingin ribet untuk memesan tiket pesawat dan bingung menentukan pilihan hotel untuk menginap, kamu bisa memesannya sekaligus di Traveloka.

Continue reading 5 Tempat Wisata ini Wajib Kamu Masukan ke Dalam Paket Wisata Shanghai Milikmu

Living in Transit


Setahun belakangan ini kami pindahan 2 kali. Mei 2016 pindahan dari Kuala Lumpur ke Jogja, dan Mei 2017 dari Jogja ke Kuala Lumpur.

Tahu rasanya setiap tahun pindahan? Ruwet, seperti nglurusin tali G-string yang bundet tengah malam. Ini ramadan, Mbok, hati-hati bicara.


Seruwet kisah-kisah cinta Si Delin.


Jadi gimana rasanya? Rasanya adalah kenapa hidup kaya cuma mampir beres-beres. Bahkan barang-barang kami dulu belum semuanya dibongkar lho. Ada satu koper yang jebulnya isi baju-baju Oliq dan Ola, sama sekali belum dibuka selama setahun. Awul-awulan mawut.


Jadi sekarang kami living in transit again. Simbok cuma ngarang-ngarang istilahnya sih, rasah digatekke. 


Intinya kami tinggal di akomodasi sementara yang disediakan kantor Puput. Biasa, semacam serviced apartemen. Seperti hotel, tapi biasanya dilengkapi dengan dapur sederhana (kitchenette) lengkap dengan layanan housekeeping — mas-mas India yang seneng banget sama Ola. Hedyan ya kalau sebulan makan beli di luar terus, walau bisa direimburse tapi kan capek. Apalagi puasa kaya gini.


Tahun 2014 lalu, kami dapat jatah akomodasi sementara 2 minggu. Waktu itu digunakan sambil kelabakan cari apartemen, beli mobil, cari sekolah anak, dll dll. Dulu kami dapat studio apartemen dengan dapur kecil. Dibersihan tiap hari oleh housekeeping mas Srilanka yang seneng banget sama Oliq karena punya anak seumuran itu di kampungnya.


Kali ini, mungkin karena sudah beranak 2, kami dapat jatah apartemen 2 kamar. Lumayan lengkap sudah ada kompor induksi 3 tungku, oven, microwave, kulkas segede bagong, dishwasher, mesin cuci, setrika yang penampakannya sebesar setum, ketel listrik, coffee machine.


Tahu apa yang kurang?


Jelas rice cooker.


Tentunya Simbok sudah mengantisipasi hal ini. Selama plesir ke mana-mana dan nginep di apartemen, hanya di Tokyo yang menyediakan rice cooker. Karena punya anak yang kudu makan nasi kaya Oliq, kami bawa rice cooker mungil ukuran 1,5 liter.


Breakfast disediakan apartemen. Lumayan menunya beragam tapi sejak puasa ini males banget sahur harus turun ke restoran. Ya, hotel-hotel di Indonesia dan Malaysia biasa membuka dua jam makan pagi, yaitu jam sarapan biasa dan jam sahur ketika Ramadan.


Rasanya hidup sementara gini gimana? Capek karena barang-barang masih seadanya banget. Tadi kami beli panci dan wajan karena hotel cuma menyediakan masing-masing satu dengan ukuran jumbo bisa masak buat satu grup WA keluarga besar.



Untungnya karena ini KL, bukan Abu Dhabi misalnya (uhuks), kami sudah cukup familiar. Agak santai cari apartemen karena sudah kenal dengan wilayahnya. Sudah banyak kenalan untuk tanya masalah sekolah dll. Sudah akrab dengan mall dan pasarnya. Sudah fasih dengan transportasi umumnya. Sudah berjumpanlagi dengan resto-resto favorit seperti Nasi Kandar Pelita, Wonton Mee Sizzle, Fuel Shack, Puti Bungsu.


Dan sudah senang dengan kursnya yang beda jauh dari 2 tahun lalu *dikeplak Pak Nadjib.


Terus terang walau lebih santai ‘transit’ kali ini lebih capek buat saya. Dulu anaknya satu, sekarang dua, mana umur sudah menua, uban di mana-mana, untung ada Liese Bubble Cream — cara paling mudah toning rambut sendiri hahahahahahaha.


Apalagi puasa ya. Saya dan Puput puasa. Ola tentu enggak. Oliq masih puasa bedug, tengah hari makan, lalu lanjut puasa lagi sampai magrib.

Makanan gimana? Saya tetap masak terutama buat Ola. Sering juga beli siang-siang, Oliq suka sekali ayam goreng Pelita yang ga jauh dari apartemen, tinggal nyeberang kuburan hahahaha. Kadang Puput sekalian beli pas pulang kantor. Hanya 2 kali pesan room service kalau udah kepepet.


Tahu nggak yang amat sangat saya rindukan di sini? Pasti tahu jawabanya: Go Food.


Selain Go Food, tentu saya rindu Teguh hahaha yang biasa setrikain baju-baju kami dan nyuapin Ola 2x sehari. Wekekekeke


You must be strong, Mbok.


Demikian curhatan malam ini, doakan kami segera settled di apartemen yang baru ya. Karena sungguh living in transit itu nanggung. Bukan nungging. 

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .