Cerita dari Inggris: “Women Are Not Allowed.”


Setelah menyusuri Sungai Thames dari London Bridge, melewati Hay Gallery dan HMS Belfast, kami menyeberangi Tower Bridge. Tinggal sakjepretan kutang seharusnya sampai di Tower of London.

“Kita cari masjid dulu. Salat dulu aja,” ketika imam dalam keluarga yang akan mengawal kami menuju jannah sudah bersabda, tulang rusuk hanya bisa manut.

Tower Bridge

Padahal ya itu, Tower of London udah ngawe-awe wekekekeke.

Berbekal Google Maps, masjid terdekat sekitar 900m. Okelah dijabanin. Jalan menuju masjid itu melewati area di bawah rel kereta overground. Jadi agak Bronx-Bronx gitu. Kurang sedap. Kalau sedap namanya Bronxos.

Setelah sejuta kali lihat petunjuk, akhirnya sampai di masjid. Ga jelas blas petunjuk di dalam masjid. Yang kelihatan cuma tempat wudhu, toilet, dan rak sepatu. Ada beberapa pintu tapi ga ada tulisan prayer hall, male, female atau gimana lah.

Pak ada bapak-bapak tua, semacam takmir kayanya. Kami tanya, buat perempuan di mana. “Women are not allowed, women are not allowed.” Tangannya kaya mengusir gitu.

Kusudah mbrambangi, guys. Moso adoh-adoh mlaku dengan harapan bisa salat yang layak, bakal end up salat di bangku taman lagi? Continue reading Cerita dari Inggris: “Women Are Not Allowed.”

Advertisements

Mendadak Maroko: Sekilas Destinasi dan Tips


Kita tidak pernah tahu bagaimana hidup membawa kita. Dari dulu Maroko selalu menjadi salah satu bucket list kami. Pertimbangannya banyak karena dulu tinggal di Jakarta dan Kuala Lumpur, perjalanan jauh. Dengan demikian semurah-murahnya tiket pun jatuhnya tetap mahal. Apalagi dikali empat. Pernah beberapa kali ada promo, tapi nasib kurang baik sehingga akhirnya selalu batal.

Backpackologists sampai di Maroko yeaaay

Ketika pindah ke Inggris, jalan menuju Maroko tampak lebih dekat. Apalagi, kami tinggal di dekat airport yang menyediakan banyak penerbangan langsung menuju Casablanca dan kota lain di Maroko. Pilihannya banyak, tiketnya murah. Tapi nggak nyangka juga bakal gini amat garis nasibnya.

Tanggal 28 Desember siang, Puput WA, “Ada berita baik dan berita buruk.”
“Apa?” tanya saya.
“Berita baiknya kita masih punya jatah tiket. Berita buruknya harus dipakai sebelum 31 Des, kalau ga, hilang.”
“Kok yo kowe ki mesti lho koyo ngene? Nek kit wingi-wingi kan iso lunga suwe seko Natal barang? Njuk arep nang endi?” Continue reading Mendadak Maroko: Sekilas Destinasi dan Tips

Where We Have Been In 2018


Travel while you are young. Yo nek wis tuo masih tetap mau jalan-jalan ya ga apa-apa juga sih. Tapi yang jelas stamina itu sangat mempengaruhi. Saya kerasa banget setelah usia di atas 35, kalau jalan tidak sekuat ketika masih lebih muda. Tentu, traveling membawa balita juga berpengaruh.

Masjid Omar Ali Saifuddien di malam hari

Dulu, waktu hamil pertama, usia kehamilan 4 bulan masih sanggup gendong ransel 40 liter walau nggak penuh-penuh amat. Mampu keliling dari pagi sampai malam dengan jadwal makan yang nggak teratur. Sekarang, baru bentar aja udah kelaparan. Nek kuwi dasare kowe nggragas, Mbok!

Pokoknya beda. Beda banget huhuhu. Dulu habis jalan lama masih biasa nganu-nganu-nganu, sekarang saling oles-oles Counterpain.

Stonehenge di Amesbury.

Kami bersyukur punya kesempatan berkunjung ke tempat-tempat baru (dan lama). Bersyukur bisa melakukan perjalanan bersama keluarga. Allahumma amiin. Continue reading Where We Have Been In 2018

Pengalaman Mencari Rumah Sewa di Inggris


Setelah melakukan pencarian selama 3 bulan (yes, kami mulai searching sejak dapat surat cinta mutasi), dan melihat sendiri 9 rumah dan 2 flat, perjalanan ini berakhir.

Mencari rumah di Inggris ini memang agak tricky bagi kami. Maunya yang dekat dengan sekolahan (yang ini berakhir failed banget baca di sini, walau in the end malah ada hikmahnya), tidak jauh dari kantor, public transport dekat, dan juga akses terhadap makanan halal mudah.

Di Inggris cari masjid

“Harus walking distance sama masjid, Cup?” kata saya suatu sore di apartemen sewaan kami di KL. Waktu itu belum ada bayangan Crawley itu kotanya seperti apa, walau kami sudah memutuskan akan cari rumah di sana karena komunitas muslim banyak dan cuma sekitar 6km dari kantor Puput. Boleh dikatakan kota kecil ramai terdekat dari Gatwick.

“Ya iya no, terus piye aku salate nek adoh!” Sing ditakoni emosi. Sudah jadi syarat mutlak dari juragan besar walaupun dia juga sadar bahwa kalau hari biasa hanya Subuh yang bisa jamaah di masjid. Isya (sekarang jatuh jam 17.45) pun masih di kantor. Continue reading Pengalaman Mencari Rumah Sewa di Inggris

Perjuangan Mencari Sekolah di Inggris


….dan ternyata mencari sekolah di Inggris tidak semudah yang saya bayangkan huhuhu. Penuh jalan berliku sampai membuat saya agak stres. Sempat membuat saya mimbik-mimbik kalau ada yang tanya Oliq sudah sekolah belum. Dan karena setiap hari ada yang tanya, aku melampiaskannya dengan makan Indomie pakai sawi, telur, dan cabe rawit. Dengan demikian salah satu pos besar pengeluaran di Inggris adalah stok Indomie. Sekian.

Second day

Sebenarnya kantornya Puput lewat agen relokasinya menyarankan sejak awal untuk memasukkan anak ke sekolah swasta. Ya, sekolah swasta dianggap lebih terbiasa dengan keluarga expat yang datang dan pergi, murid lebih sedikit, dan fasilitas lebih terjamin. Keamanan dan kenyamanan anak juga lebih diutamakan. Kurikulum lebih fleksibel.

Selain itu ada ekskul golf dan berkuda.

“Menko Aik numpak jaran koyo Prabowo wakakak,” kata Delin. Continue reading Perjuangan Mencari Sekolah di Inggris

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travelling books and travelogue. Write travel articles for media. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family travelling with kids/babies.