Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng

Tidak sia-sia saya, Puput dan Oliq jauh-jauh datang ke Ujung Genteng, Sukabumi beberapa minggu lalu. Jalan buruk dan berliku bikin pantat tepos. Dan butuh waktu 9 jam! Itu baru ke Ujung Gentengnya. Ke Pantai Cipanarikan lebih penuh perjuangan lagi.

Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng

Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng

Ceritanya hari ketika kami berangkat dari Jakarta hujan sepanjang jalan. Sembilan jam itu hujan tanpa henti, mulai dari gerimis hingga hujan lebat, hanya diselingi sedikit kremun (apa ya bahasa Indonesianya?).

Jadi, keesokan harinya ketika kami akan jelajah pantai, mustahil pakai mobil. Ke Pangumbahan saja tidak mungkin pakai mobil karena jalan pantai runtuh. Akhirnya kami menyewa 2 ojek, masing-masing 120 ribu diantar ke Pangumbahan, Cipanarikan, Batu Besar, dan lokasi surfing. Di sini saya mau tulis tentang Cipanarikan saja, tugasnya Puput yang tulis seluruh perjalanan ke Ujung Genteng.

Jadilah dua motor baris menuju Cipanarikan yang jauhnya sekitar 6km dari penginapan kami. Awalnya kami pikir, mahal ya, 120 ribu per motor ternyata sepadan lah sama perjalannya. Puput mbonceng Aa’ Ojek Cep pakai motor laki-laki (kalau bahasa Jawa-nya montor lanang), sementara saya dan Oliq dengan Aa’ Ojek satunya, pakai motor Mio.

Jalan pantai memang hilang begitu saja, jadi harus lewat jalan lain yang merupakan kombinasi antara jalan berlumpur dan kubangan. Kubangannya saja nggak kira-kira, bisa sampai menyentuh kaki Oliq, sampai hampir selutut kaki saya yang membonceng motor. Udah khawatir aja sama nasib motor-motor itu.

Jalan berlumpurnya juga superb deh. Saya kudu pegangan kenceng-kenceng sama Aa’ Ojek. Pasrah bongkokan pokoknya, fokus saya cuma jagain Oliq biar nggak jatuh.

Setelah melalui puluhan blethokan, sampai juga kami di sebuah pohon besar dengan amben dari bambu. Tampaknya ini adalah tempat nongkrong tukang-tukang ojek yang disewa wisatawan.

Menembus hutan ke Cipanarikan

Menembus hutan ke Cipanarikan

Dari sini kami masih harus berjalan kaki 400 meter melewati pematang sawah, padang ilalang yang super rimbun sampai seperti gua.

Muara Sungai Cipanarikan

Muara Sungai Cipanarikan

Ternyata, perjalanannya sungguh sepadang. Pantai Cipanarikan merupakan muara dari Sungai Cipanarikan yang berwarna hijau. Pantainya sendiri maha luas. Jarak bibir pantainya lebar.

Oliq langsung ndeprok di pasir untuk mainan pakai pesawat-pesawat-nya. Aa’ Ojek Cep nemenin dia mainan pasir sambil telponan sama pacarnya.

Oliq sibuk mainan, Simbok dan Bapaknya ngeksis sendiri

Oliq sibuk mainan, Simbok dan Bapaknya ngeksis sendiri

Simbok dan bapaknya Oliq tentu saja foto-foto. Udah jauh-jauh ke sini harus dimanfaatkan dong. Biarin aja kalau anaknya nggak mau foto, kami bisa foto pre-wed lagi.

Pasir di sini juga halus namun mempur, susah untuk pose-pose aneh karena pasir tidak padat. Jadinya saya dan Puput bolak-balik jatuh saat berfoto. Pose meloncat juga susah karena pijakannya tidak keras.

Secara umum Pantai Cipanarikan ini memang benar-benar surga yang tersembunyi, hanya bisa diakses dengan motor. Pasir putih luas nan bersih. Hanya tampak beberapa pengunjung lain di pantai ini padahal saat itu adalah akhir pekan panjang.

Ketika pulang kami melihat sebuah mobil plat B yang ditumpangi tiga pemuda-pemudi terperosok di kubangan sampai tidak bisa bergerak dan mesin mobil mati. Kasihan sebenarnya, tapi mau menolong kami bisa apa? Jadi uang yang Rp 120 ribu x 2 itu memang layak dibayarkan!

The sky is falling. Run, baby, run!

The sky is falling. Run, baby, run!

6 comments to Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng

  • Ayu Welirang  says:

    Wuiiih… Aku jalan dari Warungkondang Mbaaaaaaak. Trus naik angkot, tapi angkotnya cuma mau nganter sampe bekas Stasiun Lampegan… :D

    • olenkapriyadarsani  says:

      Wuuuiiih wanita perkasa, itu kan masih berkilo2 lagi. Sawarna bagus ga yu?

  • Ayu Welirang  says:

    Kakak Oleeeeeen yang selalu sebut2 mas Doris lagi cari istriiiiiii~~ wkwkwkwk.

    Wah, saya kalo ke Ujung Genteng biasanya susur pantai sih, dari Pelabuhan Ratu kan itu melintang sepanjang pantai selatan Sukabumi. Capek, bisa habis 5 hari jalan kaki. Rame, tapi mistis juga. Naaaah, saya malah belum lihat nih Cipanarikannya. Kalo jalan kaki, kira-kira habis berapa hari yaaaaa? *mikir wkwkwk…

    *balada anak kost* Btw, masih adakah tawaran mampir ke rumah kakaaaak? :D

    • olenkapriyadarsani  says:

      Oiii Ayu, habis kalian sama2 galau cari pasangan sih! Keren deh kamu rela jalan kaki. Aku aja barusan ke Gunung Padang betisnya sampe sekarang masih pegel. Coba deh sana jalan kaki entar lapor ya. Sini mari-mari sini aku kasih makan gratis. rumahku di Rasuna kok deket kan. Bisa kenalan sama bojoku. Dia pendaki gunung juga.

      • Ayu Welirang  says:

        Wehehehe. Kalo Gunung Padang emang naujubileeee jauhnyaaaa. Pulang aja aku ngojek Mbak. :D

        Wkwkwkwkwk. Yah Mas Doris galau yah? Sayaaang, aku mah kan udah punya calon sendiriiii. :p

        • olenkapriyadarsani  says:

          Aku kan cuma jalan dari parkiran sampai atas Yu, nggak kaya kamu yg jalan dari jakarta kaliiii

Leave a Reply