Traveling dengan Anak-Anak Part 9: Koper, Tas, atau Ransel?


Traveling dengan Anak-Anak Part 9: Koper, Tas, atau Ransel?

Anda lebih suka menggunakan koper ketika berwisata karena baju jadi lebih rapi, muat banyak, dan aman dimasukkan dalam bagasi? Itu sah-sah saja, apalagi bila Anda berlibur dengan bayi atau balita dengan bawaan seabrek-abrek. Gendong ransel di belakang dan gendong bayi di depan? Top abis! Olen dan Lala akan membahas jenis-jenis koper/tas/ransel yang sering dibawa bepergian dan juga preferensi kami.

——————-

Olenka Priyadarsani dan ransel-ranselnya (serta koper)

Saya termasuk pengguna fanatik ransel dan jaraaaaang sekali menggunakan koper ketika bepergian. Suami pun demikian. Alasannya simpel, biar bisa masuk kabin (kalau ga berat2 amat) jadi tidak perlu menunggu bagasi dari pesawat. Itulah kenapa kami menamai blog ini backpackology.

Tapi sejak punya anak prinsip tersebut tidak berlaku. Bukan berarti kami tidak bawa ransel lho. Ransel tetap bawa, koper juga (terpaksa) bawa.

Monggo diintip koleksi koper/tas saya, siapa tau bisa memberikan inspirasi:

1. Koper besar

Koper merah andalan di antara ransel-ransel

Koper merah besar ini adalah kebanggaan Papa Krewel. Tidak boleh dibawa dengan cara diseret. Harus dibawa di samping dalam posisi tegak nan elegan dengan gaya pramugari. Biasanya kami membawa koper besar itu untuk perjalanan-perjalanan jauh dan lama. Perkecualian adalah ke Manado ketika si Merah harus bekerja keras mengangkut peralatan selam Papa Krewel. Koper tersebut biasanya muat antara 17 hingga 25 kg, tergantung apa yang dibawa.

Si koper sudah berjasa mengantarkan Puput dinas ke Amerika, membawa perkakas Oliq ke Australia, mengangkut kompor dan panci ke Arab, dan mengkamuflase bawaan dari Jogja (sehingga tidak terlihat ndeso) berupa tempe, sayuran, krupuk karak, rambak, dan peyek. Teruskan perjuanganmu, Merah!

2. Koper kecil

Ada beberapa koper kecil yang kami miliki, biasaya kami gunakan sebagai suplemen koper besar bila barang bawaan kami bertiga tidak cukup masuk dalam satu koper besar. Selain itu koper kecil juga biasanya kami bawa untuk liburan di kota-kota sekitar Jakarta, misalnya Bandung, Garut, Bogor dll. Koper seperti ini dapat memuat sekitar 10kg.

3. Tas Semalam (maksud saya adalah overnight bag)

Bila barang bawaan tidak banyak dan kami hanya menginap satu atau dua malam (biasanya untuk berakhir pekan), saya membawa overnight bag. Tas cangklong kembang-kembang ini saya beli di Phuket. Cukup untuk pakaian 3 orang, peralatan mandi, obat-obatan, dan popok sekali pakai. Ini juga biasanya saya pakai bila bepergian dengan mobil, karena bila menggunakan kendaraan umum saya tetap memilih pakai ransel.

4. Ransel besar/ransel naik gunung

Anda mungkin sering melihat backpacker bule menggunakan ransel jenis ini. Untuk RTW (round the world) trip yang memakan waktu berbulan-bulan tipe ransel ini memang cocok. Biasanya mereka juga membawa matras yang berfungsi sebagai alas tidur bila mereka harus menghabiskan malam di bandara, stasiun, atau di emperan.

Suami saya Puput punya satu tas gunung dengan kapasitas 80 liter, biasanya dia pakai untuk trip yang melibatkan naik gunung misalnya ketika mendaki Gunung Kinabalu di Sabah. Saya sih tidak punya dan tidak tertarik untuk memilikinya. Bukan apa-apa, cuma rasanya saya nggak kuat mengangkut beban segitu. Saya kan hanya ibu rumah tangga yang lemah lembut.

5. Ransel sedang

Bersama backpack Deuter kebanggaan di Laos

Ini tipe ransel yang lebih cocok untuk saya. Cukup besar untuk liburan 1 minggu tapi tidak terlalu jumbo juga. Saya punya Deuter 45+15 liter yang sudah berjasa menemani saya bersolo traveling ke Laos, Thailand, dan Filipina. Sempat dibawa juga waktu backpacking ke India pas hamil 4,5 bulan.

6. Ransel kecil

Ini ransel biasa saya bawa sebagai “tas tenteng” dengan isi berbagai keperluan immediate Oliq, seperti misalnya baju ganti, popok sekali pakai, obat-obatan, susu, makanan ringan, mainan, juga dompet dan bedak saya (ciyeeee kapan sempat bedakan). Kelebihan ransel ini ada kantong di bagian luar untuk menyimpan susu atau minuman. Di bagian dalam juga banyak kantong-kantongnya. Kebetulan yang paling sering saya pakai adalah ransel kecil merchandise kantor saya dulu.

7. Tas bayi

Banyak orang menggunakan tas bayi untuk menyimpan perlengkapan perbayian. Ada yang keren semacam Allerhand original ada juga yang merk-merk biasa. Nah ini saya tidak pernah pakai, saya lebih memilih ransel kecil di atas. Btw, saya masih punya 3 tas bayi yang kotak-kotak merah hitam gaya Skotlandia itu – belum pernah dipakai. Merknya apa ya…Baby Scots atau semacam itu. Monggo kalau ada yang mau tinggal komen saja di bawah. Saya kirimkan gratis tanpa ongkos kirim.

8. Tas kamera

Tas kamera yang kadang difungsikan sebagai tripod

Liburan, kamera wajib hukumnya. Ada bermacam-macam jenis tas kamera. Papa Krewel dulu selalu bawa Lowerpro ransel untuk kamera SLR, lensa, tripod dan perkakas lainnya. Sejak ada Oliq, ia dengan bijaksananya mengistirahatkan sementara kamera SLR dan tasnya, memilih menggunakan kamera saku dan tas kamera yang jauh lebih kecil.

Di samping tas-tas di atas, saya juga punya koper/tas impian (donasi diterima dengan senang hati) sebagai berikut:

Courtesy of baggageonline.nl

• Koper Samsonite Cosmolite Gold Limited Edition. Pernah lihat di Melboure seharga 4 jutaan, belum pernah lihat di Jakarta. Masih nunggu harga turun sampai 2 jutaan. Kayanya ga mungkin deh!

Courtesy of outdoor-equip.com

• Deuter Lite 40+10 liter atau sejenisnya. Ini PASTI akan saya wujudkan kalau Oliq udah agak gedean jadi simboknya udah bisa gendong ransel gede lagi.

Oh ya, cari koper/tas/ransel di mana?

Untuk koper tidak ada tempat khusus. Biasanya saya cari diskonan besar-besaran di department store. Sabar saja memutari beberapa mal untuk mencari yang paling pas.

Saya juga pernah beli koper KW Polo di Tanah Abang. Koper besar harganya cuma 150 ribu (kalau original di atas 1 juta). Si Bagong sangat berjasa mengangkut komik novel Jakarta-Jogja selama 2 tahun dan sekarang sudah beristirahat dengan tenang di haribaan ibu pertiwi.

Untuk yang berminat cari koper bekas (banyak kondisi yang masih bagus) bisa dicari di Jl Surabaya, Menteng. Di situ juga dapat mereparasi koper, misalnya tarikan macet, roda nggak nggelinding dsb.

Untuk di Jogja bisa dicari Jl Solo dan Malioboro (nngggg kurang membantu ya?). Untuk koper bekas bisa didapat di Pasar Beringharjo. Di Perempatan Pingit ada tempat-tempat reparasi koper/tas. Di dekat perempatan Mirota Kampus jaman saya masih SMA (masa silam banget) juga ada, tapi nggak tau sekarang.

Untuk ransel paling oke sebenarnya di outdoor store. Di Australia ada outlet Kathmandu yg sangat menggoda iman. Di Indonesia, merk-merk lokal bisa didapat di toko-toko outdoor seperti Eiger, Rei, Alpina, dan sebagainya.

Selamat menyeret koper dan menggendong ransel!

————

Lala Amiroeddin dan koper-kopernya

Koper dan tas yang sudah banyak mengikuti perjalanan kami sesungguhnya tidak banyak. Hanya itu-itu saja. Beberapa sudah dimiliki tahunan sejak saya masih single. Jadi jangan heran kalau melihat foto koper dan tas traveling saya penampakannya sudah butek karena terlalu sering di abuse. Tambahan tas baru tidak banyak dan dibeli memang hanya untuk mengangkut kebutuhan anak-anak.

Silakan intip anggota setia geng jalan-jalan saya, beserta cerita tentang kegunaannya dan tempat dibelinya.

1. Koper besar banget.

Kami, saya dan koper besar banget, baru merayakan 12 tahun kebersamaan. Sejak dibeli tahun 2000, koper ini lah yang saat ini memegang rekor terlama dalam kepemilikan saya. Ini koper benar-benar awet dan tahan banting, padahal yang paling rajin melanglang buana diantara gengnya. Walau memang saya pemilik sah nya tapi koper ini sempat dipakai pinjam secara bergiliran oleh adik-adik saya ketika mereka kuliah di negara yang berbeda. Dari mulai guling sampai wastafel pernah diangkut menggunakan koper ini.

Koper merk Eddie Bauer ini dibeli ketika saya masih kuliah di Kota Apel Besar. Saya ingat belinya dengan harga diskon sehingga terjangkau untuk kantong mahasiswa dengan uang saku pas-pasan seperti saya.

2. Koper cabin

Ketika mau membeli koper oranye ini, saya minta penjaga tokonya untuk menunjukkan koper ukuran cabin yang paling besar. Sejujurnya saya lupa ukuran persisnya berapa, sepertinya 20″ tapi si oranye expandable dengan membuka satu jalur retsleting.

Sesungguhnya koper ukuran cabin yang paling aman adalah 18″, karena sudah pasti secara ukuran akan diterima oleh airlines apapun. Sedangkan koper saya ini masih mungkin ditolak masuk kabin oleh low-cost carriers. Untungnya selama saya memakainya tidak pernah ditolak, tapi ayah saya pernah ditolak membawanya masuk ke kabin oleh salah satu penerbangan murah.

Ini juga koper dibeli pas ada lagi diskon. Saya lupa persisnya beli dimana tapi pastinya di salah satu mall di Jakarta. Merknya Delsey dan pilih warna oranye biar gampang dikenali dari kejauhan saat keluar di conveyor belt. Kan kalau cepat dikenali, bisa cepat diambil, cepat antri imigrasi, dan cepat bisa mulai jalan-jalan.

3. Koper tanggung

Ini koper pinjeman karena adik yang punya. Saya meminjam koper ini kalau akan pergi minimal 2 minggu dengan rombongan sirkus lengkap. Koper ini sudah pasti akan masuk sebagai checked-in luggage karena ukurannya terlalu besar untuk masuk compartment atau tempat penyimpanan tas di dalam kabin.

Kenapa saya tidak beli saja koper ukuran tanggung sendiri daripada selalu meminjam? Karena koper ukuran tanggung bukan investasi yang baik. Koper ini hanya pas untuk dipakai kalau sedang berpergian dengan menggunakan airlines yang harga tiketnya sudah termasuk jatah bagasi. Tapi kalau naik penerbangan murah yang setiap kilo bagasi harus dibayar, tentunya sayang kalau membawa koper no 3 ini karena tidak muat banyak. Bisa-bisa harus membawa lebih dari 1 koper atau beli koper baru untuk membawa oleh-oleh. Jadi menurut saya, daripada membeli ukuran tanggung seperti ini, lebih baik memiliki satu lagi koper besar banget. Tapi saya belum membeli satu koper besar banget lagi karena saya sudah punya koper setia yang dibahas di no 1 diatas. Yang belum punya dan harusnya membeli koper besar banget adalah si suami, jadi sampai dia beli koper besar banget sendiri, terpaksa pinjam koper tanggung saja.

4. Backpack

Sebenarnya saya lebih suka traveling dengan menggeret-geret koper, bukan menggendong tas punggung ciri khas backpackers. Tapi apapun gaya jalan-jalan anda, memiliki backpack tetap masuk sebagai investasi yang baik. Dan saya cinta backpack yang dibeli dari sejak saya masih menjadi solo traveller. Backpack hitam ini terdiri dari 2 tas ransel: 1 ransel besar tempat menyimpan bawaan besar dan berat, 1 lagi ransel kecil untuk menyimpan bawaan sehari-hari seperti dompet, kamera, baju cadangan atau dokumen perjalanan.

Saat dalam perjalanan kedua ransel dibuat menjadi 1 tas dengan “menempel” ransel kecil ke ransel besar di satu jalur sambungan retsleting. Ukurannya cukup kecil untuk bisa dibawa masuk ke kabin, padahal muat banyak. Setibanya di tempat destinasi, ransel kecil akan saya lepas sambungan resletingnya untuk digunakan sebagai daybag saat melakukan city tour.

Merk backpack punya saya ini tidak jelas. Di ransel besar ada bordir tulisan Salamander, tapi di ransel kecil bordirannya Reptile. Entah yang mana yang judul merknya. Saya beli di toko outdoor yang menjual segala kebutuhan pencinta alam dari tas, senter, kompas, helm, sleeping bag, dsb. Lokasi tokonya di seberang jalan pintu utama masuk Pasar Mayestik.

5. Daybag besar

Untuk emak-emak traveling dengan anak, bawa atau pakailah tas tangan besar. Tidak perlu berbentuk tas pundak, bisa juga berbentuk ransel atau bahkan diaper bag. Yang penting ukurannya cukup besar untuk memuat kebutuhan anak seperti baju ganti, gendongan, susu, makanan, peralatan makan, tisu basah dan kering, perlak dan popok.

Yang ada difoto ini adalah diaper bag merk Oioi. Dalam kehidupan saya sebagai emak, saya pakai tiga tas diaper. Ini satu-satunya yang saya beli sendiri, sedangkan yang 2 lagi adalah hadiah. Saya beli di toko online yang berbasis di Inggris, tentunya dengan harga diskon juga. Sampai ke Jakarta dibawakan oleh adik yang tinggal di Eropa waktu dia pulang mudik.

6. Koper anak

Walau ingin anak saya punya koper sendiri tapi alasan utama saya membeli koper no 6 adalah bentuknya yang lucu. Raissa sudah diajarkan untuk bertanggungjawab penuh dengan koper mirip macan yang saat traveling diisi antara lain dengan mainan, buku, kertas polos, dan peralatan menggambar. Saya juga memasukkan 1 stel pakaian ganti dan baju hangat disini. Dalam pikiran saya, kalau anaknya sampai terpisah (amit-amit jangan sampai!!!) setidaknya dia punya cadangan baju untuk berganti dan sweater untuk melindungi dari udara dingin.

Oiya, koper yang punya nama Tippu ini bisa ditunggangi dan dijadikan tempat duduk loh. Sehingga lumayan membantu saat menghadapi antrian panjang di bandara.

Koper ini saya beli di toko online yang berbasis di Jakarta tapi barangnya sendiri bisa ditemukan di banyak toko bayi dan anak.

Selain keenam koper dan tas di foto, kami masih punya beberapa ransel dan koper cabin lagi sebagai cadangan kalau saya dan suami harus pergi sendiri-sendiri di waktu bersamaan. Dan saat berpergian tentunya kami tidak selalu membawa semua koper dan tas yang dimiliki. Berapa jumlah koper dan tas yang dibawa tergantung pada berapa lama dan moda transportasi yang digunakan. Lebih sering kami membawa 1 koper besar banget, 1 koper cabin oranye, 1 diaper bag, dan 1 koper anak untuk perjalanan seminggu. Satu-satunya kesempatan membawa semua tas difoto waktu berlibur ke Eropa selama 2 minggu. Saat itu manajemen bagasinya adalah koper besar banget dan koper tanggung sebagai checked-in baggage, koper oranye yang kadang ke bagasi, kadang masuk kabin terutama saat kami menggunakan low-cost carrier, dan sisanya semua masuk kabin. Kris membawa backpack hitam yang dijejali oleh dokumen perjalanan, baju ganti untuk saya dan dia, makanan dan minuman, dan kamera. Sedangkan saya membawa diaper bag dan Raissa menggeret Tippu.

Teorinya Papa Kris membawa ransel dan tas kamera, saya membawa diaper bag. Kenyataannya Papa Kris yang membawa semuanya!

Seperti yang saya bilang diatas, koleksi koper dan tas saya sudah berumur tahunan. Modelnya sudah kuno. Semua koper-koper saya beroda 2 (kecuali Tippu tentunya), padahal sekarang kebanyakan koper beroda 4. Jadi dibawanya tidak perlu ditarik kedepan dengan posisi agak miring, melainkan bisa didorong dengan posisi berdiri tegak. Saran saya, kalau mau beli koper baru, belilah yang punya 4 roda ini. Manuvernya lebih mudah dan tidak mudah terjungkal kalau diberdirikan tanpa menyender.

Selamat berburu koper untuk jalan-jalan, Mama.

Bila Anda hendak memberi komentar atau pertanyaan, mohon centang “notify me of follow up comments via email” supaya Anda tahu ketika kami membalas. Terima kasih.

About these ads

About olenkapriyadarsani

I have nomad toes. They are itchy if I stay at home.
This entry was posted in Featured stories, Traveling dengan Anak-Anak and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Traveling dengan Anak-Anak Part 9: Koper, Tas, atau Ransel?

  1. nuril says:

    mantep mba.. saya juga ngidam deuter lite yang 40+10 ituh, nunggu punya duit :malu

  2. Ummu says:

    aku juga suka bgd mba travelling.. huuu, tapi lagi hamil gede bgni, ga bs kemana mana deeh. heheheh, boleh tuh kalo boleh tas bayinya satu… kwkwkwkwkwk *just kidding mba*

    • olenkapriyadarsani says:

      waktu hamil aku travelling mulai dari hamil muda ampe 9 bulan kok. Tapi terakhir ke luar negeri waktu hamil 7 bulan. coba baca di sini ya. oh ya kalo mau tasnya beneran aku mau kirim kok

  3. pipi says:

    Mau dong tas bayinya :)

  4. gishelle says:

    Rencana mau ke singapur bawa baby 13bln n saya hamil 7 bulan,,, hmmm,, terbantu bgt baca blog ini.. Thankiuuu so much..

    • puputaryanto says:

      makasih mbak…kebetulan minggu ini kami juga mau nulis khusus traveling dengan anak-anak: singapura dan rekomendasi objek wisatanya. tunggu ya

  5. Wahyu says:

    Wah…mau dunk tas babynya..:-).
    Saya juga suka jalan, tapi banyakan masih di Indonesia. Pas hamil masih disempetin jalan, pas 6 bulan ke Meulaboh, Medan, Padang.
    Ada rencana mo mulai ajak babyku jalan agak jauh juga. Babyku dah mo 9 bulan. Jalan yang deket aza dah rempong, apalagi kl jalan jauh yaa.he..he..
    Tapi baca2 tulisan2 di blog ini, jadi semangat juga ajak jalan my baby.
    Makasih ya atas tips2 jalan2 with baby and children.
    Seru, rempong, menegangkan tapi asyik juga yaa..he..he..
    Keep writing yaa..love your blog :-)

    • olenkapriyadarsani says:

      Makasih mbak. Terus semangat ya….mumpung masih di bawah 1 th, ntar kalo udah lari-lari tambah repot lagi lho

  6. Belum lama ini saya juga habis beli koper merk AT, dapat harga murah (kata sih mbaknya yang jaga)
    Harga normalnya 1 jutaan, pas itu 800 sekian hampir (900,000)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s