Traveling dengan Anak-Anak Part 7: MPASI — Makanan bayi/balita saat jalan-jalan


Terus terang saya kurang suka dengan akronim-akronim seperti ini, saya lebih suka menyebutnya makanan bayi/balita. Toh sama-sama makanan juga kan? Sebelum baca lebih lanjut saya mau pesan, untuk masalah traveling boleh deh ikutin saran saya, tapi untuk masalah parenting jangan deh!

Kebetulan anak saya si Oliq adalah seorang picky eater yang makannya susah dengan nafsu makan sangat sulit ditebak. Saya akan berbagi pengalaman saja bagaimana menyiapkan makanan untuk anak bayi ketika bepergian.

Perjalanan jauh Oliq setelah lulus ASI eksklusif adalah ke Australia. Saat itu usianya masih 6 bulan lebih sedikit, dengan nafsu makan yang masih cukup oke. Waktu itu saya masih jadi bunda (sok) idealis yang berkeras untuk menyediakan makanan rumahan (sejak Oliq 10 bulan saya leren jadi idealis karena kalau ketat banget bisa-bisa anak saya nggak makan sama sekali).

Nah, terbang ke Australia dengan AirAsia yang menerapkan kebijakan no outside food mungkin bikin bingung. Saya sempat melakukan twitwar dengan admin twitternya yang menyatakan bahwa bawa makanan sendiri tidak boleh, bahkan makanan bayi sekalipun. Sampai saya sempat bilang semacam “Emangnya anak bayi mau dikasih nasi lemak?” Sebenarnya kalau teliti ada klausul dalam kebijakan maskapai yang mengizinkan makanan bayi dan susu formula dalam jumlah yang wajar. Dan melalui livechat, customer service AA pun menegaskan bahwa membawa makanan bayi diperbolehkan. Akhirnya si admin twitter minta maaf. Sekian cerita kali ini. Eh, enggak dink….

Akhirnya saya berbekal pisang dan bubur beras merah berangkat dengan langkah pasti. Ketika transit di Kuala Lumpur, pisang jadi andalan. Kebetulan si anak makannya lahap.

Dalam penerbangan Kuala Lumpur-Melbourne, Oliq kelihatan gelisah. Bapaknya bersikeras bahwa itu ngantuk saja, saya pikir karena dia lapar. Akhirnya bubur beras merah dingin dia makan dengan lahap.

Makan di udara!

Di Melbourne karena tinggal di rumah teman, gampang saja. Saya hanya membawa bahan mentah berupa tepung beras merah. Panci dan peralatan masak sudah tersedia. Ketika di Sydney, Oliq hanya makan pisang yang di 7eleven harganya AUD 2 dua biji!!!

Liburan jauh berikutnya adalah ke Manado ketika Oliq 8 bulan. Ini juga saya sudah agak-agak tidak idealis lagi, soalnya anaknya juga tidak mau lagi makan gasol-gasolan. Akhirnya senjata saya adalah abon. Dan kebetulan di hotel-hotel di Indonesia hampir selalu menyediakan bubur untuk sarapan. Jadi antara nasi, bubur, dan bubur Manado jadi menu Oliq selama beberapa hari.

Di Kuala Lumpur pun tidak jadi masalah. Kebetulan karena kebaikan hati kantornya Puput, kami selalu tinggal di hotel bintang 4 ke atas untuk business trip. Jadi, ada pilihan bubur juga nasi lemak. Nah pas ke KL ini Oliq udah sangat suka dengan nasi uduk, jadi nasi lemak pun dia doyan.

Waktu berangkat ke Arab Oliq lagi suka bubur kasar dengan kuah sayur, seperti rawon, soto, opor, gule. Jadilah saya membawa bumbu-bumbu instan untuk kuah buburnya. Sementara itu saya juga membawa beras putih dan senjata andalan lain yaitu bawang goreng! Pagi-pagi sebelum Subuh, saya sudah bikin bubur/nasi lembek dengan kompor listrik. Biasanya bubur bisa dipakai untuk 3x makan sekaligus. Jadi ke mana-mana saya bawa bubur yang sudah dibagi dalam 3 tempat, serta kuah yang dimasukkan dalam botol air mineral (saya ga percaya lock n lock atau tupperware bisa bertahan dalam goncangan punggung unta!).

Bepergian di Indonesia dengan anak yang masih bayi cukup aman karena tukang bubur ada di mana-mana. Waktu ke Garut Oliq lahap banget makan nasi liwet lauk tahu tempe.

Berikut barang bawaan menyangkut makanan anak yang perlu dibawa (jangan ragu-ragu untuk tidak mengikuti ya bun!):

1. Kompor listrik

2. Panci (2 buah, 1 untuk nasi, 1 untuk sayur)

3. Bahan mentah (misalnya: beras, tepung beras, tepung gasol)

4. Buah (misalnya pisang, apel, dll)

5. Pembuat makanan bayi (yg bisa untuk serut, tumbuk, parut)

6. Mangkok

7. Beberapa sendok, terutama bagi para bayi yang suka melempar sendok

8. Wadah-wadah kecil

9. Tempat yg bisa menampung zat cair (hihihi!)

10. Bib, atau celemek, atau orang Jawa bilang tadah iler

11. Kursi makan (Oliq hanya tahan pakai kursi makan 1 bulanan, selanjutnya lebih milih makan sambil mainan panci di dapur)

12. Lain-lain, tergantng selera putra-putri Anda

Oh ya, kalau ada yang anaknya susah makan dokternya Oliq oke lho, ahli alergi namanya dr Widodo Judarwanto, prakteknya di Bendungan Asahan Benhil. Kudu booking dulu soalnya pasiennya seabrek-abrek.

Nah, para bunda dan panda, motto hari ini adalah: Jadilah orangtua yang lebih baik daripada saya!

Sekian dan wasalam.

—————————————

Lala dengan Raissa dan Fiamma

Idem dengan pernyataan Olen. Kalau tanya tentang kelayapan, boleh tanya ke saya, tapi kalau tentang parenting, tanyakan ahlinya yang tentunya bukan saya. Walau begitu, jujur Olen lebih idealis dikiiittt dari saya soal makanan balita. Hahaha… Karena saya tidak pernah membawa peralatan masak kalau traveling. Kepikiran saja tidak.

Mungkin alasannya karena anak-anak saya kebetulan anak yang relatif mudah menerima makanan apa saja. Asal kan tidak pedas. Sedangkan batasan saya untuk makanan anak adalah tidak ada garam dan gula (dan tentu saja MSG) sampai umur 1 tahun. Lainnya silakan telan. Setelah umur 1 tahun anak-anak hanya saya batasi saja masukan garam dan gula nya sebisa mungkin. Sengaja saya garis bawahi sebisa mungkin nya, untuk menegaskan kalau tidak bisa saya juga tidak memaksakan.

Saat anak-anak masih berumur 6 bulan dan makanannya baru bubur buah, berpergian bukan masalah dan tidak repot menurut saya. Karena ketika waktu makanan saya cukup memesan jus buah polos tanpa gula, tanpa es dan tambahan lain seperti susu kental manis. Sebelum disuapkan ke anak, tinggal saya peras ASI untuk ditambahkan ke jus, beres. Selain jus buah, anak-anak juga biasa saya kasih buah potong yang lunak seperti pepaya, semangka, dan alpukat. Tinggal keruk dagingnya dan suapkan. Simpel.

Mulai agak ribet mungkin setelah anak makan bubur saring atau nasi tim atau setelah anak usia 7 bulan keatas. Liburan pertama Raissa ke Singapura ketika berusia 7.5 bulan, makanan andalan saat di perjalanan adalah makanan siap saji dalam botol yang banyak dijual di supermarket. Anaknya suka banget sama makanan botolan itu. Kalau dihidangkan bisa menghabiskannya kurang dari 10 menit.

Raissa makan pasta!

Tapi kemudahan dengan Raissa tidak berulang di adiknya, Fiamma. Ketika akan mudik lebaran, Fiamma yang sudah usia 8 bulan pun dibekali makanan botolan. Memang hanya mudik ke perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah saja, sehingga seharusnya bisa menyiapkan makanan rumahan. Tapi karena arus mudik lebaran macet nya bisa berjam-jam, jadi saya pun membekali diri dengan makanan botolan, yang sukses dilepeh oleh Fiamma. Anak kedua saya sungguh anti makanan botolan. Seujung sendok pun ga boleh lewat bibirnya.

Namun, Fiamma punya keunikan yang juga menjadi keuntungan buat saya. Walau suka makan bubur, Fiamma lebih suka makan-makanan yang tidak terlalu lembek. Kalau yang lain sedang makan nasi dengan lauk pauk, Fiamma suka minta nasi kami. Yang seharusnya sih masih terlalu keras ya buat anak-anak, tapi Fiamma doyan. Karena dia suka makan yang standarnya terlalu keras untuk bayi seumuran dia, saya sempat cemas takut dia sembelit. Untungnya anaknya baik-baik saja sampai sekarang. Sekalinya sembelit malah karena dia makan pisang.

Dengan kemudahan dan keunikan anak-anak saya, menyiapkan makanan saat berpergian hampir bukan masalah buat saya. Untuk Raissa, sejak dia berusia 1 tahun, dia sudah bisa makan hampir segala hidangan dengan lahap. Dari roti, cereal, pasta, kentang, bahkan escargot pun dia suka. Sedangkan Fiamma yang saat ini baru berusia 8.5 bulan, saat berpergian biasanya saya mencari restoran yang menghidangkan sop atau capcay. Saya akan meminta kokinya untuk memasaknya tanpa bumbu apapun. Dihidangkan dengan nasi, dan anaknya pun sudah mendapatkan gizi yang cukup dari sayuran dan daging. Biasanya 1 porsi hidangan restoran bisa buat 3x makan untuk Raissa dan Fiamma.

Kembali lagi ke prinsip saya saat berpergian yaitu berpikir simpel. Kalau sudah niat mau simpel, biasanya dapat aja jalan dan ide yang gampang untuk dijalankan.

About these ads

About olenkapriyadarsani

I have nomad toes. They are itchy if I stay at home.
This entry was posted in Featured stories. Bookmark the permalink.

16 Responses to Traveling dengan Anak-Anak Part 7: MPASI — Makanan bayi/balita saat jalan-jalan

  1. Dera says:

    Seruuuuu…! Aku juga termasuk tipe orang tua yang tidak pantang membawa anak kami untuk ikutan jalan-jalan saat dia masih bayi atau balita. Mungkin untuk melengkapi, bisa juga memberikan roti atau biskuit – bisa digigit atau dicampur air sebagai bubur tergantung sudah pandai mengunyah atau tidak. Kentang rebus yg dibuat sebagai mashed potato juga ok. Selamat berlibur…!

    • olenkapriyadarsani says:

      aduh mbak dera ketinggalan lama bgt. ini kami coba2 bikin seri traveling dgn anak2 ternyata banyak yg suka kalo ngeliat statistiknya. kenzo kapan dibawa jalan2 lagi?

  2. cynthia maharani says:

    eh gasol gasolan ki opo to?

  3. seerika says:

    Kalo gue seperti Lala, gak pernah bawa peralatan masak buat anak kalo lagi travel. Mungkin karena anak pertama praktek sistem BLW, makanannya bisa apa aja dan gak perlu dihalus2kan. Tinggal liat aja apa yang aman dimakan untuk di resto atau beli di warung. Biasanya sih selalu ada roti, buah atau salad yang bisa dibagi ke anak kalo lagi makan ke resto.

    Tapi perlu dicatat, praktek di atas agak sulit dilakukan kalo travelnya di Indonesia. Gak selalu di semua warung/resto jual buah segar atau jus segar tanpa gula. Gak selalu juga ada salad atau roti (bukan roti manis), sayur dan lauk di resto Indo cenderung terlalu asin dan berbumbu untuk anak bayi. Jadinya harus cari2 supermarket buat beli pisang, atau minta tolong sama restonya buat masakin telur dadar tanpa garam buat si anak.

    Begitu anak pertama 16 bulan udah bisa makan aja dengan sedikit bumbu, tinggal pilih aja menu2 yang gak pedas atau terlalu asin. Gampang blas kalo soal makanan, anaknya pun kebetulan jagoan makan.

    Anak kedua pilih spoon feeding tapi menu sih kurleb sama kaya BLW, lansung hajar bleh makan apa aja gak pake bubur2an atau pure2an. Nasi, pasta, roti, semua lansung masuk.

    Buat anak kedua ini setiap travel bawa makanan botolan seperti yang diceritakan Lala. Cukup praktis walopun bikin koper berat karena bawanya bisa sampe selusinan.

    • olenkapriyadarsani says:

      Bersyukurlah para ibu2 yang anaknya gampang makan….hiks

      • nanana says:

        Nice info bund…makasih sharingnya.anak susah makan bisa jadi karena moodnya masih labil. Saranku: Penuhilah rumah dengan makanan yang bervariasi, tapi usahakan bunda makan didekat anaknya. Pengalamanku anak2ku selalu tertarik dengan apa yang aku makan, hehe. Silakan dicoba,dan perhatikan perubahannya.

    • Lala says:

      toss Rika!
      Makannya di resto padang doooong Rik.. hidangan andalan ayam pop dan nasi, untuk bayi yg baru mulai makan minimal ada pisang. hihihi

  4. otty says:

    Ih ibu2 ini kok anaknya dikasih makan sembarangan, yang homemade dong! *lalu diblock sama admin* :D

    Gue termasuk santai untuk urusan makanan bayi selama pergi2, toh mikirnya itu kan sementara. Pokoknya usaha mesen yang bersih dari garam dan gula, kalo ternyata ditambahin sama yang bikin ya sudahlah manusia tak ada yang sempurna hahaha… Lagian kita juga pasti pilih2 bukan makanan jorok yang dikasih ke anak :)

    • olenkapriyadarsani says:

      iya Lala tuh emang gitu mbak…..klo anakku anakku selalu kukasih homemade made in home-nya ibu2 penjual nasi uduk *curhatan simbok galau pemilik picky eater yg anaknya cuma makan banyak kalo pake nasi uduk

      • Lala says:

        *toyor Olen*
        setuju Ty… gw jg mikirnya toh pas traveling ini cuma sementara kok.. gw secuek itu pun Alhamdulillah kayanya anak2 masih bisa makan makanan yg lumayan bergizi, lengkap dengan sayur+daging+carbo. Kalau minta sama resto untuk tidak menambahkan bumbu apapun dengan alasan untuk diberikan ke anak, mereka pun lebih sering menyanggupi.

  5. Pingback: backpackology

  6. nangher says:

    wah,,,kecil-kecil udah jalan-jalan kemana-mana nih!

  7. Astrid says:

    Waaa… senang bertemu ibu-ibu disini. Aku baru hamil, kaki udah gatel banget pengen jalan. Udah gelisah aja mikirin nanti kalo traveling sama bayi yang baru mulai makan gimana. Ternyata banyak cara menuju Roma :) Kalau masih full ASI malah lebih gampang kali ya, pabriknya dibawa kemana2 soalnya :D

    • olenkapriyadarsani says:

      Full asi paling gampang mbak, lagian kalo bayi masih kecil ga rewel juga. Kalo udah 1 tahun ke atas beda lagi. Oh ya di sini juga ada ceritaku jalan2 waktu hamil lho…monggo dibaca

      • Astrid says:

        langsung dibaca semua ceritanya :D

        tapi selama hamil memang sadar diri, dapetnya susah dan sempat flek + pendarahan. Jadi berusaha mengerem keinginan walopun nggak selalu berhasil. Terima kasih udah sharing ceritanya yaa… :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s