backpackology

Pack your backpack and travel with us to exotic Indonesia and beyond!


Leave a comment

Psikotraveling Part 2: Panik Membawa Anak Terbang?


Ketika memiliki bayi – terutama anak pertama – dan harus bepergian menggunakan pesawat terbang untuk pertama kali, wajar bila orangtua merasa khawatir, bisa jadi panik. Bahkan untuk penerbangan ke dua, ke tiga dan seterusnya pun kadang masih khawatir.

Apa sih yang dikhawatirkan? Tentu saja bila bayi menangis di dalam pesawat. Seperti yang pernah saya tulis di Traveling dengan Anak-Anak Part 1: Terbang Yuk Nak! kalau naik mobil gampang saja minta berhenti dan keluar dulu untuk menenangkan bayi, lha kalau naik pesawat apa mau minta pilot berhenti dulu?

Kekhawatiran orangtua tidak hanya berpusat pada bayinya sendiri, melainkan reaksi para penumpang sekitarnya ketika si bayi menangis. Pengalaman saya beberapa kali, bahkan banyak dari mereka yang melemparkan “dirty look” ketika melihat ada bayi di sekitar tempat duduk mereka. Banyak yang sudah berprasangka buruk, “Wah bakal berisik, nih!” Padahal belum tentu. Pengalaman saya terbang dengan anak saya, hanya sekali dua kali dia rewel (Manado-Jakarta, Jogja-Jakarta, dan dalam penerbangan Jakarta-Jeddah), itupun tidak terus menerus. Selebihnya lancar, tenang, dan damai.

Sekar, kawan sekaligus seorang psikolog, menuturkan pengalamannya terbang bersama Daniel di bawah ini:

Traveling with my small family, by that I mean: Traveling with my baby.

Setelah 9 kali perjalanan dengan pesawat, akhirnya kami mendapatkan pencerahan tentang bagaimana membuat bayi kami bahagia saat perjalanan dengan pesawat terbang. That’s all matter, isn’t it?

Percobaan pertama kami adalah perjalanan Semarang – Jakarta. Sebulan sebelum perjalanan itu dimulai, saya sudah mencari informasi tentang bagaimana membuat bayi merasa nyaman dipesawat. Ok, nyaman dalam arti tidur. Tidur berarti orang tua merasa nyaman, tenang dan tentu saja penumpang lain tidak terganggu.

Ah, ternyata caranya adalah sebelum berangkat, bayi harus aktif bergerak supaya capek, lalu dipesawat tinggal menyusu, dan tidur deh. Seems simple, heh.

Daniel duduk manis di bassinet

Daniel duduk manis di bassinet

Yeah! Simple but not for my nerves.

Perjalanan pertama ini memang memberikan ketegangan tersendiri bagi saya. Alih-alih merasa tenang, eh malah tegang gak karuan dengan pikiran “kalau…kalau…” seribu kalau untuk mengantisipasi supaya anak saya gak nangis dan tidak menganggu penumpang lain.

Proses emosi ini malah ditangkap dengan suksesnya oleh anak saya.

Bukan tenang, malah makin rewel aja dia… Rewel gak mau menyusu. Maunya lihat-lihat semua orang. Padahal kan, tipsnya: susuin sewaktu take off dan landing. Yah… ini kenapa anak saya gak mau? Paniklah saya… Saya agak paksa supaya mau minum, makin gak mau… Saya juga makin bingung karena dia masih nyusu langsung… jadi udah ribet sama bayi, ribet juga merhatiin pakaian supaya gak kebuka-buka kan?

Ya sudahlah, mau diapain aja, ya rewel…

Akhirnya saya dan papanya nyanyi-nyanyi buat nenangin dia… Ohhh, it works ! Dia jadi tenang dan mau minum…Jangan ditanya berapa liter keringet sudah mengucur dari dahi saya.

Akhirnya perjalanan tersebut berakhir dengan baik. Penumpang lain tidak terganggu.

Perjalanan sukses ini belum dibarengi dengan pencerahan tentang “Bagaimana sebaiknya menata emosi saya sebagai ibu yang bawa bayi terbang”

Kali ke 2, kali 3, kali ke 5 perjalanan Sidney – Melbourne…

Bayinya sudah lumayan terbiasa, saya yang masih tegang aja… Untungnya saya sudah mengatasi salah satu masalah terbesar, yaitu bagaimana bisa menyusui gak pakai ponco asi tetapi kulit badan gak terlihat kemana-mana #yakali. Anak saya gak suka pakai ponco asi, pengap. Teriak-teriak kalau ditutupin ponco.

Akhirnya saya pakai tanktop yang talinya saya lipet – masukin ke dada, jadi seperti model tanktop gak pakai tali, sebagai daleman dari baju yang saya pakai. Kalau mau nyusuin, tinggal plorotin aja tanktopnya yang pas payudara yang mau diminum, kaos yang saya pakai, saya buka dikit. Beres ! Kulit badan gak kelihatan, puting juga gak kelihatan… Ini sudah memberikan rasa rileks lebih besar dari sebelumnya.

Persoalan kedua… bagaimana caranya dia mau minum dipesawat ? Awal di pesawat, rewellah dia…. Mendadak, saya mendapat pencerahan!! Susu bukan jawaban atas semuanya. Bodohnya saya. Saya selalu merasa bahwa susu itu jawaban atas semuanya. Kasih susu, beres. Tidur. Saya tahan-tahan kalau dia mau minta minum sebelum boarding, supaya nanti mau minum banyak. Salah banget buat anak saya.

Finally!! I got the answer. Ya turuti aja kebutuhan dia…. Gak usah nunggu sampai didalam pesawat kalau anaknya mau minum sebelum boarding. Mau main-main ? Ya udah main-main aja… Saya taruh anak saya di bassinet, main-main dia disitu, lumayan bisa hemat energy setidaknya 15 menit. Pas take off, gak mau nyusu ? Ya udah gak papa… Tutupin aja kupingnya.

Daniel di bassinet

Daniel di bassinet

Ya… saya memang harus menyingkirkan keinginan dan ego saya untuk istirahat dan tidur di pesawat.Saya harus rela dan ikhlas bahwa saya memang hadir untuk memenuhi kebutuhan dia, bukan saling memenuhi kebutuhan.

Saya harus mengganti definisi : istirahat itu tidur.

Definisi baru saya adalah : istirahat itu bayi saya happy. Taking a rest is “my baby enjoys the ride”After all, Happy baby – happy mother and the other way around. So…. Hubungan antara ibu dan anak itu sangat unik dan spesifik.

Cara satu orang, belum tentu sama dengan orang lain. Yang pasti, definisi fun and enjoy di pesawat menjadi berbeda dari saat kita masih belum punya anak. Definisi inilah yang harus kita tata ulang, bersama dengan suami tentu saja.

Saat perjalanan Melbourne – Singapore (7 jam), it was a total FUN for us. Kami sudah siap emosi dan mental.

Bapak-bapak lagi baby-sitting

Bapak-bapak lagi baby-sitting

Kami bergantian menjaga Daniel. Saat saya mau makan dan istirahat, suami bawa Daniel jalan-jalan dan main-main. Ternyata…. disaat yang sama, saya lihat juga, bapak-bapak yang lain, melakukan hal serupa… Kocak sekali… seperti ada aba-aba… “Yak, sekarang saatnya ibu-ibu istirahat, bapak-bapak sama anak-anak..” Ya…terus mengelompoklah itu bapak-bapak, saling ngobrol sambil gendong bayi. Ibu-ibu istirahat, bengong, tidur atau makan. Lalu, selang sejam, gantian deh…kami, ibu-ibu yang jaga anak-anak dan saling ngobrol satu sama lain. Seru!

Setelah 9 kali perjalanan, kami bisa menikmati perjalanan didalam pesawat dengan FUN!

Petualangan berikutnya (Agustus) adalah perjalanan Singapore – Belanda = 12 jam didalam pesawat. Will it be FUN again ? We’ll see…  Have a great traveling with family…with baby!!  See ya…

Seperti penuturan Sekar, sama juga dengan pengalaman saya, ada beberapa hal yang yang bisa dicatat:

1. Orangtua jangan panik dulu. Kalau orangtua panik, bayi memiliki ikatan emosional, dia juga jadi tidak tenang.

2. Butuh waktu penyesuaian. Wajar kalau pertama kali terbang kemudian rewel, kalau sudah sering bayi makin terbiasa. Orangtua juga makin tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat bayi tenang.

3. Semakin besar bayi semakin terbiasa terbang, tapi sayangnya bukan berarti dia makin tenang. Bisa jadi rewel karena bosan, pengen jalan-jalan dll. Makin banyak maunya. Di sini orangtua juga harus makin kreatif. Bawa mainan kesukaan misalnya.

4. Bila terbang jarak jauh lebih baik ambil penerbangan malam, lumayanlah anak akan kebanyakan tidur, orangtua juga bisa istirahat.

5. Jangan dipaksakan. Turuti saja anak maunya apa. Orangtua ya harus ngalah.

Jadi papa mama, ayah bunda, ibu bapak, jangan panik kalau bawa bayi naik pesawat ya….

–> Si Sekar ini enak aja ngomong pake bassinet…dia naiknya SQ, aku naiknya AirAsia…Beda kelas Mbakyu!


Leave a comment

Candi Sojiwan, Sebuah Candi Unik yang Tersembunyi


Mungkin tak banyak yang pernah mendengar nama Candi Sojiwan, apalagi kalau ditanya letaknya di mana. Ya, Candi Sojiwan memang tak sepopuler Candi Prambanan, apalagi Candi Borobudur. Sebenarnya candi ini letaknya tak jauh dari Candi Prambanan, kalau jalan kaki mungkin hanya sekitar setengah jam, namun memang candi ini baru selesai dipugar pada tahun 2011, masih sangat baru dibanding candi-candi lainnya. Yang paling menarik adalah bentuk candi ini mirip Candi Prambanan, tinggi dengan bentukan seperti piramid diatasnya, namun bagian atasnya berupa stupa-stupa mirip yang ada di Candi Borobudur. Bisa dibilang candi ini seperti “perkawinan” antara Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Candi Sojiwan yang unik dan cantik

Candi Sojiwan yang unik dan cantik

Untuk mencapai candi ini sebenarnya cukup mudah, hanya saja lokasinya yang tersembunyi di balik perkampungan menjadikan candi ini tidak terlihat dari jalan raya. Dari arah Solo, persis sebelum batas propinsi DIY – Jawa Tengah yang terletak di depan Candi Prambanan, Anda bisa belok kiri. Jalannya beraspal dan sempit, namun masih cukup untuk mobil. Anda tinggal lurus terus hingga melewati rel kereta api, kemudian masih lurus terus (jangan belok kiri menyusuri rel kereta) hingga bertemu pertigaan berjalan aspal, lalu belok kiri. Anda akan menyusuri persawahan di sebelah kanan jalan dan perkampungan di kiri jalan. Kira-kira setelah 200 m akan terlihat bangunan Candi Sojiwan di kanan jalan.

Dari arah Jogja, lebih mudah jika Anda melewati Pasar Prambanan. Setelah bertemu pertigaan besar dengan lampu merah di depan Candi Prambanan, Anda tinggal belok kanan dan melewati Pasar Prambanan. Setelah lewat pasar, Anda akan melintasi rel kereta api, kemudian lurus terus hingga menemukan toko keramik besar di kiri jalan. Persis setelah toko keramik, Anda belok kiri memasuki jalan yang agak kecil namun tetap beraspal dan cukup untuk mobil. Anda tinggal lurus terus hingga mentok di pertigaan. Setelah mentok, Anda tinggal belok kiri. Di pertigaan ini ada petunjuk belok kanan kalau hendak ke Sumberwatu. Ingat, jangan belok kanan, tapi belok kiri. Anda tinggal lurus terus hingga menemukan pertigaan jalan aspal. Setelah bertemu pertigaan, Anda tinggal belok kanan dan menyusuri jalan ini hingga bertemu kompleks Candi Sojiwan di kanan jalan.

Candi Sojiwan terletak di Kabupaten Klaten, namun berbatasan dengan Kabupaten Sleman

Candi Sojiwan terletak di Kabupaten Klaten, namun berbatasan dengan Kabupaten Sleman

Candi ini terletak dalam kompleks yang cukup luas dengan taman yang asri dan terpelihara rapi. Ternyata memang kompleks ini baru diresmikan setelah dipugar ulang pada bulan Desember 2011 oleh Mendikbud Mohammad Nuh. Awalnya candi ini hanya berupa bangunan setengah jadi  yang terlihat seperti tumpukan batu saja. Mulai tahun 1996, candi ini direkonstruksi, namun malah runtuh gara-gara gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sekitaranya pada bulan Mei 2006. Setelah gempa, candi ini dibongkar ulang untuk kembali direkonstruksi hingga berbentuk seperti sekarang. Kompleks candi ini terletak di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Untuk memasuki candi ini, Anda cukup mengisi buku tamu dan membayar seikhlasnya. Saran saya, bayarlah paling tidak 5000 per orang seperti tarif masuk candi-candi lainnya.

Candi Sojiwan adalah monumen dari jaman Dinasti Mataram Kuno abad VIII – X yang dibangun oleh Raja Balitung sebagai bentuk penghormatan untuk neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Budha. Relief di kaki Candi Sojiwan memuat ajaran moral agama Budha dalam bentuk cerita binatang atau fabel. Di antara relief ini ada relief yang menggambarkan seekor kera yang menyiasati buaya sehingga bisa menyeberang sungai, mungkin mirip dengan cerita kancil yang kita kenal. Ada juga relief yang menggambarkan perlombaan antara garuda dan kura-kura.

Candi Perwara Stupa dan tumpukan batu-batu yang belum bisa direkonstruksi di kompleks Candi Sojiwan

Candi Perwara Stupa dan tumpukan batu-batu yang belum bisa direkonstruksi di kompleks Candi Sojiwan

Di sebelah bangunan utama Candi Sojiwan terdapat dua deret struktur Candi Perwara Stupa. Salah satu candi ini telah direkonstruksi dengan bentuk stupa yang lebih langsing dibanding stupa Candi Borobudur. Selain itu, stupa ini berbentuk padat, tidak berisi patung Budha seperti stupa Candi Borobudur. Ada pula struktur parit keliling di sekitar Candi Sojiwan. Pengunjung juga bisa menyaksikan tumpukan batu-batu purbakala yang belum bisa direkonstruksi.

Candi Sojiwan dan Stupa di dekatnya

Candi Sojiwan dan Stupa di dekatnya

Seperti dijelaskan di awal, Candi Sojiwan sendiri berbentuk unik dengan perpaduan bangunan Candi Prambanan dengan puncak Stupa Candi Borobudur. Candi ini cukup besar bila dibanding candi-candi lain di sekitar Candi Prambanan. Di depan candi ini terdapat bangunan seperti gapura yang umum terdapat di candi-candi lain. Di dalam candi ini hanya ada satu ruangan kosong, mungkin dulunya hanya digunakan untuk sembahyang dan menaruh sesaji. Kalau diperhatikan dengan seksama, banyak batu-batu candi yang masih baru menandakan banyak bagian candi yang merupakan hasil rekonstruksi. Namun hal ini justru mempercantik bangunan candi, tentu dengan tetap memperhatikan bentuk aslinya karena rekonstruksi ini tentunya hasil studi para ahli di bidang arkeologi.

Taman yang indah dan asri di kompleks Candi Sojiwan

Taman yang indah dan asri di kompleks Candi Sojiwan

Menurut saya, kompleks candi ini cukup cantik karena tamannya rapi dan bersih, melengkapi bangunan candi yang unik. Selain itu, candi ini sendiri diapit sawah-sawah sehingga menambah keasrian lingkungan sekitarnya. Cocok sebagai obyek fotografi maupun lokasi foto prewedding dan foto model. Apalagi candi ini masih relatif sepi sehingga Anda tidak banyak terganggu pengunjung lain. Jadi, jangan lupa sempatkan mengagumi candi unik ini jika berkunjung ke Yogyakarta.


Leave a comment

Mengejar Senja di Ujung Genteng (Republika Online, 15 Juni 2013)


Sebenarnya sudah lama saya berniat pergi ke Ujung Genteng, namun baru terwujud akhir pekan lalu. Wilayah di ujung selatan Kabupaten Sukabumi ini memang terkenal akan keindahan pantainya.

Selain itu, Ujung Genteng juga menjadi kawasan konservasi penyu yang sangat terkenal. Kali ini niat utama saya adalah mengejar pemandangan matahari tenggelam. Read more

Senja di Ujung Genteng


9 Comments

Pok Tunggal, Menelusuri Pantai Baru di Jogja


Kesibukan kuliah yang padat di akhir semester ini membuat saya dan teman-teman kampus  sejenak ingin melepaskan kejenuhan akibat tugas kuliah yang menggunung. Kami sepakat untuk pergi ke pantai. Tujuan kami kali ini adalah pantai Pok Tunggal, pantai ini terletak di kabupaten Gunung Kidul dan memang masih terbilang baru dan menurut beberapa akun twitter wisata di Jogja, pantai ini memang cukup bagus dan rekomended untuk dikunjungi.

Dengan berbekal nasi padang, kami  bersepuluh berangkat dari kampus (Fisip UPN  Jogja) dengan berboncengan motor pukul 8.30 WIB, dengan harapan perjalanan tidak akan sampai 2 jam. Perjalanan adem anyem saja sampai tiba di pintu loket kawasan pantai karst gunung kidul. Perlu diketahui, pantai Pok Tunggal ini terletak di sebelah pantai Indrayanti (urutannya adalah pantai sundak – Indrayanti – Pok Tunggal). Sampai di kawasan Indrayanti ternyata terjadi kemacetan yang cukup panjang, segala macam kendaraan tumplek blek di situ mulai dari Bus, Mobil, Motor bahkan sepeda. Kendaraan-kendaraan tersebut sibuk mencari parkir untuk wisata di pantai Indrayanti, yang saat ini memang sedang ngeboom.

pantai Pok Tunggal

pantai Pok Tunggal

Continue Reading →


5 Comments

Culinary review : Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng


Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memang menyimpan banyak pesona wisata kuliner yang layak dijelajahi. Salah satu yang paling unik dan nyentrik adalah Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng. Tentu Anda penasaran, apa sih yang berbeda di warung yang satu ini? Selain letaknya yang bener-bener nylesep alias tersembunyi, pengunjung langsung dipersilahkan menuju pawon alias dapur untuk mengambil makanannya. Semua menu disajikan prasmanan di atas bale-bale bambu khas pawon ndeso. Masakannya pun diolah diatas tungku batu berbahan bakar kayu, dengan cara tradisional. Asyiknya lagi, pengunjung bebas mengambil porsi nasi yang diinginkan, sangat cocok bagi Anda yang gemar makan porsi kuli.

Pawon Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, benar-benar khas dapur ndeso yang klasik

Pawon Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, benar-benar khas dapur ndeso yang klasik

Continue Reading →


3 Comments

Accommodation Review: Turtle Beach Hotel – Ujung Genteng


Menurut kabar yang beredar di dunia maya, Turtle Beach Hotel yang berada di Ujung Genteng Sukabumi ini adalah satu-satunya akomodasi mewah di wilayah ini. Tarif yang dibanderol pun cukup tinggi yaitu Rp 700-800 ribu (lantai bawah) dan Rp 800-900 ribu (lantai atas) permalam. Harga ini bukan per kamar, melainkan per unit terdiri dari 2 kamar tidur dan sebuah ruang tamu. Karena mendadak dan kurang survei, dengan angapan bahwa Ujung Genteng akan penuh selama tanggal merah dan hari kejepit akhir pekan, akhirnya saya membooking hotel ini via sms.

Turtle Beach Hotel dari pantai

Turtle Beach Hotel dari pantai

Entah bagaimana, kesan saya terhadap Turtle Beach Hotel adalah seperti rusunawa (rumah susun sewa). Ada berbagai paradoks yang menurut saya tidak menguntungkan hotel ini.

Continue Reading →


1 Comment

Travel Light or Not? Berkemas a la Backpackologist


Saya baru saja berkemas untuk liburan akhir pekan panjang esok dan kepikiran untuk nulis tentang masalah packing ini. Sebenarnya saya dan Lala (guest blogger untuk seri Traveling dengan Anak-Anak) pernah menulis kiat-kiat Berkemas Ringkas Walau Bawa Balita. Kali ini, saya hanya menuliskan pengalaman saya packing secara umum saja.

Oliq the backpacker

Standar kami dulu sebelum punya Oliq adalah satu ransel di punggung Puput, satu ransel di punggung saya (berlaku juga waktu hamil 5 bulan saat ke India), tas kamera ransel di dada Puput, dan tas kamera cangklong di bahu saya. Kami memang bisa dikatakan penganut light travelling. Ranselnya juga ga gede-gede amat, maksimal yang 40 liter, itu sudah cukup untuk backpacking keliling Malaysia 2 minggu. Penampilan Puput persis kaya kura-kura yang lagi hamil besar!

Continue Reading →

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 210 other followers